Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 29


__ADS_3

Mila


" Lama banget sih nduk, kita pasti udah nggak kebagian kue nya. gara - gara nungguin kamu lama bener. " Gerutu cak Rudi.


" Iya maaf cak. "


" Tadi tuh ada si nenek lampir Rud, gara - gara dia no. Lagian kamu sebagai laki, tau adek nya dibully nggak ngebelain, saudara macam apa coba," imbuh Desi.


" Ya bukanya nggak mau ngebelain. Kan aku juga nggak ada di sana. Ngapain lagi sih si nenek lampir? bikin ulah lagi ya?" tanya cak Rudi yang pengen tau.


" Ya gitu deh, emang dia kan kalo sama Ayu hawanya pengen nyindir, pengen maki mulu. Makanya lain kali ditungguin, jangan di tinggalin." Jawab Desi.


" Cak habis dari kantin, ke perpus yok?" ajak ku memotong pembicaraan mereka.


" Ngapain? tadi di kelas kita udah belajar berjam - jam, itu bikin pusing. Ini waktunya istirahat masak mau belajar lagi. Pinter sih Pinter tapi ya kira - kira nduk. Kasian otak ku kalo disuruh kerja rodi. Dia juga butuh istirahat kali."


" Kan di perpus enak cak. Tenang nggak ada yang ganggu. Nggak harus belajar juga, bisa kan baca buku cerita atau apa. Ya udah kalo nggak mau aku sendiri aja. "


" Nanti sama aku aja Yu. " Kata Desi.


" Makasih Des sudah mau temenin. "


" Iya sama - sama. "


Kita ke perpustakaan menghabiskan waktu istirahat dengan membaca buku. Yah memang aku lebih nyaman di perpus. Walaupun tidak belajar hanya membaca cerita atau buku yang menarik yang kadang tidak ada hubungan nya dengan pelajaran.


Di sana tidak ada para Mila yang hobi memaki dan menyindir itu membuat ku tenang.


Ketika lagi asik dengan buku yang ku baca,


ada suara panggilan yang menginformasikan bahwa aku di suruh ke ruangan konseling.

__ADS_1


Cak Rudi datang dengan nafas ngos-ngosan.


" Nduk kamu dipanggil itu, suruh keruang konseling. " Kata cak Rudi dengan nafas yang belum teratur.


" Udah denger kali Rud, telinga kita masih sehat. " Sahut Desi.


" Iya udah aku ke sana dulu ya? "


" Mau ditemenin nggak Yu,? kata Desi.


" Ndak usah Des. Kan yang dipanggil cuma aku. kalian tunggu aja disini," kata ku.


Di tengah jalan si Mila dan kawan - kawan nya menghadang ku.


" Hey anak baru! awas aja nanti kalo kamu ngadu sama guru! ingat ya nggak usah ngomong aneh - aneh kalo masih mau sekolah disini dengan tenang."


I**ni anak takut di aduin rupanya, tapi bisa nggak sih ngomong nya baik - baik, takut di aduin bukanya minta maaf malah ngancem. Haduh ni kayak nya tadi lipstiknya dia lupa ke makan deh. Makanya otak nya rada gesrek.


" Tunggu dulu. Bilang dulu kalo kamu nggak bakal ngaduin kita - kita. Awas aja!! aku bisa berbuat hal yang lebih parah, yang membuat kamu nggak betah sekolah disini. Aku bisa nyuruh kakak aku buat menghadang kamu saat pulang sekolah nanti."


Aku sangat geram bukan karena ancaman dia. Tapi dia terus menahan ku, padahal aku sudah di panggil berulang kali.


" Mil aku diem bukan karena aku nggak berani. aku nggak pernah takut sama kamu. Mau nyuruh se Rt menghadang aku juga bodo amat. Mulut mu itu, mau maki, mau nyindir, mau ngatain sampai berbusa pun aku tidak peduli. Kalau aku mau ngaduin kamu, udah dari kemarin kemarin. makanya kalau nggak mau di aduin, masih takut di aduin, itu jangan sok. Itu mulut di jaga, kalo mau ngatain ya ada batasnya. Plis deh, aku cuma mau sekolah disini dengan tenang, aku nggak mau cari musuh. bisa nggak, nggak ganggu aku lagi? lagian aku ada salah apa sama kalian? karena aku Pinter? itu karena aku belajar. Karena aku disayang guru ? itu Karena aku menghormati mereka, aku tidak meminta mereka untuk sayang denganku. Mereka juga bisa menilai kali mana murid yang baik dan berkualitas sama murid yang nggak bermutu. Sudah deh aku malas debat, telinga kamu juga nggak bermasalah kan, aku udah dipanggil berulang - ulang, jadi bisa minggir kan. Oh ya satu lagi, aku nggak bakal ngadu kali ini. Tapi inget kalo besok masih cari gara - gara lagi, aku nggak janji!!! "


Aku langsung berjalan dengan cepat, menuju ruang konseling. Rupanya di sana aku sudah ditunggu ibu guru.


Dan benar dia bertanya masalah bully, dan aku bilang bahwa semuanya baik - baik saja, tidak ada masalah dalam bersosialisasi dan pelajaran.


Sepulang sekolah seperti biasa kita bareng - bareng sama teman yang satu desa. Lumayan banyak rame juga. Ada yang kelas nya sama tapi beda ruangan, ada adek kelas juga. Walaupun kita berbeda kelas tapi sering kita pulang bareng. Kita bercanda di jalan, kadang karena terlalu asyik sampai tak terasa sudah sampai rumah masing - masing. Aku sudah lumayan akrab dengan mereka. Karena mereka juga wellcome dengan kehadiran aku.


" Nduk mungkin kita sebentar lagi ada kelas tambahan, pulangnya sore. " Kata cak Rudi.

__ADS_1


" Oh ya? berarti bawa bekal dong cak? "


" Iya, udah nggak sabar pengen cepet lulus,"


" cacak mau nerusin kemana ? "


" Ntah lah. Kalau kamu? "


" Dilihat dari segi ekonomi kayaknya nggak cak. Sekolah nya jauh, kalau jalan kaki nggak ada temen karena semuanya udah pada pake motor, belum lagi seragamnya, uang bulanan nya juga."


" Tapi sayang loh, kamu lumayan pinter. "


" Biarlah cak. Aku tidak mau jadi beban mereka. "


" Iya udah terserah kamu, kayaknya juga aku nggak nerusin. Ehhh nduk nggak mampir dulu istirahat? "


" Nggak cak, makasih. Aku udah kangen banget sama jagoan ku, hehehe, "


" Iya udah nanti aku ke sana, jadi kangen juga pengen gendong si tole. "


" Oke, aku tunggu dirumah. "


Sejak masuk sekolah. Semakin lama hubungan aku dengan mas Afif pun semakin renggang. Ntah karena kesibukan kita, atau aku yang tidak punya banyak waktu dengan nya lagi. Aku sibuk dengan orang - orang baru. Dengan para sahabat ku pun sudah tidak bertukar kabar. Hanya dengan mbak Yani. Terkadang aku menanyakan kabar Aisyah dan mbak Okta lewat mbak Yani.


Semenjak saat aku dipanggil keruang konseling itu, Mila tidak berulah lagi. Jadi aku bisa bersekolah dengan tenang sampai lulus.


Semakin kesini, aku tidak menyadari bahwa ada yang semakin hilang dari hidup ku. Kesibukan ku serta aku lebih mementingkan orang baru membuatku membutakan rasa itu. Setelah semuanya semakin memburuk baru aku menyadarinya bahwa ternyata aku kehilangan sosok nya. Aku yang membuat nya menjauh karena kesibukan ku.


Lalu masih kah aku mencintainya?.


Masih, tapi itu kurasakan setelah semuanya semakin kacau. Aku masih sangat mencintai nya. Didalam hati ku yang terdalam, aku sangat, sangat Dan sangat merindukan nya. Aku merasa sangat kehilangannya. Tapi kesibukanku mampu menutupi itu. Kenal dan bertemu dengan orang - orang baru adalah bentuk dari pelampiasan ku. Aku pasti sangat menyakiti mas Afif. karena kesibukan ku, aku mengabaikan nya. Dan itu dalam waktu yang sangat lama.

__ADS_1


__ADS_2