Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Ekstra part 6


__ADS_3

Sesampainya di rumah bu Ririn.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


" Eh ibuk belum tidur?"


" Belum masih nunggu bapak pulang."


" Oh, tumben buk jam segini bapak belum pulang?"


" Katanya sih lembur, tumben kamu bawa motor sendiri, kamu beli motor baru?"


" Nggak buk, itu pinjam motor teman, karena nggak ada yang antar kesini."


" Ya udah sana istirahat duluan saja, pasti capek kan, bude juga sudah tidur."


" Iya buk, aku istirahat duluan ya buk."


" Oh iya, kalau belum makan, makan dulu."


" Sudah kok buk tadi."


Padahal dari siang aku belum makan apa - apa. Berantem dengan mas Nirwan membuat nafsu makan ku hilang.


Aku membersihkan diri dulu, sebelum rebahan di kasur.


Hari ini sangat panjang serta melelahkan cukup menguras emosi dan air mata.


Sebelum terlelap aku memeriksa ponsel terlebih dahulu, ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari mas Nirwan.


Sebenarnya aku tidak berniat telpon balik, tapi lagi - lagi ketakutan akan ditinggal olehnya mendorongku untuk menelpon nya.


Aku sangat takut membuatnya lebih marah, karena itu bisa membuat dia pergi dari ku. Di pikiran ku hanya ada dia, jangan sampai ditinggal dia, dan aku harus menikah dengan nya. Dia harus tanggung jawab atas mahkota ku yang telah ku berikan untuknya.


Itu lah mengapa, aku rela merendah serendah - rendahnya, bahkan aku tidak ragu untuk mengemis cinta dan belas kasihan nya. Agar aku bisa tetap bertahan disisinya.


" Halo Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam. Kamu sudah sampai?"


" Sudah."


" Kenapa nggak nunggu aku pulang?"


" Karena aku nggak tau, mas perginya sampai kapan. Maaf motornya aku bawa, besok aku balikin."


" Kamu pakai saja dulu nggak papa. Oh iya aku mau pulang, nanti aku telpon kalau sudah sampai dirumah."


Deg !! aku langsung teringat dengan pesan temanya tadi. Itu mengingatkan kembali akan rasa sakit di hati lagi.


" Mau pesta lagi, bawa wanita lagi?"


" Nggak sek, itu kan teman aku yang bawa bukan aku."


" Halah mana ada kucing yang akan diam saja kalau di depan nya ada ikan yang di suguhkan."


" Ya ampun sek, tanya sama Adi, aku nggak ikut - ikutan. Aku cuma minum."


" Yah minum aja yang banyak, biar sampai gila."


" Janji kemarin yang terakhir sek. Besok nggak akan lagi."


" Nggak usah janji kalau nggak bisa nepatin, bikin kecewa saja."


" Aku beneran sek, janji kemarin yang terakhir. Ya udah kalau nggak percaya."


" Mas, apa sayang dan cinta yang aku berikan ke kamu itu kurang? apa yang belum aku berikan ke kamu? semuanya sudah aku berikan ke kamu. Kamu tau kenapa? karena aku sayang sama kamu mas, sayang banget! Tolong dong mas kalau kamu juga sayang, jangan bohongin aku, kamu tau aku lagi bayangin kamu bermesraan dengan wanita lain saja, itu membuatku sakit. Tolong mas jangan lakuin hal yang nggak aku suka. Aku juga paling benci di bohongi."


Tangis ku kembali pecah, kala mengingat hal yang tadi, dadaku terasa sangat sesak, apa lagi mas Nirwan yang tak kunjung mau mengakui kesalahannya.


" Oke malam ini aku nggak jadi pulang. Dan percayalah sek, aku nggak akan mabuk lagi."


Mas bahkan untuk sekedar minta maaf saja kamu nggak mau. Apa artinya aku buatmu sebenarnya, apa kah aku hanya pelampiasan nafsu mu semata.


" Bener?"

__ADS_1


" Iya sek, lagian juga warung masih ada pembeli. Kasian Adi kalau aku tinggal sendiri."


Kita ngobrol sampai larut malam, yah masalah ini selesai begitu saja, tanpa ada kata maaf dan hanya berlalu seperti tidak terjadi apa - apa.


" Oh iya, aku nggak suka kalau kamu upload foto kamu di sosmed."


" Lha kenapa?"


" Yang komen banyak lakinya."


" Ya kan mereka sahabat - sahabat lama aku mas, di Lampung."


" Ya pokoknya aku nggak suka."


" Iya mas iya."


" Tiap hari harus kirim foto."


" Ha? buat apa?"


" Ya pokoknya kirim saja."


" Iya,"


" Ya udah udah malam, aku bantuin Adi tutup warung dulu."


" Iya mas, ya udah aku juga mau tidur."


" Selamat istirahat sayang, mimpi indah ya."


" Iya mas, love you."


" Love you to."


***


Pagi harinya setelah mandi aku merapikan penampilan ku, aku mendadak menjadi model, berpose secantik mungkin di depan kamera ponsel ku, agar mendapatkan hasil yang sebaik mungkin. Beberapa kali aku memotret dengan berganti berbagai gaya yang berbeda.


Setelah melihat hasilnya lalu aku memilih dan memilah gambar yang menurutku lumayan cantik untuk aku kirimkan padanya.


Aku ingin selalu memberikan yang terbaik untuk orang yang tersayang.


Kok tumben ya telpon ku nggak di angkat, biasanya langsung diangkat nggak pake lama.


Pikiran ku langsung melayang kemana - kemana, perasaan ku menjadi kacau lagi. Kejadian kemarin membuatku takut sehingga membuatku berpikiran yang tidak - tidak.


Tapi aku harus tetap tenang, karena aku masih harus bekerja. Aku nggak boleh terpengaruh dengan hal ini. Jangan sampai mengganggu pekerjaan ku.


Saat aku memasuki ruang tempat anak - anak belajar, rupanya sudah banyak yang datang.


Senyum mereka kepada ku, membuat hati ku tenang dan lebih sejuk. Mereka mampu mengalihkan perhatian ku akan pikiran yang menggangu ku.


Aku bekerja seperti biasa sampai selesai.


Setelah anak - anak pulang aku mengecek ponselku, sebelum aku melanjutkan pekerjaan ku.


Tidak ada pesan atau pun panggilan tak terjawab dari mas Nirwan. Aku mencoba menelponnya lagi, tapi tetap saja tidak di angkat.


Ini anak kemana sih dari pagi pesan ku nggak di balas, telepon nggak di angkat. Nggak biasanya dia begini.


Sejujurnya aku khawatir dan juga takut.


Aku segera menyelesaikan tugasku, dan memutuskan untuk nyamperin mas Nirwan ke warungnya.


Selesai menyelesaikan tugas ku, aku izin sama buk Ririn untuk mengembalikan motor ke rumah teman.


Aku segera melaju, menuju warung tempat mas Nirwan. Sesampainya di sana, lesehannya sangat sepi, ternyata tutup. Saat aku ingin masuk ke kamar belakang pintunya pun di kunci.


Aku semakin takut dan khawatir, akhirnya aku menelpon Adi untuk menanyakan keberadaan mas Nirwan.


" Halo Yu ada apa?"


" Kamu di mana Di?"


" Aku, aku di warung lah."


Deg!! kebohongan Adi membuat ku semakin cemas, pikiran ku semakin tak karuan.

__ADS_1


" Di kamu nggak kasian sama aku, aku mohon jujur lah Di."


" Ya memang aku di warung Yu."


" Aku sekarang ada di warung."


Adi langsung terdiam agak lama.


" Baiklah aku jujur, aku dirumah."


" Lalu mas Nirwan?"


" Dia dirumahnya."


" Aku telpon dari pagi nggak diangkat."


" Mungkin masih tidur."


" Semalam pesta lagi?"


" Iya,"


" Bawa wanita?"


" Iya."


" Mas Nirwan mabuk?"


" Sedikit."


" Sampai jam berapa cewek itu di sana?"


" Sampai pagi. Tolong ya jangan bilang sama Irwan kalau aku yang bilang."


" Iya."


Aku memutuskan panggilanku begitu saja. Aku terduduk dilantai dengan isakkan tangis yang tertahan, air mata ku berderai bak hujan.


Mas kenapa kamu tega sama aku, kenapa kamu lakuin ini lagi, kenapa kamu bohong. Apa salah ku?


Aku harus ke rumah mas Nirwan, aku harus minta penjelasan.


Mungkin ini saat nya aku pergi, mungkin ini saatnya aku melepaskan mu. Yah biarlah kesalahan yang sudah aku lakukan ini aku anggap sebagai hukuman ku karena aku telah melakukan hal yang belum sepantasnya dilakukan.


Ntah nanti kedepannya gimana aku akan menerimanya.


Kali ini aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ku dengan mas Nirwan.


Rasa sakit yang dia berikan, aku sudah nggak sanggup lagi menahannya. Selama ini aku sudah berusaha mengalah, mencintainya dengan tulus, memberikan apa yang dia mau, tapi ternyata itu tidak bisa membuatnya menyayangiku, mungkin sejak awal dia hanya mau memanfaatkan ku.


Kulihat ponsel ku, waktu menunjukkan pukul 17.30, aku segera tancap gas menuju rumah mas Nirwan.


Sepanjang perjalanan aku berusaha untuk tetap fokus menyetir sepeda motor, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Untuk tetap fokus, saat hati ambyar dan pikiran runyam, itu bukan hal yang mudah.


Rupanya cuaca pun sangat mendukung bukan hanya hatiku yang mendung, langit pun menurunkan hujan. Yah aku bisa menangis sepuasnya, di sepanjang jalan. Air mata ku ikut serta menetes beriringan dengan air hujan yang menyapu wajah sedihku.


Tak peduli lagi, baju yang basah kuyup. Dingin karena baju basah yang diterpa angin pun tak ku rasakan. Ingin nya hanya cepat sampai tujuan. Segera menyelesaikan masalah, dan pulang.


Itu lah hal terus berputar di kepala ku.


Setelah sampai di depan rumah mas Nirwan, dengan penampilan yang kacau, baju basah, mata sembab, badan menggigil, bibir membiru karena kedinginan.


Aku mengetuk pintu.


Aku mengetuknya beberapa kali, sebelum mas Nirwan membukakan pintu.


Mas Nirwan membukakan pintu, ku lihat wajahnya sedikit terkejut, ntah karena melihat penampilan ku atau kaget karena ketahuan dia berbohong.


Melihat wajah dinginnya, air mata ku pun kembali menetes, aku melemparkan kunci motornya yang mengenai dadanya.


Mas Nirwan hanya diam, tanpa bicara sepatah kata.


Kemarahan ku mulai memuncak.


" Kenapa kamu kasih harapan kalau pada akhirnya hanya akan kamu kecewakan? aku sudah pernah bilang kalau tujuan mu hanya untuk main - main, jangan buat aku mencintaimu. Aku juga pernah bilang jangan pernah menjanjikan ku sesuatu jika pada akhirnya kamu tidak bisa menepatinya.


Apa salah ku? selain harta semuanya sudah aku berikan untuk mu, kalau harta aku memang tidak punya, aku bukan anak dari orang kaya.

__ADS_1


Aku sangat menyayangimu, aku tulus mencintaimu. Tapi apa? dengan teganya kamu membohongi ku lagi dan lagi. Kamu anggap apa aku selama ini? Aku hanya sebatas pelampiasan nafsu kamu bukan?. Aku nggak nyangka kamu sejahat ini, tega menyakiti aku hingga seperti ini, sudah puas kan?. Setelah kau buat aku jatuh cinta, kau buang aku begitu saja. Sakit mas, sangat sakit. Sekarang, aku sudah lelah aku sudah menyerah, terserah apa yang akan kamu lakukan aku nggak peduli lagi. Kamu bebas sekarang. Aku akan pergi, terimakasih untuk kebahagiaan nya selama ini. Semoga kamu selalu bahagia."


Setelah aku mengungkapkan apa yang mengganjal di hati ku, aku pun segera berbalik ingin meninggalkan tempat itu. Aku memang tidak ingin menunggu jawaban atau penjelasanya, aku hanya ingin pulang menenangkan hati ku.


__ADS_2