Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Ekstra part 11


__ADS_3

" Mau ya sek, besok aku jemput."


" Iya deh iya."


" Nah gitu dong, besok aku jemput."


" Lah gimana mau jemput motornya aja aku yang bawa?"


" Ya besok aku kesitu nya sama Adi."


" Jam berapa? "


" Pagi aja lah,"


" Ya sudah aku tungguin."


***


Pagi nya mas Nirwan sama Adi beneran datang menjemput, untungnya aku sudah berkemas, dan tinggal berpamitan dengan simbah.


Seperti biasa mas Nirwan juga berpamitan dengan simbah, dan bilang juga ingin mengajakku bekerja.


Sesampainya di lesehan mas Nirwan. Mas Nirwan langsung memasak dan siap - siap untuk buka warungnya.


" Mas aku bantuin apa?" tanyaku.


" Jadi mandor aja bu bos." Jawab Adi.


" Aku belum setua itu, dipanggil ibu Di."


" Ya udah bu bos di situ saja awasin kita kerja."


" Iya sekalian awasin kalian kalau genit sama cewek - cewek."


" Yah itu mah pacar kamu, kalau aku kan nggak suka goda - goadain anak orang."


" Memang kamu tau kapan aku godain cewek? aku tuh setia." Mas Nirwan membela diri.


" Setia kok bawa cewek pulang, nginep lagi." Sindirku.

__ADS_1


" Kan itu temen ku sek yang bawa bukan aku, tanya aja sama Adi, ya kan Di?"


" Iya," jawab Adi.


" Kalian kan sekongkol kalau bohong, mana mau ngaku."


Kalau mengingat kejadian hari itu, hatiku masih sangat sakit, sampai sekarang hati ku masih tetap yakin kalau mas Nirwan memang ikut main dengan wanita yang temanya bawa.


Aku langsung ke belakang untuk mencuci peralatan masak yang masih kotor.


Aku tidak ingin berlama - lama diantara mas Nirwan dan Adi membahas hal itu, karena membahas hal itu membuatku sakit hati.


Mas Nirwan menyusul ku kebelakang.


Dia memeluk aku dari belakang.


" Sek?"


" Hem, jangan gitu ah nggak enak dilihatin Adi."


" Adi di depan, dia nggak lihat."


" Kamu marah?"


" Nggak."


" Kan kamu sendiri yang ungkit hal itu."


Iya sih, tapi ya tetap aja rasanya masih kesal kalau inget hal itu.


" Iya."


" Terus kenapa marah?"


" Siapa yang marah sih, Ya udah lepasin, sana bantuin Adi didepan, nggak lihat apa ini udah siang, nggak mau dibuka warung nya?"


" Ya udah aku ke depan dulu. Nggak marah kan?"


" Nggak."

__ADS_1


Dasar nggak peka, bujuk kek atau apa. Heran deh punya laki kok nggak peka.


Aku mencuci piring dengan perasaan yang kesal.


Sudah menjelang malam, pengunjung pun semakin ramai. Sebenarnya aku malu kalau harus bantuin di depan, karena jadi pusat perhatian orang.


Tapi karena melihat mas Nirwan dan Adi sangat sibuk, aku pun membantunya.


Ya walaupun belum terbiasa aku bisa membantunya sebisaku.


" Sini Di aku bantuin."


" Bantuin goreng ikannya, bisa kan Yu?."


" Bisa dong."


Aku memang sengaja tidak menyapa mas Nirwan karena masih kesal.


Aku menggoreng ikan, setelah ikannya matang aku mematikan kompornya.


" Kalau udah taruh di piring yang sudah ada nasinya ya." Perintah Adi.


" Oke."


Aku memindah ikan di piring sesuai arahan Adi.


" Sekarang Apa lagi?"


" Ambilin piring di bawah meja 2 sama gelas 2."


" Oke."


Saat aku hendak berbalik mengambil piring, mas Nirwan tidak sengaja menyenggol wajan yang ada di depan ku.


Dan byurrrrr,


Minyak satu wajan gede itu tumpah menguyur kakiku.


" Aw," teriak ku.

__ADS_1


" Ya ampun sek maaf, tadi nggak sengaja, aku buru - buru mau ambil spatula itu." Kata mas Nirwan panik.


__ADS_2