
Teman dalam kesendirian
Kesedihan memang sedang menjadi teman ku saat ini. Saat aku merasa sendirian aku langsung teringat mas Afif.
Karena hanya dengan ngobrol sama dia aku akan terhibur, aku lupa akan kesedihan dan tidak merasa sendirian.
Kepergian ibuk, membuatku melampiaskan ketergantungan ku dengan mas Afif.
Ntah ini sebuah awal yang baik, atau malah akan menjadi sebuah hal yang akan menyakitkan kelak.
Aku orangnya memang nggak bisa sendiri, Kalau lagi merasa sendirian pasti akan mencari sosok yang menurutku bisa menjadi sandaran dan teman.
Aku segera mencari ponselku. Dan ku pencet tombol panggilan untuk menelpon mas Afif.
Dan beruntung nya aku, mas Afif segera menjawab panggilan ku, sepertinya dia juga sudah pulang sekolah.
" Assalamualaikum dek,"
" Waalaikum salam mas, mas udah pulang sekolah kan? mas lagi apa,? sibuk nggak? aku ganggu nggak?"
" Iya ini baru saja pulang, lagi duduk dek. Nggak sibuk, nggak ganggu juga. Besok lagi kalau nanya satu - satu aja ya? jangan keroyokan gitu. Adek tega liat mas bonyok? "
" Baru di keroyok pertanyaan, bukan di keroyok orang se RT mas,"
" Emang adek mau mas di keroyok orang se RT? nih aja sekarang belum juga mas di keroyok, adek udah nangis, "
" Kok tau? "
" Tau lah. Apa sih dek yang mas gak tau?"
" Ih aku gak nangis ya mas, sok tau."
" Dih adek udah mulai pinter bohong, sejak kapan nih pinter bohongnya?. Ayo cerita kenapa lagi, nggak udah ditahan - tahan dek. Nangis aja sepuas adek biar lega."
" Udah ah,capek nangis. Nanti air mata ku habis, gak bisa nangis lagi, "
" Memang mas mau nya kamu bahagia dek, gak nangis lagi. Emang masih mau nangis lagi? "
" Iya mas, aku nangis kalau lagi rindu kamu. "
" Rindu itu ya ketemu dek. Bukanya malah nangis. Apa sembuh tuh rindu kalau dengan hanya menangis? "
" Selain berat rindu juga sakit mas. Kalau sakit nya udah gak bisa ke tahan ya nangis lah, hehehe. "
" Emang adek rindu ,? "
__ADS_1
" Rindu mas. Sangat rindu. Udah lama kan kita gak ketemu, "
" Iya udah. Kalau ujian udah selesai nanti tak main ke tempat mu, tapi nanti ibuk marah gak? "
" Nggak bakalan marah mas, ibuk gak dirumah,"
" Lah, ibuk kemana? oh iya ibuk kerja ya dek?"
" ibuk pergi mas ninggalin aku. Ibuk nyusul bapak ke Lampung, aku ditinggal sendiri, " kata ku sambil menangis. Tangis ku pecah lagi saat mengingat ibuk.
Padahal tadi udah bilang nggak mau nangis. Tapi ternyata nggak bisa nahan, dan nangis juga. Biarlah dikatain cengeng sama mas Afif.
" Hah!!!!? kapan dek, kok adek nggak cerita? "
" Tadi berangkat mas,"
" Mas gak tau dek mesti ngomong apa lagi. Mungkin kamu sampai sudah bosan mendengar nya. Adek harus kuat ya? sabar, jangan merasa sendiri masih ada kelurga yang lain, dan sahabat mu. Mungkin begini cara tuhan mendewasakan mu. Ada pelangi setelah hujan dek. Percayalah, aku tau pasti kamu sangat marah sama ibuk. Kamu kecewa sama bapak. Sabarlah, ketika semuanya selesai pasti kamu bahagia dan akan berkumpul kembali sama bapak ibuk, "
" Aku harap juga begitu mas, "
" Udahan dong nangis nya, kalau adek lagi nangis gini mas jadi pengen lari kesitu terus peluk adek."
" Ya udah lari geh kesini, malah bagus. Aku bisa peluk mamas."
" Ih maunya."
" Ya mau banget lah, hehehe."
" Ih dasar."
" Lagi apa dek?"
" Lagi dikamar mas."
" Belum ganti baju ya? pasti langsung nangis?"
" Yah begitulah, aku cengeng ya mas, dikit - dikit nangis. Mas nggak malu kan punya pacar yang bentar - bentar nangis kaya anak kecil?"
" Ngomong apa si dek, nangis bukan berarti anak kecil tau. Malah mas seneng adek melampiaskan rasa sakit adek dengan menangis, nggak nyakitin diri sendiri. Kadang malah mas takut adek melampiaskan rasa sakit adek dengan menyakiti diri sendiri."
" Ya kali mas, aku belum segila itu."
" Makanya mas seneng, kalau hanya dengan menangis bisa membuat hati adek lega, maka menangis lah sepuas adek, jangan ditahan. Mas nggak melarang dek, malah pingin nya setiap kali adek nangis disitu ada aku yang menemani."
" Yah aku nggak tau mas kadang bingung mesti bagaimana, Kalau masih bisa ditahan ya nggak nangis, tapi kalau di dada udah kerasa sakit dan sesek banget udah nggak bisa ditahan ya nangis. Hanya dengan begitu aku bisa lega. Makasih ya mas, udah selalu ada buat aku, kadang aku malu kalau habis nangis nya sama mas. Hehehe."
__ADS_1
" Punya malu juga rupanya, hehehe"
" Emang dikira aku apaan nggak punya malu."
" Bercanda dek."
" Tau kok, hehehe."
" Ya udah sana makan dulu, pasti belum makan kan? gak boleh sakit. Ingat masih ujian, "
" Nanti ah mas, belum lapar juga kok. masih pengen ngobrol."
" Ya habis makan kan bisa telpon lagi."
" Belum lapar, nanti aja."
" Dek makan dulu gih, susah banget dibilangin nanti kalo sakit gimana? ibuk nggak ada dirumah, belajar lah jaga kesehatan sendiri."
" Iya mas. Duh mulai deh mode bawelnya,"
" Ya gara - gara kamu kan aku jadi bawel,"
" Kenapa jadi gara - gara aku?"
" Panjang kalo di jelasin, intinya ya bawel gara - gara adek kalau di bilangin ngeyel."
" Iya udah dulu ya kalau begitu, di lanjut nanti lagi, Assalamualaikum."
" Ya dek, Waalaikum salam, "
Oh iya lupa, gimana mau makan orang lagi puasa. Hehehe.
Aku membersihkan diri menjalankan kewajiban ku, lalu aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku lebih memilih tidur. Hingga mbak Yani datang membangunkan ku. Setelah mbak Yani datang dia mengajak ku makan. Aku menolak karena aku puasa.
Setelah berbuka puasa, kita memilih belajar dulu barulah nanti ngobrol - ngobrol. Kita belajar cukup lama. Setelah belajar kita membahas mas Bima dan mas Afif. Mbak Yani cukup peka, karena dia tidak bertanya soal masalah ku. Dia lebih memilih membahas hal yang lain untuk menghibur ku. Aku mengajak mbak Yani tidur di kamar ibuk. Alasan ku karena di sana lebih luas. Sebenarnya karena aku merindukan ibuk. Tapi aku tidak memberi tau mbak Yani. Biarlah kesedihan ini aku yang merasakannya. Dengan aku tidur di kamarnya, masih tertinggal aroma ibuk di bantal dan selimutnya, itu sedikit mengobati rasa rindu ku padanya.
Aku merindukan mu, seharian tanpa omelan mu serasa ada yang kurang.
Semoga benar, ibuk di sana cuma sebentar.
Disini tanpa mu begitu sepi.
Rumah pun terasa sunyi.
Membiasakan diri tanpa kehadiran mu di setiap waktu itu sulit buk.
__ADS_1
Kepergian mu memberikan luka tersendiri dalam hidupku.
Tapi mau bagaimana pun ini bukan salah ibuk, mungkin benar ini waktunya aku buat belajar mandiri.