Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 19


__ADS_3

Mendaki gunung


" Bisa kok. Asal rumah nya mas di pindah kesini, hahaha. "


" Adek, aku beneran khawatir."


" Jangan gitu dong. Kasih semangat kek mas. Tenang aja besok juga ada para senior yang udah dewasa, pasti kita di jagain. Mas tenang aja,"


" Mas lebih tenang kalau mas sendiri yang jagain adek, "


" Iya mau gimana lagi, mas juga gak bisa ikut. Udah mas tenang aja, aku bisa jaga diri. Aku udah gede mas, "


" Sudah bilang sama ibuk? "


" Belum mas. Takut ibuk khawatir juga. Ibuk lagi hamil, aku nggak mau dia kepikiran. Besok kalau udah pulang aja aku yang ngasih tau ibuk."


" Si Yani kemana nggak ikut? "


" Mbak Yan ke Jakarta mas. Ke tempat mbak nya, "


" Em, ya udah pokonya hati - hati ya. Jaga diri baik - baik,"


" Iya mas. Tenang aja. Aku bakal baik - baik aja, aku bakal jaga diri, jangan khawatir gitu dong. "


" Ya udah kalau gitu, mas mau pulang dulu dek, ini udah sore, "


" Yah sudah mau pulang ya? kok cepet banget udah mau pulang saja, ya sudah deh mas, jangan mampir - mampir ya mas. Nanti malah kemalaman di jalan."


" Iya dek. Kenapa nggak rela ya? kapan - kapan mas akan kesini lagi. Ya sudah mas pamit ya, assalamu'alaikum."


" Jangan lupa kabarin kalau udah nyampe rumah, waalaikum salam. "


Aku mengantar mas Afif hingga ke halaman depan. Setelah mas Afif sudah tidak terlihat lagi, aku segera masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Tidak berselang lama ponselku berdering, tanda minta segera di angkat.


" Halo assalamualaikum mas, "


" Waalaikum salam,"


" Emang sudah nyampe rumah mas? kok cepet banget? "


" Hehehe terbang dek. Pakai sayap - sayap cinta mu, hehehe. "


" Kirain ngojek kuda terbang, hehehe."


" Mas masih dijalan dek, belum nyampe rumah. "


" Kok udah nelpon? kan tadi aku bilang nya telponnya kalau udah nyampai rumah mas? "


" Lah emang gak boleh nelpon sekarang ya? rasanya aneh dek jalan sendiri gak ada teman ngobrol, kan kalau sambil ngobrol nanti gak terasa udah sampai rumah. "


" Iya deh tak temenin, dari pada ditemenin orang lain, sekalian memastikan biar mas nggak mampir - mampir."


" Biarin! kenapa? gak suka? "


" Seneng malah. Udah ih neng nggak usah galak - galak. "


" Hem, bukanya gitu. Biar mas tuh pulang nya nggak kemalaman, kan aku gak tega mas malem - malem jalan sendirian. Belum nanti ibuk nya mamas pasti khawatir anak nya gak pulang - pulang."


" Iya dek mas ngerti. Makasih ya, udah di perhatiin."


Aku nemenin mas Afif ngobrol hingga dia sampai dirumah. Aku menyuruhnya untuk segera mandi, makan terus istirahat.


Pagi hari ini aku sibuk mengecek ulang barang bawaan yang akan aku bawa. Sebenarnya tidak banyak, cuma bawa tas selempang isinya dompet biskuit sama air mineral saja.


***

__ADS_1


Pagi ini adalah acara aku mendaki ke gunung. Setelah aku di beritahu bahwa titik kumpulnya di lapangan, aku segera bergegas berangkat, setelah berpamitan sama simbah.


Setelah sampai di lapangan ,ternyata sebagian sudah pada ngumpul. Untungnya aku tidak terlambat.


Setelah semua orang sudah terkumpul, kami diberi arahan, bahwa jalur yang akan kita lewati adalah bukit, lembah dan hutan.


Kami pun segera berangkat, selagi masih pagi belum terlalu panas. Kita masuk hutan jalurnya hanya jalan setapak. Setelah berjalan cukup lama, kita akhirnya keluar dari hutan. Melewati lembah, lalu naik ke bukit. Setelah sampai di bukit kita putuskan untuk istirahat sejenak. Pemandangan yang luar biasa indah, hamparan bunga liar yang menghiasi atas bukit. Aku ingin mengabari mas Afif, tapi setelah ku cari - cari ponsel ku tidak ada di dalam tas. Ku rasa ponsel ku tertinggal dirumah. Setelah menelpon untuk berpamitan dengan mas Afif tadi. Mungkin aku lupa untuk memasukan ponsel ku ke dalam tas, dan langsung buru - buru berangkat. Karena takut terlambat.


Setelah beristirahat sejenak, kakak senior memberi aba - aba untuk bersiap kembali. Kita akan melanjutkan perjalanan. Hari sudah semakin siang. Menempuh perjalananan cukup jauh dengan medan jalanan nya yang terjal, naik turun lembah. Sungguh perjalanan yang luar biasa melelahkan.


***


Akhirnya sampailah kita di pedesaan. Ternyata jalan menuju ke puncak gunung nya malah tidak sulit. Karena sudah menjadi sebuah tempat wisata, jadi jalan masuknya tidaklah sulit. Kami beristirahat sejenak di masjid di kaki gunung, yang berdekatan dengan warung. Sekalian kita mengisi perut dan melepas dahaga. Karena bekal kita sudah habis di perjalanan tadi.


Rasa lelah sudah sirna, perut juga sudah kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak. Sesampainya di puncak gunung, kakak senior yang dulu sudah pernah ke gunung ini, menceritakan sedikit sejarah tentang berbagai tempat petilasan di puncak gunung ini. Kami mendengarkan dengan seksama sambil menikmati indahnya pemandangan.


Hari sudah mulai sore. Kami memutuskan untuk turun gunung, karena takut kemalaman di jalan. Kami memutuskan melewati jalan raya yang medannya mudah dilalui, karena memang sisa tenaga kami sudah tidak sanggup lagi melewati jalan tadi. Saat sudah sangat lelah, kami berharap bisa bertemu angkutan umum. Tetapi sejauh kami berjalan kami tidak kunjung menemukan angkutan umum. Mau tidak mau, walaupun dengan rasa lelah yang luar bisa, kita tetap berjalan kaki.


Dengan semangat kita berjalan sambil bercanda ria. Sesekali istirahat sejenak untuk melepas lelah.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, sampailah aku dirumah. Aku sampai dirumah pas adzan Magrib berkumandang.


Aku langsung masuk ke kemar. Tapi yang aku tuju adalah kamar ibuk.


Tangis ku pecah di ranjang ibuk. Masih dengan baju lusuh, karena belum membersihkan diri.


Buk kalau ibuk disini, pasti ibuk akan menunggu ku di depan. Disambut dengan raut kecemasan ibuk, serta rasa lega karena aku sudah tiba dengan keadaan yang baik - baik saja. Pasti ibuk sudah menyiapkan air hangat, serta makanan kesukaan ku. Ibuk akan mengomel karena mengkhawatirkan aku. Jika ibuk tau kaki ku sakit, pasti ibuk akan pijitin. Buk hari ini aku lapar, aku lelah, laki ku sakit buk pegel banget. Buk pulang lah buk, aku rindu. Gumam ku di sela - sela tangis ku.


Aku sangat lapar, tapi rasa itu tak sebanding dengan rasa lelah ku yang luar biasa. Kaki ku pegal - pegal serasa mau copot. Iya ini pertama kalinya aku berjalan sejauh itu. Jadi ya pertama kalinya merasakan lelah seperti ini. Disaat seperti ini ibuk yang aku butuhkan, tapi ibuk tidak ada. Itu membuat rasa lelah ku semakin menjadi. Aku merasa sendirian.


Aku dirumah ini sendiri. Karena embah ada di rumah sebelah ikut bude. Nggak jauh sih, dapur kita saja gandengan. Ada jalan tembusan nya. Walaupun dekat tapi simbah jarang ke rumah ku. Simbah lebih sering di rumah sebelah. Terkadang sesekali aku ikut simbah tidur di rumah sebelah, kalau lagi kesepian.


Mungkin simbah tau aku sudah pulang, dia segera menghampiri aku, untung aku sudah tidak menangis. Aku masih berbaring di kamar ibuk. Simbah menyuruhku untuk segera makan dan aku hanya mengiyakan nya.

__ADS_1


Aku segera membersihkan diri, dan menunaikan kewajiban ku. Setelah itu aku segera makan. Aku ingin cepat tidur karena badan ku sangat lelah.


Mungkin besok aku baru bisa menghubungi ibuk, sekarang aku mau mengistirahatkan badan ku. Aku tidur di kamar ibuk lagi, berharap bisa bertemu di mimpi, untuk sekedar melepas rasa rindu ini. Aku ingin melihat wajahnya, ingin dipeluknya, ingin tidur di pangkuannya. Aku juga rindu belaian kasih sayang nya.


__ADS_2