
Hari ini adalah hari pertunangan mbak Yani.
Aku pun menemani dan membantunya berdandan dikamar.
" Nggak usah tebal - tebal bedak nya Yu."
" Nggak lah mbak, udah selesai kok tinggal pakai lipstik."
" Jangan yang warnanya ngejreng ya?"
" Nggak mbak, noh lihat, mbak kamu cantik banget kalau dandan gini."
" Masak sih?"
" Iya, cantik banget."
" Makasih udah di bantuin Yu, oh iya cepat nyusul, jangan lama - lama."
" Iya mbak di usahain. Hehehe."
" Ya udah sana keluar mbak, acaranya sudah mau dimulai."
" Kamu nggak ikut keluar?"
" Nggak mbak aku nunggu disini saja."
" Ya udah kalau gitu."
*Lihat mbak Yani dilamar kok aku jadi pengen ya, tapi itu nggak mungkin, butuh biaya banyak karena jarak yang jauh, ah sepertinya malah tambah ribet, langsung nikah aja biar cep*at.
Tring, ting ,ting.
Bunyi ponsel membuyarkan lamunan ku.
" Ya halo mas assalamualaikum,"
" Waalaikumsalam sek."
" Kamu dimana?"
" Masih ditempat mbak Yani."
" Belum selesai acaranya?"
" Belum, acaranya baru saja mulai mas. Ada apa?"
" Aku jemput sekarang."
" Tapi acaranya baru mulai, kan nggak enak kalau pulang sekarang."
" Ya udah terserah kamu."
" Ya sudah aku pamit dulu sama bude."
Sejak saat aku melakukan HAL ITU dengan mas Nirwan, aku banyak mengalah, aku ikuti semua kemauan dia meskipun terkadang itu tidak sesuai dengan kata hati ku. Dari pertengkaran kecil sampai kadang kecemburuan dia yang nggak jelas, aku yang selalu mengalah.
Aku pun mendekati bude, dan bicara sangat pelan karena acaranya sedang berlangsung.
" Bude, aku pamit ya, aku pulang dulu, maaf nggak bisa nunggu sampai acaranya selesai."
" Kok buru - buru banget sih nduk, bentar lagi acaranya selesai lho."
" Maaf bude, tapi aku harus balik kerja hari ini."
" Ya udah kalau gitu, hati - hati dijalan."
" Iya bude, nanti tolong sampaikan maaf ku ke mbak Yani ya?"
" Iya, makasih lho udah dateng."
" Sama - sama bude."
Aku pun terpaksa bohong sama bude agar bisa pulang, karena aku tidak enak hati jika harus mengatakan yang sebenarnya.
Aku segera menghampiri Mas Nirwan yang sudah menunggu ku di jalan tak jauh dari tempat mbak Yani.
" Naik!"
__ADS_1
" Kita mau kemana?"
" Pulang ke rumah. Terus langsung ke lesehan."
" Tapi aku belum mandi, belum bawa baju ganti, tas aku juga masih dirumah."
" Ya sudah, ambil dulu tas kamu."
Ini mas Nirwan kenapa sih. Kok kaya bau alkohol ya, jangan - jangan nih anak mabuk lagi. Nanti saja lah kalau sampai rumah aku tanya.
Aku pun sampai dirumah dan langsung mengemasi barang - barang.
" Ngapain aja sih, lama banget?"
" Ya namanya juga berkemas."
" Tapi bisa cepat kan."
" Iya maaf mas, ya sudah ayo berangkat."
Aku kira kita langsung berangkat ke lesehan, tapi ternyata aku dibawa ke kerumahnya.
" Turun, aku mau mandi dulu."
" Iya."
Aku menunggunya di sofa, aku kaget ketika mata ku tertuju pada syal yang tergeletak di sampingku, aku cium ternyata bau parfum cewek.
Apa - apa an ini, siapa yang dari sini? ini punya perempuan. Jangan - jangan,,
Perasaan ku mulai nggak enak, dan aku pun langsung berlari ke kamar mas Nirwan untuk membuktikan bahwa apa yang aku pikirkan dan aku takutkan tidak terjadi.
Saat aku masuk kamar perasaan ku mulai takut, ku lihat kamar yang biasanya rapi, kini berantakan tak karuan.
Tak sengaja mata ku menangkap hal yang membuatku makin sesak, di tempat yang agak tersembunyi tapi masih terlihat oleh mataku, ada bekas alat kontrasepsi pria yang sudah terpakai.
Apa - apa an ini. Ini nggak mungkin, aku harus minta penjelasan mas Nirwan. Tapi tunggu mana ponsel, ponsel. Aku harus mengeceknya.
Aku pun menemukan ponsel mas Nirwan yang tergeletak di atas meja.
Aku segera mengeceknya, dan benar saja, di sana di salah satu aplikasi ada percakapan mas Nirwan dengan teman nya, bahwa teman nya minta izin untuk berpesta dirumahnya serta membawa wanita. Yang membuat hati ku hancur saat ada pesan yang baru saja masuk, pesan itu berisi mas Nirwan nggak boleh pergi lama - lama karena dia akan membawa cewek lain lagi.
Sepertinya mas Nirwan sudah selesai mandi*.
Aku menghapus pesan yang terakhir dari temanya, dan aku pura - pura bermain game dengan hp miliknya agar dia tidak curiga.
" Ngapain sek?"
" Main game, jenuh nunggu mas selesai mandi."
Aku memperhatikan mas Nirwan yang mengupas permen.
Mau kamu makan permen satu wadah juga percuma mas, hidung aku lebih peka, kamu pikir dengan kamu makan permen aku nggak bisa cium bau alkohol yang kamu minum.
Aku berusaha bersikap setenang mungkin, aku bersikap seperti biasa, meskipun hati ku rasanya sudah tak karuan.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, sampailah aku di lesehan mas Nirwan.
Tak ku hiraukan Adi yang sedari tadi memanggilku.
Malam ini lesehan sedang sepi, tidak seperti biasanya yang ramai pengunjung.
Aku langsung menuju ke belakang, ke kamar mas Nirwan. Mas Nirwan pun menyusul ku.
" Kamu kenapa sih sek, dari tadi di jalan diam saja?"
Air mata ku luluh bahkan sebelum aku berbicara.
" Kamu jujur mas, kamu mabuk, kamu bawa wanita pulang? apa kamu juga tidur dengan wanita itu?"
" Kamu ngomong apa sih sek? aku nggak mabuk, aku juga nggak tidur dengan wanita."
" BOHONG!!! aku tau, aku hanya butuh kejujuran mu."
" Memang aku nggak melakukan itu."
" Aku kurang apa sih mas? Aku sudah berikan semua yang aku punya untuk mu. Kenapa kamu tega sama aku?"
__ADS_1
" Memang teman aku yang bawa wanita itu tapi, tapi aku nggak ikutan."
" Nggak mungkin, aku cuma butuh kejujuran mu mas, itu saja."
Ntah kenapa aku tidak percaya bahwa mas Nirwan tidak menikmati wanita itu, aku ingin percaya, tapi aku tidak bisa. Aku sangat yakin kalau mas Nirwan ikut. Tapi dia bersikeras tidak mengakuinya.
" Aku sudah jujur, kamu mau apa lagi."
" Jujurlah mas aku nggak papa, aku memang kecewa, tapi setidaknya kalau kamu jujur aku menghargainya."
Di dalam hati ku, sejujurnya aku sangat takut dengan kejujuran mas Nirwan pasti hati ku sangat hancur, membayangkan dia bercumbu dengan wanita lain saja membuat hati ku sesakit ini.
" SUDAH LAH, TERSERAH KAMU KALAU KAMU NGGAK PERCAYA!!"
Yah ini pertama kalinya dia berteriak kepadaku, hati ku makin sakit. Setelah dia berteriak dia langsung pergi. Aku mendengar suara motor, dan ya itu mas Nirwan. Dia pergi meninggalkan aku sendiri dengan keadaan ku yang menangis sesegukan.
Adi pun datang menghampiri ku yang sedang duduk dilantai.
" Irwan pergi."
" Ya aku tau."
" Aku tau selama ini kamu banyak mengalah, aku pun begitu salut dengan mu yang mencintainya dengan begitu dalam."
" Yah begitulah aku, kalau sudah sayang nggak bisa setengah - setengah. Kamu tau dia tadi pesta dengan wanita?
" Tau, sudah dari semalam malahan."
" Mas Nirwan mabuk?"
" Iya."
" Apa dia ikut menikmati wanita itu?"
" Tidak, dia hanya duduk dan minum."
" Kamu juga bohong, tadi temanya kirim pesan bahwa di akan bawa wanita lagi."
" Oh iya?"
" Iya tapi aku hapus, dia nggak tau."
" Kenapa kamu bertahan kalau bagimu ini terlalu berat."
" Jujur aku sudah nggak bisa melepaskan dia, kenapa selama ini aku mengalah? itu karena aku nggak mau dia marah dan ninggalin aku. Kehormatan ku sudah aku berikan ke dia, aku sudah tidak perawan lagi. Kalau dia pergi siapa yang mau dengan wanita yang sudah tidak perawan lagi seperti ku."
" Kenapa kamu berfikiran begitu, pasti ada yang laki - laki yang bisa terima kamu apa adanya."
" Nggak, aku takut, selain itu aku juga menyayangi nya. Aku akan membuat dia bertanggung jawab."
" Yah kalau itu sudah mau mu. Semoga kamu kuat."
" Harus kuat, dan harus bisa. Makasih ya Di sudah mau menemani ku bercerita. Aku harus balik."
" Balik kemana? ini sudah malam."
" Balik ke tempat kerja ku, nggak terlalu jauh kok dari sini, boleh nggak aku pinjam motormu? besok malam aku balikin."
" Kamu nggak mau nunggu Irwan balik aja?"
" Nggak Di, ini sudah malam. Kamu juga nggak tau kan kapan dia balik?"
" Iya sih, aku antar ya?"
" Nggak usah, nanti yang jaga disini siapa? lagian nggak jauh juga kok."
" Oke, oh iya, tadi yang dibawa Irwan motorku, kamu pakai motor irwan saja."
" Ya udah deh nggak papa, dari pada nggak balik. Nanti tolong bilangin ke dia ya?"
" Kamu beneran nggak papa kan? nanti nangis di jalan lagi? jangan bunuh diri ya?"
" Hahahaha, aku masih waras Di, aku masih ingin hidup kali, kamu pikir aku sudah segila itu."
" Ya syukurlah kalau gitu. Hati - hati dijalan ya?"
" Iya, makasih buat malam ini."
__ADS_1
" Sama - sama."