
Nafsu
Yah malam ini, langit lagi tak bersahabat. Menyembunyikan keindahannya dibalik awan mendung. Menggantinya dengan menjatuhkan buliran - bulian air, yang menciptakan irama khasnya. Air hujan yang turun membuat udara terasa dingin. Suara air hujan yang turun deras, mendukung suasana yang tengah sepi. Sungguh perpaduan yang sempurna.
Aku memilih menikmati malam yang sepi dan udara yang dingin, di teras depan rumah.
Setelah mas Afif mengakhiri hubungan kita beberapa bulan yang lalu, aku memang lebih sering duduk santai di teras atau di samping rumah. Bukanya apa - apa tapi suasana diluar rumah mampu menghibur kehampaan yang terkadang hadir dengan seenaknya.
" Sekarang pacar abang jadi sering ya duduk diluar? " kata abang yang datang nyamperin, lalu duduk di sampingku.
" Iya bang, bosen di dalem. Kalau lagi sepi begini diluar lebih enak dinikmati, dari pada di dalam. Abang dari mana? "
" Nggak dari mana - mana, abang habis mandi. "
" Tumben jam segini baru mandi? "
" Tadi lembur dek, "
" Sudah makan? "
" Sudah, tumben adek perhatian sama abang? "
" Emang biasanya nggak ya bang? "
" Nggak, "
" Ihh jahatnya, "
" Heheheh, iya perhatian sih, tapi kadang - kadang."
" Masih mending kan kadang - kadang, dari pada nggak sama sekali. "
" Ih adek, ya pengennya kan sering - sering."
" Iya deh besok kalo nggak lupa, Hahaha. "
" Nah gitu dong, abang suka liat kalau adek ketawa gini."
" Padahal aku kalau lagi ketawa, volume suaranya nggak bisa kecil tau bang, hehehe. "
" Kalau adek ketawa tuh pasti orang yang lagi sama adek ikutan ikut ketawa. Adek itu pandai membuat orang nyaman. "
" Apa iya bang? "
" Hu,um. Adek orangnya asik, enak diajak ngobrol, gampang akrab sama orang baru, "
" Makasih bang, ternyata aku orang kaya gitu dimata abang, hahaha. Padahal aku nggak sebaik itu lho, "
" Tapi memang begitu adek di mata aku. "
__ADS_1
" Ah bikin aku GR aja bang. "
" Makanya adek jangan sering - sering ngobrol sama laki - lain lain ya? ntar malah dia jatuh hati kalau sudah di buat nyaman sama adek. "
" Itu mah maunya abang, bilang aja karena cemburu. "
" Hahaha pacar abang memang Pinter. "
" Ihh abang. "
" Hahahha, eh masuk yuk dek sudah malam, tambah dingin udaranya. "
" Kebiasaan banget deh, abang sukanya ngusir. Kalau abang mau masuk, masuk duluan gih nggak papa. "
" Nggak gitu dek, abang takut aja kamu masuk angin. Abang heran deh, kok suka banget duduk diluar nyampe malem - malem."
" Ya nggak tau. Kalau lagi sepi gini, suasananya enak dinikmati bang, bikin betah."
Cupp!!
Aku kaget, abang tiba - tiba mencium pipiku. Aku menoleh nya dengan tatapan minta penjelasan, seperti biasa abang hanya tersenyum sangat manis.
" Abang," belum sempat aku menyelesaikan kalimatku. Bibir abang dengan cepat sudah mencium bibirku. Membuatku tak bisa melanjutkan kalimatku.
Ciuman abang semakin dalam, tanpa sadar aku membalas ciuman itu, karena terbuai dengan permainan abang. Dengan perlahan abang menuntunku untuk duduk di meja yang ada didepan abang.
Setelah puas bermain - main dengan bibir serta lidahku. Ciuman abang turun ke leher ku, itu membuat jantungku berdebar, merasakan panas di seluruh tubuhku. Udara yang tadinya terasa dingin, kini berubah terasa panas yang menjalar keseluruhan badan.
Aku tersentak kaget saat tangan abang menyentuh bukit kembar ku dibalik bh berenda yang aku kenakan.
Tangan abang sibuk meremas dan memilin ujung bukit indah ku. Tangan abang juga dengan lihai bermain - main disana, dengan mulut yang masih asik mencium ku.
Abang menyingkap Bra ku ke atas. Membuat bukit kembar ku semakin menantang. Melihat itu, membuat abang tidak melanjutkan ciumnya, dan beralih bermain di bukit indah ku. Abang memainkan ujung bukit indah ku dengan lidahnya. Memainkannya dengan lihai. menyedot dan menggigit kecil, membuatku menjerit dan mendesah.
" Abang, ahhhhh, emmm. Sudah nanti ada yang liat. "
Abang tidak menghiraukan kata - kataku. Abang masih asik bermain di sana. Aku menahan desahan ku, meremas kuat rambut abang.
" Abang," saat aku ingin bicara. Abang menyedot kuat. Itu membuatku mendesah nikmat.
" Ahh, bang. Sudahhhhh, ahh."
Kurasa kan belum ada tanda abang ingin mengakhiri permainannya. Dan
saat kewarasan ku menyadarkan ku. Aku menarik paksa kepala abang. Dan segera menurunkan bra ku. Nafasku masih tersengal - sengal karena ulah abang.
" Adek, kok ditutup sih ? " kata abang sambil menatapku, dengan tatapan yang masih berselimut gairah.
" Nanti kalau ada yang liat giman bang? abang tau kita lagi dimana sekarang?, " tanyaku masih dengan mengatur nafasku.
" Iya tau kita masih di teras, tapi nggak ada siapa - siapa lagi selain kita. Nggak bakal ada yang tau dek, aku masih mau lagi, siniin lagi, " kata abang dengan ekspresi seperti anak kecil yang meminta mainannya kembali.
" Malu bang, sudah ah. Takut ada yang liat." Kataku sambil membenarkan kembali kancing piama ku.
__ADS_1
" Bentar aja dek. Janji deh, cuma sebentar! " abang menatapku dengan tatapan yang menurutku sangat imut. Seperti anak yang telah aku ambil mainannya. Sisi abang yang lain, yang baru kali ini aku melihatnya. Sangat mengemaskan.
" Nggak ada lagi - lagian bang. Nanti malah kebablasan. "
" Nggak dek, janji!! cuma bentar kok, "
" oke, cuma sebentar, " akhirnya aku luluh. Jujur aku tadi sangat menikmatinya. sensasi yang baru pertama aku rasain. Dan aku pun menginginkannya lagi.
Dengan penuh kelembutan abang membuka kancing piama ku yang memang belum aku kancing kan semua.
dengan hati - hati abang menyentuhnya. menyingkap ke atas bra ku, seperti tadi.
Abang mulai menciumi leherku lalu perlahan turun ke bawah. Dengan tangan yang sibuk meremas dan memilin ujung bukit indah ku.
Saat ciuman abang sudah turun, abang membuat tanda merah di sana. Lalu memainkan ujung bukit indah ku dengan lidah nya.
Seperti tadi, tadi saat abang menyedotnya, desahan ku lolos begitu saja, karena tak kuasa aku menahannya.
" Ummmhh, ahhhhhh, abang sudahh,, "
" Sebentar, ingat ya dek, sudah ditandai abang, nggak boleh mikirin cowok lain. "
Abang kembali mengemut dan menyedot bukit indah ku seperti bayi yang sedang menyusu ibunya.
" Abanggg, Sudahhhhh. Akuu, nggak bisa nahan lagi ahhhh, nanti ada yang dengar, emhhh bang ahhh, udahan umhhhh ahhhh. "
Abang pun menurut, dan dia sendiri yang merapikan piama ku, diakhiri dengan ciuman di keningku. Lalu abang tersenyum puas kepadaku.
" Oke, sudah seperti semula. besok lagi ya dek Hehehe. Abang suka desahan mu."
" Ih maunya. Pengennya nggak gitu, tapi nggak bisa nahannya, lolos gitu aja. Jangan disedot ngapa bang, jadi nggak tahan akunya. "
" Enak tau dek. Abang nggak pengen berhenti, pengen bikin adek nafsu kaya tadi, makin cantik. Hahaha."
" Tauk ah. Aku mau masuk dulu. " Dengan cepat aku langsung pergi meninggalkan abang yang masih duduk di sana karena rasa maluku. Aku masuk rumah lalu ke kamar. Dengan jantung yang masih berdebar.
Lagi - lagi abang membuatku merasakan apa yang belum pernah aku rasakan. Rasa waras ku sudah ditutupi dengan rasa nikmat. Nafsu membuatku menepis kenyataan bahwa aku sudah melewati batasan - batasan ku.
Seharusnya aku menghentikannya. Tapi aku malah menikmatinya.
mencoba menepis dan tak menghiraukan bahwa apa yang aku lakukan tidak sepantasnya aku lakukan, dan selalu membenarkan kesalahan yang aku lakukan.
Jika nafsu sudah berkuasa, maka logika pun tidak bisa berbuat apa - apa.
Jika nafsu sudah berkuasa maka akan menjanjikan berbagai kenikmatan, maka akal sehat pun tidak bisa berfikir dan membedakan kebenaran serta kesalahan.
Bukan hal yang mudah untuk tidak tergiur dengan iming - iming kenikmatan.
Bukan hal yang mudah untuk bisa membatasi diri dan mengalahkan hawa nafsu saat sudah banyak lubang didinding pertahanan.
Jika ada keyakinan, dan kuatnya iman mungkin saja masih bisa menjadi tameng pertahanan.
Tapi kesedihanku membuatku meruntuhkan pertahanan itu, lalu aku berlari mencari kebahagiaan semu dengan pelampiasan hawa nafsu.
__ADS_1