Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 14


__ADS_3

Ujian


Setibanya di sekolah,


" Gimana kalian deg degan gak?" tanya Aisyah, sambil berjalan menghampiri kita yang lagi duduk di bawah pohon depan kelas.


" Iya nih, deg degan kaya mau ketemu pacar ," jawab ku sambil terkekeh.


" Nanti soal nya gimana ya, susah gak ya?" tanya mbak Okta.


" Sebenarnya sih gak susah. Kalau kita bisa mengerjakannya," jawab mbak Yani.


" Otak kalian mah encer. Jadi pasti bisa di jawab dengan mudah. Lha aku? paling yang bisa aku jawab cuma sebagian, yang sebagian lagi cap cip cup. Mengandalkan keberuntungan." Kataku yang berhasil membuat mereka terkekeh.


" Udah jangan gitu dong. Semangat, pasti kita bisa. " Kata Aisyah.


Gimana bisa konsentrasi, kalau pikirannya terbagi - terbagi. Kalau ini sih bukan satu hati dua cinta. Tapi satu kepala, banyak beban dan pikiran. Heh kan lebih pusing dari pada ngitung rumus matematika. Untung aja kepala ku kaya kantung doraemon. Walaupun isinya banyak tetep muat, kepalanya masih bagus, nggak tambah membesar. Coba aja bisa di bagi - bagi kaya roti. Kan rada enak ni kepala, isi nya berkurang. Mungkin otak nya jadi bisa seencer mereka. Huh, harus semangat Ayu, yang penting usaha aja dulu. Yang lain dipikir nanti nyusul. Fokus dulu sama ujian.


" Ayu !!" panggil mbak Yani.


" Ehh iya mbak, " jawab ku kaget.


" Itu belnya udah bunyi. Kamu dari tadi dipanggil - panggil gak nyaut, ayo masuk kelas. Bengong nya di lanjut nanti lagi, " kata mbak Yani.


" iya iya iya mbak." Jawab ku, aku segera bergegas mengikuti mbak Yani.


Kemudian kita masuk kelas, duduk di tempat duduk masing - masing sesuai nomor dan nama yang sudah ter tempel di meja.Tidak seperti jam pelajaran biasa. Saat ujian suasananya lebih tenang, hening, tidak ada yang berisik, jadi memudah kan untuk berkonsentrasi penuh.


Satu persatu kolom jawaban di lembar ujian sudah terisi. Untungnya aku bisa fokus, walaupun sedih di hati masih sangat terasa. Tetapi otak masih bisa di ajak kompromi. Ada beberapa soal yang menurutku sulit. Cukup diisi dengan asal saja, hehehe.


***


Setelah ujian usai, kami tidak langsung pulang. Kami memilih mengobrol dulu di taman sekolah, sambil istirahat.


" Gimana tadi soal nya, menurut kalian? " kata Aisyah membuka obrolan.

__ADS_1


" Lumayan," jawab mbak Yani singkat.


" Ada beberapa yang susah," imbuh mbak Okta.


" Kamu tadi coba keberuntungan pake apa Yu. Penghapus atau kancing baju.? Tanya Aisyah.


" Tau aja kamu Syah. Tapi aku nggak pake dua- duanya. Tadi aku pakai metode baru." Jawab ku.


" Wih canggih. Pake metode segala, emang metode apa? " tanya Aisyah penasaran.


" Metode pengawuran, hahaha," jawab ku sambil tertawa. Membuat yang lain, hanya tersenyum kecut.


" Nanti aku akan menginap dirumah mu Yu, tenang aja gak usah sedih.Nanti aku temenin, "


kata mbak Yani.


Karena mbak Yani saudara aku jadi sekarang dia tau kondisi keluarga ku.


" He'em, makasih mbak, " jawabku singkat.


Kata - kata mbak Yani barusan mengingatkan aku, bahwa hari ini ibuk sudah tidak ada dirumah.


" Kok bapak kamu tega banget sih Yu. Aku gak bisa bayangin deh perasaan ibuk kamu gimana, suaminya memadu kasih dengan perempuan lain." Kata Aisyah.


" Iya. Pasti sakit banget ya? kok bapak kamu nggak mikir sih, kalau mama kamu suruh nyusul ke sana, bagaimana dengan kamu disini? " imbuh mbak Okta.


" Nggak tau juga mbak, aku juga tidak menganggap ini keegoisan mereka. Biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka dengan cara yang mereka anggap benar. Jika ini pengorbanan yang harus aku bayar, aku rela yang penting mereka bahagia, " jawab ku.


" Ya memang benar ini masalah mereka, seharusnya mereka juga berfikir dong. Akibat dari ulah mereka, siapa yang terkena imbas nya. " kata mbak Yani.


" Biarlah mbak, aku bisa apa? mereka juga tidak akan mendengarkan pendapat ku. Aku masih anak kecil yang belum mengerti apa - apa, begitulah aku dimata mereka." Kataku.


" Memang rumit ya masalah rumah tangga? Terus kamu gimana Ay?" tanya Aisyah.


" Ay ? " tanya mbak Okta dan mbak Yani.

__ADS_1


" Iya Ayu. Kayak nya lebih bagusan di panggil Ay deh, dari pada Yu, " jawab Aisyah.


" Aku di urus simbah. Aku belum bisa masak, karena selama ini ibuk yang ngurus semua keperluan ku. Aku terlalu bergantung padanya. Kalau aku tau ibuk akan pergi, dari dulu aku belajar masak, " kata ku sambil tertunduk lesu.


" Memang apa yang terjadi di depan, itu rahasia Tuhan. kita tidak ada yang tau. Kalau kita tau apa yang akan terjadi ke depan, kurasa tidak akan ada yang namanya penyesalan," kata mbak Okta


" Ya Ta kamu benar. Apa yang terjadi padamu, itu sudah skenario dari Tuhan. Tinggal kamu yang menjalaninya gimana. Siap tidak siap memang inilah kenyataan. " Imbuh mbak Yani.


" Kuncinya hanya sabar dan ikhlas. Aku tau kamu kuat. Masalah masak kamu bisa belajar pelan - pelan kan? Ya itung - itung belajar mandiri. Tetep semangat ya Ay. Kita semua ada untuk mu. Jika butuh bantuan, kalau kami bisa bantu, pasti kami bantu." Kata Aisyah.


" Terimakasih kalian semua," kata ku sambil menangis. Aku terharu dengan persahabatan ini, mereka begitu baik pada ku.


***


Dirasa sudah cukup mengobrol, kita pun memutuskan untuk pulang. Karena hari sudah semakin siang dan terik matahari sudah sangat menyengat.


Sesampainya dirumah.


" Assalamualaikum," salam ku.


Ku tunggu - tunggu tak ada suara nyaring yang membalas salamku.


Oh iya aku lupa, kan dirumah nggak ada siapa-siapa, ibuk sudah pergi. Sepi banget rumah kalau nggak ada ibuk.


Aku masuk langsung masuk ke kamar.


Biasanya kalau lagi pulang dan masuk rumah gini aku langsung di sambut ibuk. Kalau tidak aku akan mencarinya sambil teriak - teriak.


Dimeja belajar ada satu pak biskuit kesukaan aku. Pasti ibuk yang meninggalkannya untuk ku. Aku ambil biskuit itu. Kupeluk dan ya, pecah sudah tangis ku.


Buk, kamu dimana sekarang? aku merindukan mu. Baru beberapa jam yang lalu kamu pergi meninggal kan ku. Tapi aku sudah sangat rindu. Cepatlah kembali buk, aku tak bisa tanpa mu.


Memang tidak mudah bagiku menjalani hidup ini tanpa ibuk di sisiku.


Ya memang aku cengeng, karena sudah terbiasa bergantung dan apa - apa ibuk, ditinggal mendadak seperti ini bukan hal yang mudah bagiku. Apa lagi sebelumnya memang aku tidak pernah ditinggal jauh ibuk.

__ADS_1


Aku butuh waktu untuk membiasakan hidup tanpa ibuk.


Biarlah aku cengeng, sering nangis, karena ini merupakan proses ku, sebelum aku beradaptasi dan terbiasa dengan kesendirianku.


__ADS_2