
Mungkin tidur mas Nirwan terusik, dan dia pun juga terbangun.
" Loh sek kenapa kok bangun?"
" Nggak papa mas." Elak ku.
Nggak mungkin kan, aku jujur kalau kebangun gara - gara mimpiin mantan. Bisa - bisa dia marah besar. Untuk tetap menjaga perasaannya, aku tidak bilang apa yang sebenarnya membuat ku terbangun.
" Kok nangis?"
" Kaki ku sakit mas."
Memang kaki ku sangat sakit, seperti digigitin banyak semut, terus panas dan juga perih banget.
" Sini aku olesin salep lagi ya. Sakit banget ya?"
" Iya,"
" Duh maaf ya sek gara - gara aku, kamu jadi kaya begini."
" Aku juga yang nggak hati - hati mas."
" Besok kamu pulang aja ya?"
" Nggak mau. Masak berangkat kerja baru sehari sudah pulang, malu dong."
" Kan kaki mu sakit."
" Ya kan nggak papa masih bisa di pake kerja."
" Iya juga, kalau kamu pulang kita jadi nggak bisa ketemu."
" Kan ada cewek jemputan mu."
" Udah deh sek nggak usah mulai lagi. Nih sudah selesai disalepin. Tidur lagi ya."
" Iya."
Aku pun kembali tidur, kamar mas Nirwan terasa panas, nggak ada kipas angin juga, membuatku jadi susah tidur.
Aku pun melepas baju tidur, dan barulah aku bisa tidur.
Pagi harinya.
" Sek kamu pagi - pagi udah bikin aku tergoda saja." Kata mas Nirwan yang tangan nya sudah berpetualang kemana - mana.
Tidur nyenyak ku pun terusik karena kejahilan dia.
" Apaan sih mas, gangguin orang tidur aja."
" Salah siapa pagi - pagi bangun sudah nggak pake baju."
" Semalem panas mas, aku nggak bisa tidur."
" Kamu harus tanggung jawab udah bikin juniorku bangun."
" Nanti tunggu nyawaku kumpul dulu."
Ya aku memang masih setengah sadar, karena masih ngantuk banget.
" Kelamaan!"
Mas Nirwan langsung melancarkan aksinya, dan itu membuatku langsung sadar penuh.
" Ah mas, pelan - pelan, sakit." Teriak ku saat tangan mas Nirwan bermain di bawah sana dengan sedikit kasar.
" Ups maaf sek, terlalu bersemangat."
" Ya udah buruan masukin."
" Kenapa udah nggak tahan ya?"
" Biar cepet selesai, keburu siang kalau ketahuan Adi malu."
" Siap sayang."
" Aw, ah pelan mass, sakit."
" Katanya biar cepet. Sakit tapi nikmat."
__ADS_1
" Emhh, ah."
" Tahan, sebentar lagi samapai,"
" Emh."
" Ahhhhhhh, hufth. Olah raga pagi yang menyenangkan, dilanjut nanti malem ya sek?"
" hufh, baru juga bangun udah dibikin keringetan."
" Hehehe, maaf. Salahkan dirimu yang menggoda."
" Masnya aja yang mesum. Nggak bisa nahan."
" Ngomong nya gitu, tapi kalau lagi main situ juga menikmatinya."
" Tauk ah."
" Kamu lucu deh kalau lagi malu gitu, hahaha."
" Ya udah bangun yuk, mau ikut ke pasar nggak?"
" Mau banget, jajan ya?"
" Iya, ya udah yuk."
Aku segera bergegas mandi, dan ikut berbelanja ke pasar.
Aku paling senang jika mengunjungi tempat baru.
" Duh dah kaya pengantin baru, bangun - bangun mukanya seger banget." Goda Adi.
" Ya seger lah, kan habis mandi." Jawabku.
" Habis ngapain hayo?"
" Lha emang mandinya cuma kalau habis ngapa - ngapain ya?"
" Ya nggak juga sih."
" Nah itu tau."
" Aku mah nggak kaya kamu ya bos, udah di mainin tapi belum dinikahin." Jawab Adi yang membuatku langsung terdiam. Kata - kata Adi bagiku adalah sebuah tamparan yang keras.
Sebenarnya benar kata Adi, tapi semuanya sudah terlambat, jalan satu - satunya adalah aku harus mendesak mas Nirwan untuk segera menikah.
****
Sesampainya di pasar, aku mengikuti mas Nirwan berbelanja, membeli bahan dan yang lainya sesuai catatan yang dia buat sebelum berangkat tadi.
" Mas aku lapar."
" Ya udah kamu mau beli apa?"
" Nggak tau, udah selesai belanjanya kan?"
" Sudah."
" Ya udah makan di warung saja."
" Ya udah, mungkin juga Adi sudah masak nasi."
Berboncengan motor, memeluk mas Nirwan dari belakang, mencium bau tubuh mas Nirwan yang sudah bercampur dengan parfum itu adalah yang paling aku sukai.
" Mas?"
" Jadi nikah kan?"
" Jadi."
" Kapan?"
" Emang kamu sudah bilang sama ibuk bapak kalau mau nikah?"
" Belum."
" Ya bilang dulu, nanti kalau bapak sama ibuk kamu sudah setuju, biar mereka pilih harinya."
" Tapi nikahnya disana lho mas."
__ADS_1
" Iya nggak papa."
" Memang mas sudah siap?"
" Kalau akunya sudah siap sek, tapi yang lainya belum, kan perlu biaya juga, apa lagi nanti di sana nikahnya."
" Iya sih."
" Nunggu beberapa bulan lagi mau nggak?"
" Ya coba nanti aku bilang dulu sama ibuk."
" Oh iya kayaknya kamu nggak pernah nelpon ibuk?"
" Jarang mas, nanti kalau ibuk tau aku tinggal sama kamu, bisa marah dia."
Nggak terasa kita sudah sampai di warung. Dan menyiapkan segala sesuatunya, karena sebentar lagi warung sudah mau di buka.
" Bu bos, tadi hp mu bunyi terus, kayaknya ada yang nelpon deh." Kata Adi.
" Nggak kamu angkat Di?" tanya ku.
" Nggak lah, mana berani aku."
" Ya udah sebentar, aku mau cek dulu siapa yang menelpon."
Setelah aku cek, ternyata mbak Yani yang menelpon. Aku pun menelponnya balik.
" Assalamualaikum mbak."
" Waalaikumsalam."
" Maaf tadi aku lagi ke pasar mbak, ada apa mbak?"
" Oh, ya udah nggak papa. Cuma mau ngabarin kalau minggu depan aku mau nikah."
" Wih, selamat ya mbak, aku ikut seneng. Akhirnya lepas lajang juga. Semoga lancar sampai hari H ya mbak."
" Amin, oh iya kamu harus dateng ya?"
" Tapi mungkin aku bisa dateng nya pas ijab qobulnya mbak, soalnya aku kerja."
" Iya nggak papa, tapi harus dateng ya."
" Iya janji. Pasti datang."
" Jangan lupa sama Nirwan juga. Biar semua keluarga tau, dia calon mu. Hehehe."
" Ya nanti aku sampaikan mbak."
" Ya udah dulu ya, aku lagi sibuk nih."
" Iya mbak."
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Duh iri nya sebentar lagi mbak Yani nikah, aku jadi pengen. Semoga deh bisa cepet nikah juga.Kan aku nggak mau lama - lama begini. Bikin dosa terus. Tapi mau nahannya juga gimana, aku nggak bisa.
Sebenarnya bisa, tapi karena akunya yang nggak mau berusaha, karena terlalu takut ditinggalin mas Nirwan. Jadi sekarang karena sudah basah, ya njebur sekalian, semoga saja nggak tenggelam terlalu dalam. Agar bisa memperbaiki semuanya, dan memulai dari awal, yah memulai dari awal yang baik.
***
Selesai menelpon, aku balik ke depan untuk membantu mas Nirwan dan Adi. Ternyata mereka sudah selesai beres - beres dan warungnya pun sudah dibuka.
" Siapa sek?"
" Mbak Yani mas."
" Ada apa?"
" Dia ngabarin kalau minggu depan mau nikah, dan dia mengundang kamu juga."
" Lha kalian kapan?" Tanya Adi.
" Tauk tuh tanya mas Nirwan." Jawabku.
" Lagi di usahakan. Sabar ya sek." Jawab mas Nirwan.
__ADS_1