Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 26


__ADS_3

**Sekolahan baru**


Hari ini aku diajak bapak ke sekolahan baru ku. Sekolahan nya bagus, lebih besar dari sekolahan ku yang dulu.


Ibu kepala sekolah nya menyambut ramah kedatangan ku. Ibu kepala sekolah menyuruhku memilih 1 dari 4 kelas yang ada. Karena muridnya banyak, Kelas 9 dibagi menjadi 4 ruangan, 9-A, 9-B, 9-C, 9-D. Aku memilih kelas 9-D. Aku menempati kelas yang sama dengan Rudi kakak sepupu ku, ya aku dan dia seumuran. Aku biasa memanggil nya cak.


Awal masuk sekolah.


Aku belum mendapat seragam baru, jadi masih memakai seragam dari sekolahan yang lama.


Yah karena berbeda dari yang lain jadi terlihat lebih mencolok.


Bahkan satu sekolahan tau. Setiap kali upacara atau senam bersama, semua mata tertuju pada ku. ( Rasa nya itu antara malu dan senang, jadi pusat perhatian serasa kek artis dadakan, hehehe. Padahal muka pas pasan.)


Disini murid nya lebih banyak 3 kali lipat dari sekolahan ku dulu. Yah bisa di bilang ini sekolah favorit disini, sudah terakreditasi.

__ADS_1


Saat di kelas aku memperkenalkan diri, mereka menyambut ku ramah. Aku pikir semuanya akan baik pada ku, dan menerima ku.


Tapi semuanya mulai berubah saat hari demi hari berlalu. Banyak yang membenciku karena katanya aku lebih di sukai para Guru. Menurut ku sih biasa saja.


Di kelas para cewek saat istirahat sibuk bersolek merias diri bahkan di tas mereka isinya alat make up.( Luar biasa nggak sih? kalau pulpen nya habis, bisa tuh nulisnya pake lipstik,hehehe.) Ya walaupun nggak semua cewek - cewek nya begitu sih.


Saat ada guru mengajar pun mereka ada yang tidur, ada yang bermain ponsel. Yang lebih parah saat ada guru yang tidak mereka sukai, apa lagi guru nya itu yang sudah tidak muda, mereka bisa terang - terangan ngan ngebantah saat di kasih tugas, ngobrol saat guru menjelaskan, bahkan ada yang nggak mau nulis, malah sibuk main ponsel.


Wow benar - benar beda 180 derajat dengan sekolahan ku dulu, walaupun sekolahan ku dulu kecil tapi mereka menghormati guru meskipun itu tua atau muda. Tidak ada yang bermain ponsel, atau bahkan berani ngebantah guru. Mereka juga sangat berbeda dengan para sahabat ku, yang tidak gemar bersolek. Tidak membedakan teman dari segi apapun. Dari dua lingkungan ini aku bisa belajar banyak hal.


Aku yang paling berbeda dari semuanya. Aku diam dan mendengarkan saat ada guru yang sedang mengajar dan menjelaskan. Mengerjakan tugas yang diberikan. Aku anteng saat jam pelajaran. Aku nggak make up, wajah ku polos tanpa bedak maupun lipstik. Aku memang sudah terbiasa dengan perilaku ku yang seperti itu, aku juga tidak ingin merubahnya, dengan begini aku belajar menjadi siswa yang teladan. Meskipun tidak berprestasi setidaknya tidak meninggalkan kesan yang buruk. Mungkin karena itu ada sebagin guru yang menyukai ku, itu membuat mereka iri dan membuat mereka semakin membenciku.


Karena rasa iri itu, sebagian teman cewek di kelas ku membully ku. Bahkan ada dari kelas yang lain juga. Dari sekedar mencaci maki, menjauhi, menjahili, bahkan ngumpetin sepatu.


Begitu susah mendapatkan teman disini karena jika ada yang dekat dengan ku mereka akan ikut dibully. Hanya teman sebangku ku yang terkadang mengajak ku bicara dan menyapaku, dia juga korban bully sama sepertiku, tapi sepertinya dia sudah terbiasa. Jadi saat dibully dia hanya cuek. Aku sangat salut padanya.

__ADS_1


Terkadang sesekali cak Rudi nyamperin mengajak ke kantin untuk sekedar jajan.


Kalau jam istirahat pun aku biasanya hanya di kelas, bahkan aku tidak ke kantin kalau cak Rudi tidak mengajak ku.


Itu waktu aku belum begitu hafal dengan letak dan bangunan sekolah ini.


Tapi dengan seiring berjalanya waktu. Aku mulai tau sedikit - sedikit, dibantu beberapa teman sekelas ku yang mulai pelan - pelan mau berteman dengan ku.


Biasanya aku ke perpustakaan saat jam istirahat, setelah dari kantin. Menunggu waktu istirahat usai, aku memilih membaca buku - buku pelajaran kadang juga buku cerita. Dari pada di kelas mendengar sindiran dan cacian dari mereka yang tidak ada faedah nya.


Awalnya aku hanya sendiri, tapi lama - lama teman sebangku ku juga ikut, sama cak Rudi. Belum lama ini juga ada Desi yang mau dekat dengan ku. Nggak tau kenapa dia sering nyapa aku, dia nggak takut ikut dibully sama yang lain. Mungkin juga karena dia sudah terbiasa dengan teman sekelas jadi cuek aja.


Aku cuek dengan bully an mereka, cacian mereka, aku juga malas membalasnya, biarlah mereka melakukan apa yang mereka mau. Selagi mereka nggak main pukul, aku akan cuek dengan mereka. jujur sebenarnya aku juga tertekan, bahkan sering malas mau ke sekolah. Ada rasa takut, jengkel, juga lelah. Tapi aku tetap berusaha bersikap biasa saja. Agar dimata mereka aku terlihat tidak tertekan. Mungkin karena itu juga yang membuat sebagian dari mereka mau berteman dengan ku, karena dengan bully-an dari mereka - mereka aku tetap biasa saja.


Aku tak memberi tahu ibuk tentang itu. Biarlah dia tau aku sekolah dengan baik. Aku tidak mau membebani ibuk dengan masalah yang menurut ku masih bisa aku atasi. Lagian juga sebentar lagi aku lulus. Itu juga yang menjadi semangat ku melawan bullyan dari mereka. Aku hanya ingin sekolah dengan damai. Bisa lulus dengan baik. Tidak mengecewakan ibuk sama bapak.

__ADS_1


__ADS_2