
Pergi lagi
Berkumpul dengan keluarga tercinta, adalah salah satu hal yang membuatku sangat bahagia.
Hal yang sering kali lupa aku syukuri.
Sudah terbuai dengan rasa bahagia, hingga lupa bahwa itu adalah pemberianNya.
Maafkan aku Tuhan,
Sering kali terlena dengan kenikmatan yang engkau berikan.
Semoga engkau tetap menjaga dan mempertemukan kami untuk selalu berkumpul kembali.
Aku memutuskan untuk di rumah sementara waktu sembari melepas rindu, sambil menunggu ada lowongan pekerjaan baru.
Setahun sudah aku di rumah, tapi tak kunjung ku dapatkan pekerjaan. Sebenarnya banyak yang sudah menawarkan, tapi bapak selalu tidak menyetujuinya, dengan alasan ini itunya. Aku sempat dibuat pusing serta geram sama bapak, tapi ya sudah lah, mungkin begitu cara dia agar aku mendapatkan pekerjaan yang menurutnya baik untukku.
Selama aku di rumah, tak ku sangka dan tak ku duga, mas Afif malah sering menghubungiku dan itu membuat kita dekat kembali. Awalnya aku tak mengira bahwa dirinya masih akan menghubungiku lagi.
Aku senang karena dia kembali dan masih mengingatku. Aku kira dia sudah bahagia dengan kekasihnya yang baru, hingga melupakanku.
Aku masih hafal banget nomor ponselnya, aku sengaja tidak menghubunginya, selain karena aku takut menganggu hubungan barunya, juga karena memang aku ingin fokus melupakan rasa yang ada untuk dirinya. Aku juga takut mendengar kenyataan bahwa dia sudah bahagia dengan kekasihnya.
Aku tak menyangka bahwa dia yang akan menghubungiku lagi. Ada rasa bahagia yang luar biasa, Karena memang pada dasarnya aku masih sangat mencintai dan merindukan dirinya.
Kali ini aku berjanji pada diriku, aku akan berusaha untuk tidak mengecewakannya lagi. Berusaha untuk menjaga hati agar dia tidak tersakiti.
Ada yang menawarkan pekerjaan kepadaku di Jakarta. Tapi bapak tidak mengizinkan.
Aku berusaha menyakinkan bapak untuk memberi izin.
" Pak izinkan aku kerja ya?"
" Nggak usah berangkat nok, itu jauh. Cari yang dekat dari rumah aja."
__ADS_1
" Mana ada pak? kemarin aja ada cuma deket, bapak juga nggak kasih izin buat berangkat."
" Yang deket kalau bisa yang bisa pulang pergi, biar kamu nggak lepas dari pantauan bapak."
" Apaan sih pak, Ayu udah gede, udah bisa bedain mana yang baik dan mana yang nggak. Lagian kalau kerja di tempat orang mana mungkin bisa keluyuran sesuka hati. Kalau kerja ditempat orang malah nggak bisa keluar kemana-kemana pak, apa lagi itu kerjanya jagain sama ngurusin nenek yang sakit."
" Ya bapak mana tau, namanya juga di kota."
" Ayok lah pak, mau sampai kapan Ayu dikurung dirumah kaya gini, aku juga pengen kaya temen-temen yang udah pada kerja, bisa beli apa yang mereka pengen. Aku percaya bapak bisa memenuhi kebutuhan aku. Tapi kalau aku kerja uang yang untuk memenuhi kebutuhan aku itu bisa untuk beli yang lain. Aku udah gede pak, nggak mau ngrepotin bapak terus. Apa iya selamanya aku akan bergantung terus sama bapak? aku janji bakal jaga diri. Tuh kemaren pas dari kerja, juga balik baik-baik saja kan, itu bukti bahwa aku bisa jaga diri pak."
Bapak hanya diam sebentar, mungkin sedang berfikir.
" Ya udah kalau memang tekad mu sudah bulat, kalau itu memang mau mu, bapak izinkan kamu berangkat. Tapi ingat janji mu, kamu harus bisa jaga diri. Jangan rusak kepercayaan bapak. Kalau sampai bapak dengar berita yang nggak-nggak awas aja, jangan harap kamu bisa keluar rumah. Harga dirimu itu penting."
" Iya pak iya. Makasih sudah di izinin, aku akan ingat terus pesan bapak."
Segitunya banget bapak nggak percaya sama aku, punya cowok aja nggak, bagaimana mau aneh-aneh coba.
Mungkin kalau aku pulang-pulang hamil pasti langsung di gantung bapak, ih serem juga ya hehehe. Dih amit-amit semoga nggak kaya gitu.
Dengan bujuk dan rayuku, akhirnya bapak memberikan izinnya.
Aku bersikeras ingin berangkat bukan karena pekerjaannya. Tapi karena dengan ke Jakarta semoga aku bisa bertemu dengan dia.
Karena bapak sudah memberikan izinnya, aku memutuskan untuk berangkat besok.
Saat sedang berkemas, ibuk datang untuk membantuku.
" Kamu yakin akan berangkat nduk?"
" Yakin buk. Semoga aku bisa bertemu dengannya."
" Kamu belum menyerah? "
" Belum buk. Perasaanku terlalu dalam untuknya. Sang waktu ternyata tak bisa memudarkan rasa cinta yang ada.Rindu ini menyiksaku buk. datangnya dia kembali, membuatku mengembalikan harapanku juga."
" Jangan terlalu berharap banyak nduk. Jangan terlalu mencintainya. Ibuk takut kamu akan kecewa."
" Itu resiko yang harus aku hadapi buk. Aku siap untuknya. Sebelum takdir menyatukannya dengan orang lain, aku tidak akan menyerah."
__ADS_1
" Ya sudah kalau itu keputusanmu. Kamu juga sudah besar bisa menentukan jalanmu sendiri. Ibuk selalu mendoakan agar segala sesuatu yang kamu inginkan bisa dikabulkan."
" Terimakasih buk. Aku juga ingin pulang nengokin simbah. Siapa tau nanti aku bisa pulang ke sana. Aku merindukan semua orang di sana, saudara dan juga sahabatku."
" Ibuk juga ingin pulang ke sana nduk, sudah bertahun - tahun ibuk disini."
" Doakan semoga nanti Ayu bisa membawa ibuk pulang ya buk,"
" Pasti nduk. Jangan lupa selalu kabarin ibuk. Harus bisa jaga diri sendiri."
" Iya buk. Aku akan selalu mengingatnya."
" Ibuk akan merindukanmu lagi nduk, baru sebentar di rumah sudah mau pergi lagi."
" Baru sebentar apanya. Sudah setahun lebih kali buk. Aku juga buk, akan sangat merindukan ibuk. Ya walaupun aku tidak bisa memberikan ibuk uang yang banyak, setidaknya dengan bekerja, aku bisa membeli kebutuhanku sendiri tanpa merepotkan ibuk. Bisa ngurangin secuil beban hidup ibuk."
" Ibuk tidak menganggap mu sebagai beban, maafkan ibuk ya, tidak bisa selalu memberi apa yang kamu mau. Semoga kamu betah di sana, ibuk juga tidak mengharapkan uang darimu. Dengan kamu bisa membeli apa yang kamu inginkan, ibuk sudah senang nduk. "
" Aku juga tidak ingin meminta sesuatu yang bisa merepotkan ibuk, selagi Ayu sudah bisa mencari uang untuk membelinya sendiri. Semoga Ayu betah ya buk, agar Ayu juga bisa gantian membelikan apa yang ibuk inginkan."
" Amin, ibuk akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu nduk, ingat selalu pesan ibuk, jaga diri baik - baik. "
" Iya buk, terimakasih. "
Seperti biasa pelukan hangat dari ibuk menjadi awal perpisahan kita. Sebelum pergi aku memang suka bermanja-manja dulu sama ibuk.
Lagi - lagi aku pergi ketempat baru.
Tempat dimana tidak ada satu orang pun yang mengenalku dan sebaliknya, tidak ada satu orang pun yang aku kenal.
Aku pergi dengan membawa harapan.
Bisa bertemu dengan dia yang selama bertahun - tahun ini sangat aku rindukan.
Hingga rasa itu membuatku lupa dengan segala kemungkinan apa yang sudah menanti ku didepan sana.
Aku lupa bahwa ada kemungkinan aku tidak bisa bertemu dengannya.
Harapanku membuatku buta dengan segala kemungkinan yang ada.
__ADS_1
Aku terlalu percaya diri dengan cinta yang aku bawa.
Aku juga lupa bahwa akan sesakit apa rasa kecewanya, saat aku nantinya tidak bisa bertemu dengannya.