Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 60


__ADS_3

**Wisata malam**


Langit pun sudah mulai gelap.


Aku menunggu kedatangan mbak Yani sambil memperbaiki penampilan ku.


Sempurna, yup begini sepertinya sudah cukup.


Aku pandangi diriku lewat pantulan cermin di hadapanku, dengan celana jeans favorit ku, aku padu padankan dengan kaos dan jaket levis dengan warna yang serupa dengan celanaku. rambut lurus sepinggang aku gerai begitu saja, riasan natural dengan lipstik pink.


Yah beberapa hari yang lalu memang aku memutuskan untuk meluruskan rambutku, aku memang menyukai rambut lurus nan panjang.


" Assalamualaikum,"


Eh kaya suara mbak Yani, sepertinya sudah datang.


" Waalaikumsalam, masuk aja mbak, aku dikamar."


" Wih cantik banget sih adek ku."


" Ah masak sih mbak?"


" Iya, cocok kok, penampilan kamu bagus, cantik lagi."


" Tapi percuma toh mas Afif udah nggak mau sama aku, hehehe"


" Kan masih ada yang lain. Dimata kamu emang di dunia ini cowok cuma Afif doang?"


" Hahaha, banyak sih, tapi nggak tau kenapa cuma dia yang bisa mengalihkan pandanganku."


" Itu karena kamu belum kenal yang lain. Yuk ah berangkat, kali aja nanti kamu dapet kenalan cowok. Hehehe."


" Maunya sih gitu, hehehe."


Kita menyusuri jalanan nan panjang, menikmati terpaan angin malam yang dingin menusuk tulang.


Aku nggak tau mbak Yani akan membawa aku kemana. Selain aku nggak begitu mengerti tempat yang akan aku tuju, aku juga nggak paham dengan jalanan dan daerah disekitar sini.


Ternyata tempat yang aku tuju lumayan jauh dari rumah. Melewati jalanan yang ramai, kurasa ini ke arah kota.


***


Sampailah kita ke ditempat tujuan.


Taman kota yang dekat dengan wisata kuliner. Tempat nya bagus, ramai juga.


" Kamu masuk aja cari tempat duduk, aku mau parkir motor dulu, berani kan masuk sendiri?"


" Iya berani kok. Jangan lama-lama ya mbak."


" Iya nggak lama, pesan makanan dulu juga nggak papa, cari mana yang kamu suka,"


" Oke, cepet nyusul ya."


Aku pun segera masuk dan hanya membeli minum, lalu mencari tempat duduk yang nggak terlalu ramai, sambil menunggu mbak Yani datang.


Ini mbak Yani kemana sih lama banget, tadi katanya cuma sebentar. Di telpon juga nggak di angkat. Atau aku susul aja apa ya? tapi kan aku nggak tau kemana mbak Yani parkirnya, tunggu sebentar lagi deh. Kalau belum dateng ya terpaksa harus dicari. Kan kaya orang ilang duduk disini sendirian.


Ku tengok kanan kiri mencari keberadaan mbak Yani, tapi aku tidak menemukannya.

__ADS_1


Saat aku sedang melamun karena menunggu mbak Yani yang tak kunjung datang.


Ada dua orang pria yang menghampiri ku.


Siapa tuh, kayaknya dari tadi nglihatin mulu, pake jalan mendekat lagi, duh gimana nih. Mana mbak Yani nggak datang - datang.


Salah satu pria itu menyapa ku.


" Hay, kamu Ayu ya?" tanya salah satu pria itu.


Eh kok dia tau nama ku,tapi tunggu kayaknya aku pernah lihat, mukanya nggak asing.


Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama.


Oh iya aku inget, dia kan Adi.


Adik kelas ku dulu, temen main juga. Kita satu desa.


" Iya, eh kamu Adi kan, ya ampun aku sampai pangling, tak kirain siapa."


Ya Adi adalah adik kelas ku dulu, kita satu desa, namun sudah beberapa tahun tidak ketemu membuatku pangling.


" Masih ingat rupanya, hehehe. Tadi aku liatin dari jauh, kaya mukanya familiar banget, eh ternyata benar kamu, soalnya aku juga pangling, hehehe, untung nggak salah orang. Kamu kapan pulang dari Lampung?"


" Udah lama nggak ketemu jadi wajar lah kalau pangling, aku udah lama kok pulang kesini."


" Masak sih, kok nggak pernah ketemu ya, sama kelurga juga?"


" Aku jarang dirumah, aku kerja di Jogja. Bapak ibuk masih di sana, aku cuma pulang sendiri."


" Oh pantas aku nggak pernah liat kamu. Mereka apa kabar?"


" Ya alhamdulillah sehat."


" Nggak kok, aku sama mbak Yani, tapi nggak tau kemana, katanya cuma mau parkir, tapi nggak balik - balik. Oh iya kalau kamu sama siapa? janjian sama cewek ya?"


" Nggak lah, cuma nongkrong aja. Oh iya nih kenalin ini temenku."


" Hay aku Irwan," kata cowok itu.


" Aku Ayu, salam kenal."


" Aku temani dulu sampai mbak Yani dateng ya," kata Adi.


" Iya, disini sendiri kaya orang hilang. Hahaha".


Saat tengah asik berbincang dengan Adi, mbak Yani dateng.


" Eh Adi to? tak kirain siapa, tak liatin dari jauh ngobrol sama cowok tak kirain siapa." Kata mbak Yani.


" Dari mana sih mbak lama banget?" tanyaku.


" Hehehe, maaf tadi ketemu temen lama di sana jadi ngobrol dulu. Kamu udah lama Di?"


" Belum lama juga kok mbak. Ya udah karena mbak sudah datang kita pamit dulu ya." pamit Adi.


" Eh sudah mau pergi? nggak ikut gabung, ngobrol dulu?"


" Nggak mbak, sudah ditunggu temen-temen di sana."

__ADS_1


" Makasih ya Di sudah ditemenin." sahut ku.


" Oke. Lain kali kalau butuh temen kabarin aja, minta nomor ponselmu deh, kalau boleh."


" Boleh aja, nih."


" Makasih Yu."


" Sama - sama Di."


" Lama banget sih mbak, tadi katanya cuma sebentar, aku nungguin disini kaya orang hilang tau nggak."


" Iya maaf, tadi yang sama Adi siapa, lumayan sih, tapi mukanya dingin?"


" Temennya Adi, Irwan namanya. Kayaknya pendiem deh orangnya."


" Kelihatanya sih begitu Yu, tapi cakep kok."


" Iya sih, lumayan, coll gimana gitu.


" Ya udah yuk cari makan, kamu mau beli apa?"


" Aku mah apa aja suka mbak, hahaha."


Aku membeli beberapa makanan yang berbeda. Aku menikmati makanan di taman kota sambil menikmati pemandangan orang yang lalu lalang.


" Enak mbak."


" Semua makanan yang kamu makan pasti kamu bilang enak."


" Hahaha, ya memang enak kok mbak."


" Apa sih yang yang nggak enak buat kamu."


" Hehehe, kabar sahabat kita gimana ya mbak? kadang aku suka rindu, pengen ngumpul kaya dulu."


" Kalau aisyah kuliah di Jogja, kalau Okta nggak tau. Kita jarang komunikasi."


" Pasti mereka sudah lupa sama aku."


" Ya nggak lah yu. Karena kita jarang komunikasi jadi nggak tau kabar masing-masing."


" Mungkin mbak."


" Kamu sama Afif gimana?"


" Ya begitulah mbak, kadang aku chat nggak di balas, udah nggak ada harapan lagi. Aku nggak mau mikirin itu lagi mbak. Mau fokus kerja dulu, kalau mikirin dia jadi galau, jadi malas ngapa - ngapain."


" Ya bagus deh kalau gitu. Lama-lama nanti juga kamu pasti bisa melupakan dia. Buat apa coba kamu masih mikirin dia, sedangkan kamu sudah tidak ada harapan lagi bersamanya."


" Coba dulu aku nggak nyakitin dia ya mbak, pasti kita masih bersama."


" Ya belum tentu juga, kita kan nggak tau apa yang akan terjadi di masa depan."


" Aku nyesel banget mbak."


" Aku tau, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi, bangkitlah jalanin lagi mulai dari awal pelan - pelan saja, mudah - mudahan seiring dengan berjalanya waktu, bisa mengikis rasa cintamu itu."


" Semoga saja mbak."

__ADS_1


" Ya sudah, pulang yok."


" Yuk, udah malem juga."


__ADS_2