Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 45


__ADS_3

 


**Pulang**


 


Seharian ini aku tidak bertemu dengan abang. Tidak ada pesan atau pun telpon darinya. Aku tau mungkin abang masih sangat kecewa dengan keputusanku.


Seperti biasa saat malam tiba, aku duduk sambil memandangi langit seperti biasa. Saat aku duduk di samping rumah, tiba - tiba abang datang menghampiriku.


" Ehm, "


" Eh ada abang. Sini duduk."


" Betah bangat duduk disini dek, apa sih menariknya?"


" Iya bang. Tempat paling nyaman untuk menikmati malam. "


" Tapi abang juga seneng sih adek duduk disini, tiap malam abang jadi bisa liat adek."


" Aku kira abang marah."


" Iya begitulah. Lebih tepatnya abang kecewa."


" Maaf ya bang."


" Bukan salah adek kok. Abang percaya kalau memang jodoh nggak bakalan kemana."


" Iya bang. sekali lagi aku benar - benar minta maaf, "


" Sudah lah dek. Nggak usah dibahas lagi. Kita nikmatin aja waktu kebersamaan kita yang tinggal sebentar lagi."


" Pasti aku akan sangat rindu sama abang."


" Sama dek. Abang pun pasti begitu."


" Main lah bang ke sana, ketempat ku."


" Pengen sih dek. Iya besok kalau ada waktu. Tapi nggak janji ya? "


" Iya. Aku tau abang juga sibuk banget.Terus dari sini ke sana juga jaraknya jauh."


" Iya kalau misalnya bisa, abang pengen ke sana."


" Adek tunggu abang di sana, hahaha."


" Jalan yuk dek,"


" Kemana bang?"


" Kemana aja gitu, sebentar aja dek,"


" Em nyari es krim aja bang sama cemilan. Ke depan aja, nggak usah jauh - jauh."


" Terserah adek aja abang ngikut. Ya sudah jalan yok, "


" Tunggu bentar bang.Tak ambil jaket dulu."


Kita hanya mencari warung yang nggak jauh dari situ. Aku hanya ingin mengabulkan permintaan abang. Mungkin dia ingin bersamaku lebih lama.


Setelah kembali dari membeli cemilan kita kembali duduk di teras.


" Dek sini duduk dipangkuan abang lagi, "


" Nggak ah bang aku berat."


" Ayo lah dek, kan bentar lagi adek pergi, anggap aja permintaan sebelum perpisahan. "


" Oke, tapi kalau kaki abang sakit jangan salahin aku ya, "


" nggak bakalan dek. "

__ADS_1


Aku pun menurut, dan makan es krim sambil duduk dipangkuan abang.


Dipangku abang nyaman juga, hehehe.


" Abang mau? biar aku suapin. "


" Dengan senang hati dek. "


Aku menikmati es krim sambil menyuapi abang.


" Es krim yang dari tangan adek lebih enak lebih manis."


" Bisa aja si abang. "


" Dek sini liat abang, "


" Apa lagi bang, "


Abang mendekatkan wajahnya dekat sekali dengan wajahku, lalu abang menjilat bibirku, sontak membuatku terkejut.


" Ih cantik - cantik kok makanya belepotan. "


" Apa iya? bohong, pasti abang hanya alasan karena ingin mencium ku kan? "


" Dua - duanya tadi memang ada sisa es krim dibibir adek, karena itu membuat abang tidak tahan ingin sekalian mencium adek. Hahaha. "


" Dasar si abang."


" Dek abang boleh minta sesuatu? "


" Mau minta apa bang? aku nggak punya apa - apa."


" Aku cuma minta adek cium abang, "


" Mulai deh mesum. Biasanya juga langsung nyosor aja nggak pakai permisi."


" Kali ini abang mau adek yang cium abang, buat kenang - kenangan."


Cup! aku mencium pipi kiri abang.


" Kok disitu? "


" Dimana aja sama aja bang, yang penting dicium. "


" Abang maunya disini. " Sambil jari telunjuk abang menunjuk bibirnya.


" Oke oke."


Cup! aku mengecup sekilas bibir abang. Tapi abang malah menahan tengkukku, dan terjadilah ciuman panas. Tangan abang pun sudah merayap kemana - kemana.


" Biarkan abang melakukan apa yang abang inginkan malam ini dek."


Aku hanya diam, jujur ciuman abang sudah membuatku terbakar gairah.


Abang kembali mencium ku, kali ini abang mencium ku, ******* bibirku, memainkan lidahnya dengan lembut.


Dengan tangan yang sudah sibuk meremas dan memilin bukit kembar ku, membuat desahan demi desahan lolos begitu saja dari bibirku.


Semakin aku mendesah, semakin abang bernafsu mengrayangi tubuhku.


Kali ini gantian mulut abang yang bermain di bukit kembar ku.


" Bang ahhhh emhhhh, suuuuudahhhhh."


" mendesahlah abang suka. "


" emmh, udahhhh takut ada ahhh yang dengar emhhh, "


" Sebentar lagi, "


" emhhhhh ,ughhhhh udahhh abang. "

__ADS_1


Abang pun tidak menghiraukan kata - kataku. Malah semakin liar memainkan bukit kembar ku. Aku Pun begitu menikmatinya.


Saat abang sudah puas barulah abang selesai dengan kegiatan itu. Entah lah sudah seperti apa mukaku sekarang. Ada rasa nikmat bercampur dengan malu menjadi satu.


Setelah abang selesai membenarkan baju aku kembali, aku bersandar di dada dengan masih duduk manis dipangkuan abang.


" Kenapa? tumben manja, biasanya ngomel - ngomel ini itu nggak karuan."


" Capek."


" Capek kenapa? orang diapa - apain juga nggak."


" Capek mendesah. Hehehe, ****** ku perih bang. hiks"


" Sakit ya? duhh maafin abang ya dek, tadi abang lepas kendali. Habis nggak bisa nahan kalau dekat - dekat sama adek. Hehehe. Sini coba abang liat? "


" Nggak mau, nanti abang malah pengen lagi."


" Hahaha, salah siapa adek nagih banget. "


" Salah abang yang mesum. "


" Hahahaha."


Begitulah kesalahan yang aku lakukan terus terulang. Kenikmatan yang aku dapatkan membuatku ketagihan. Kenikmatan semu yang terus menarik ku sehingga aku selalu mengulang kesalahan yang sama. Karena dengan begini aku bisa sejenak melupakan dirinya.


Disisi lain ada rasa bersalah yang luar biasa karena aku yakin saat ibuk tau pasti ibuk akan sangat kecewa. Meskipun kehormatan ku masih terjaga, tapi sebagian tubuhku sudah terjamah.


Tapi nafsu telah berkuasa didalam diriku, mengalahkan semuanya. Hingga semua itu bisa aku tepis.


Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu. Sudah mulai masuk bulan Ramadhan, berarti sebentar lagi aku akan pulang. Ada rasa bahagia, Ada rasa sedih pula. Bahagia karena sebentar lagi berkumpul kembali dengan keluarga. Sedih karena harus berpisah dengan orang - orang disini. Bang Rian, Kelurga kak Lili, si dedek yang sudah kayak anak sendiri, bunda yang baik. Mereka yang menemaniku selama kurang lebih satu tahun disini. Mereka kelurga baruku yang juga sangat aku sayangi.


Bulan puasa disini rame.Ya walaupun cuma keluarga kak Lili, keluarga bunda sama aku, tapi sudah lumayan ramai.


Aku begitu menikmati hari - hari terakhirku disini bersama bang Rian dan yang lain.


Ada rasa sedih luar biasa, saat aku meminta maaf dan berpamitan kepada mereka.


Kenangan manis yang aku lukis di dalam memori. Akan selalu menjadi hal terindah yang telah aku alami.


Kejadian saat bersama dengan bang Rian, juga akan menjadi kenangan yang tak akan terlupakan.


Terimakasih bang sudah mengisi kekosongan hatiku setelah kepergiannya. Meskipun denganmu aku selalu membuat kesalahan tapi aku tidak munafik, aku sangat menikmatinya. Meskipun aku tau apa yang kita lakukan itu salah. Tapi aku juga tidak bisa menahannya untuk tidak melakukanya lagi. Semoga dengan kepergian aku, dengan aku jauh darimu, aku harap aku bisa berubah. Aku akan mencoba untuk tidak melakukanya lagi.


Sekali terimakasih bang untuk kebahagiaan yang selalu kamu pastikan. Maaf kalau aku sudah menyakiti abang. Selamat tinggal bang. Jaga diri baik - baik, semoga kita bisa bertemu kembali.


Menempuh perjalanan yang sangat jauh tidak terasa melelahkan. Karena sudah senang banget,tidak sabar lagi ingin berjumpa dengan kelurga tercinta. Sudah nggak sabar ingin segera sampai di rumah dan memeluk mereka.


Setelah menempuh perjalanan yang


sangat lama. Akhirnya sampai juga di istana tercinta. Walaupun rumahku tidak sebagus tempatku bekerja. Tapi di sinilah tempat ternyaman. Ada kehangatan keluarga yang selalu membuatku ingin cepat pulang. Istanaku adalah tempat terbaik untukku kembali. Istanaku jauh dari kata mewah, hanya gubuk sederhana namun penuh dengan kehangatan kelurga, yang selalu membuatku rindu ingin cepat pulang di manapun aku berada dan sejauh apapun aku pergi.


Seenak apapun makanan ditempat orang. Lebih enak tetap makanan buatan ibuk. Walaupun sederhana dan apa adanya tapi aku selalu lahap menyantapnya.


Ke peluk erat mereka yang sangat aku rindukan selama ini.


Tangis ku pecah saat di dekapan ibuk.


" Buk Ayu kangen, "


" Iya ibuk juga. Gadis ibuk makin cantik aja. Kok makin lebar ya?" Goda ibuk.


" Hehehe apa iya buk? kan bagus jadi makin bohay. "


" Kamu ini ada - ada saja."


" Ibuk baik kan? bapak baik kan sama ibuk?"


" Iya beginilah rumah tangga nduk. Wajar kalau ada berantem - berantem kecil. Ya sudah sana mandi dulu, itu sudah ibuk siapin air panas."


" Terimakasih buk. Memang ibuk selalu yang terbaik." Aku pergi setelah mencium kilat pipi ibuk, itu membuat ibuk tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2