
Mas Afif, terimakasih karena sudah menjadi bagian terindah dalam kisah hidup ku, kamu akan selalu menjadi mantan terindah dalam hidup ku.
Mungkin memang kita tidak di takdir kan buat bersama, mungkin aku juga bukan wanita yang tepat untukmu.
Mas,,
Aku tidak pernah menyesal karena pernah menjadi orang terkasih dalam hatimu. Sebalik nya aku malah merasa sangat beruntung.
Penyesalan ku adalah kurang nya dalam aku memperjuangkan dirimu, sehingga kamu menjauh, dan aku menyerah akan hal itu.
Jujur aku masih belum bisa melupakan mu dan aku juga tidak tau apakah aku bisa melakukanya.
Kali ini mas, hubungan kita benar - benar sudah berakhir, sudah tidak ada harapan lagi.
Maaf mas aku tidak bisa memperjuangkan hubungan kita lagi, disaat tubuhku sudah kotor dinodai laki - laki lain, aku malu untuk bertemu dengan mu, bahkan hanya untuk sekedar mengirim pesan kepadamu. Aku tidak lagi pantas untuk mu.
Saat laki - laki di sampingku ini mengikrarkan janji suci, disitu aku sudah tidak punya harapan untuk bisa bersama mu lagi mas.
Sekali lagi aku ucapkan selamat tinggal mas, aku berharap kamu mau mau memaafkan keegoisan ku.
Aku akan selalu memohon kepadaNYA untuk kesehatan dan juga kebahagian mu.
Jaga dirimu baik - baik ya mas.
Satu minggu yang lalu aku dan mas Nirwan sudah resmi menjadi suami istri.
Bahagia, itu pasti. Lega dan juga sangat bersyukur.
Tidak ada pesta maupun resepsi. Hanya ijab qobul dengan acara sederhana, memakai kebaya putih serta riasan yang biasa saja.
Namun itu tidak mempengaruhi kebahagiaan yang aku rasakan.
Tidak menjadi ratu sehari, dengan gaun mewah dan singgasana bak raja dan permaisuri, dengan sudah sah menjadi istri dari mas Nirwan itu sudah cukup bagi ku.
Bukan tidak ingin, ingin sebenarnya, tapi keinginan segera menikah dengan mas Nirwan itu lebih besar.
Aku ingin segera mengakhiri hubungan tanpa adanya ikatan yang sah, tidak bisa mengendalikan nafsu, tidak bisa berhenti berbuat zina pula, hanya dengan menikah itulah yang aku pikir menjadi jalan terbaik yang bisa aku ambil.
Setelah menikah, kini semua berbeda, status yang berbeda, dan aku juga harus menjadi istri yang bisa melayani segala kebutuhan yang mas Nirwan perlukan.
Sejauh ini hari - hari ku masih terasa manis.
Semakin hari, aku juga semakin mencintai suamiku ini.
Setelah menikah aku dan mas Nirwan memutuskan untuk kembali pulang ke Jawa, mas Nirwan tidak bisa meninggalkan warung makanya terlalu lama.
meskipun bukan tempat makan yang besar, namun itu usahanya mas Nirwan sendiri yang dirintisnya dari nol.
" Nduk besok mau ikut ke warung apa dirumah saja?" tanya mas Nirwan kepadaku.
Setelah menikah Nduk adalah panggilannya untuk ku.
" Ikut lah mas, masak iya mau dirumah sendiri. Ya anggap saja honeymoon, hahaha."
" Ya bagus kalau begitu, tapi sempit loh tempat tidurnya, nanti kamu nggak nyaman?"
" Asal sama kamu dimana saja pasti nyaman."
__ADS_1
" Bisa saja kamu, ya sudah aku tinggal keluar sebentar ya nduk?"
" Mau kemana?"
" Mau ambil motor kerumahnya Adi."
" Terus mas ke rumah Adinya jalan kaki?"
" Nggak lah, itu sudah dijemput Adi, dia sudah nungguin di depan."
" Loh kok nggak disuruh masuk?"
" Dianya buru - buru mau pergi katanya."
" Oh, habis dari rumah Adi langsung pulang ya? jangan mampir - mampir."
" Iya sayang. Ya sudah aku berangkat dulu, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, hati - hati dijalan, dan cepat pulang."
" Iya nduk."
Tidak lama setelah mas Nirwan pergi, ada panggilan di hp ku, ternyata itu dari ibuk.
" Halo buk assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, nduk. Lagi ngapain?"
" Lagi beres - beres buk, lagi berkemas besok mau ikut mas Nirwan ke warungnya."
" Apa Nirwan memperlakukan mu dengan baik?"
" Jujur ibuk sebenarnya kurang suka dengan pilihan mu, tapi mau bagaimana lagi kamu bersikeras dan membantah ibuk tetap memilih dia, mau nggak mau ibuk menyetujui pilihan mu."
" Ibuk, sudah ya jangan di ungkit lagi, maafin aku ya buk, egois tidak mau mendengarkan nasehat ibuk. Maaf memaksa ibuk harus menerima pilihan ku. Semua ini memang pilihan aku, mau bagaimana pun nantinya aku akan menjalaninya buk, kalau sudah pilihan ku pasti tidak akan ada penyesalan buk."
" Ibuk cuma nggak mau, nanti nasib kamu sama seperti ibuk. Ibuk pengen kamu mendapat orang yang berada, agar hidup kamu terjamin, kamu tidak kesusahan."
" Aku tau maksud ibuk, tapi aku juga bukan penggila harta buk, dengan hidup bersama orang yang aku cintai itu sudah cukup, masalah harta kan itu bisa dicari bersama. Namanya hidup ya ada kalanya harus susah dulu kan buk. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu buk."
" Ya sudah kalau itu sudah keputusan mu, ibuk hanya mau yang terbaik untuk mu, ibuk sangat menyayangimu."
" Aku juga sayang banget sama ibuk, ibuk jangan khawatir ya, aku baik - baik saja, dan dengan menikahi orang yang aku sayang, itu sudah membuatku bahagia."
" Syukurlah kalau begitu, ibuk ikut senang. Jaga diri baik - baik ya nduk."
" Iya buk, ibuk juga ya. Ibuk harus jaga kesehatan."
" Iya nduk. Ya sudah lanjutin dulu beberesnya."
" Iya buk."
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam buk."
Aku tau apa yang ibuk takutkan, tapi ini semua sudah pilihan yang aku pilih buk, bagaimanapun aku tidak bisa berpisah dari mas Nirwan karena aku dan dia sudah terlanjur berbuat kesalahan, dan aku nggak bisa buk melepaskannya begitu saja tanpa tanggung jawabnya.
__ADS_1
Maafkan aku harus egois memaksakan kehendak ku kepada bapak dan ibuk.
Hanya ini yang bisa aku lakukan, karena kalau aku menceritakan yang sesungguhnya pasti itu akan membuat kalian akan terluka dan kecewa.
Bagaimanapun nantinya, susah atau pun senang aku akan menjalaninya tanpa penyesalan.
" Hey."
Mas Nirwan memeluk ku dari belakang. Karena ulahnya itu membuat aku terkejut.
" Aaaa mas bikin kaget aja sih."
" Ngelamunin apa sih nduk, sampai mas datang kamu nggak menyadarinya."
" Nggak, bukan apa - apa kok mas."
" Beneran?"
" Em, mas?"
" Iya."
" Apa mas siap hidup susah dengan ku? aku bukan anak orang kaya yang banyak warisan loh? kalau aku sih sudah terbiasa ya kerja, susah payah cari uang. Apa kamu nanti bakalan menyesal karena aku paksa nikah dengan ku, dan akhirnya harus bekerja keras menghidupi aku?"
" Kamu ini ngomong apa sih sek, aku ini laki - laki loh, dan tanggung jawabku memang mencari nafkah untuk mu, tapi aku memang belum siap kalau kita punya baby."
" Iya, nggak papa kok mas. Aku tau."
" Bukan karena menolak rizki, tapi aku ingin hidup kita lebih baik dulu, setidaknya punya tabungan, karena kali ini memang tabungan aku habis, maaf karena tidak bisa memberikan pernikahan yang mewah buat kamu."
" Dengan aku bisa menikahi mu saja, itu sudah membuat ku senang. Karena yang penting bukan megahnya sebuah pesta pernikahan, tapi terucap nya ijab qobul itu dari dirimu dan disahkan oleh agama dan negera kan mas?"
" Iya, terimakasih ya sek."
" Sama - sama mas, terimakasih juga karena mau menikah dengan ku. Mari hadapi segudang kesulitan yang sudah menanti kita di depan, hehehe."
" Iya, asal bersama mu."
" Iya, bagaimanapun keadaan nya yang penting kita hadapi bersama."
" Iya sek, makan yuk lapar nih."
" Ya udah sebentar aku ambil dulu ya mas."
" Iya sayang."
" mau disuapin apa makan sendiri?"
" Suapin juga boleh."
" Ih manja."
" Namanya juga pengantin baru."
" Walaupun bukan pengantin baru lagi, aku maunya kita tetap seperti ini mas."
" Aku pun juga begitu."
__ADS_1
Sebenarnya aku ingin kita segera punya baby, tapi aku juga tau bagaimana keadaan kita sekarang. Sama seperti mu mas aku juga ingin memberikan yang terbaik buat anak kita, setidaknya kita punya sedikit tabungan untuk membeli kebutuhannya.
Maaf ya Allah bukan karena menolak, aku juga tau anak membawa rizki sendiri, tapi untuk saat ini kami memang belum siap. Semoga kelak jika kita sudah siap Allah akan mempercayakan buah hati untuk kami.