
Ciuman pertama
Setelah mendapat nasehat dari ibuk. Sekarang hati dan pikiran aku jauh lebih tenang.
Yang tertinggal hanyalah rasa bersalah. Aku sudah bisa terima, dan menganggap ini sebagai hukuman untukku.
Aku mencari nama mas Afif di deretan nama dikontak ponselku. Setelah sudah bisa berdamai dengan keadaanku. Aku memutuskan mengirim pesan ke mas Afif. Aku berharap mas Afif masih memakai nomor ponsel yang sama, dan belum menggantinya.
📨Aku
Assalamu'alaikum mas. Apa kabar? semoga sehat selalu ya? maaf kalau aku menganggu. Aku cuma mau minta maaf. Maaf sudah egois sekali lagi, maaf telah banyak kali menyakitimu dan maaf kemarin masih belum bisa nenangin diri. Butuh waktu lama untuk aku menerima keputusan darimu. Aku tidak akan memutus pertemanan kita. Semoga kita selalu bisa menjadi teman seperti sebelum nya. Jangan benci aku yang sudah sering kali menyakitimu.
*Maafin aku mas, ternyata aku lah yang tanpa sadar membuatmu pergi lagi, aku lah yang memaksamu menyakiti aku seperti ini. Sakit ini terjadi karena ulahku yang egois.
Maaf aku sudah menyakitimu lagi,
Pasti berat buatmu untuk memaafkan aku lagi.
Tapi tidak papa, aku akan terima semuanya.
Karena memang semua ini akulah penyebabnya.
Ini hukumanku yang harus aku jalani. Seberat dan sesakit apapun aku akan berusaha menjalaninya dengan ikhlas, inilah hasil yang aku tua dari benih yang sudah aku tanam.
Aku menyesal mas, ternyata aku sendiri yang telah membuatmu pergi.
Aku akan selalu mencintai dan menyayangimu dalam penyesalanku.
Aku tau waktu tak mungkin bisa diputar kembali.
Maka aku akan dengan senang hati menerima semua ini.
Walaupun ini sangat tidak mudah untukku lalui.
Tapi aku akan berusaha dengan segenap keikhlasanku**.
Ternyata mas Afif masih memakai nomor yang sama, dan masih mau membalas pesan dariku.
📩Mz Afif
Waalaikum salam, alhamdulillah kabar aku baik dek. Kamu sendiri apa kabar?
Maaf sudah membuatmu sakit hati dengan keputusanku. Aku senang sekarang kamu sudah bisa menerimanya. Kita akan selalu menjadi teman. Kalau ada masalah jangan sungkan untuk cerita ya dek?
📨Aku
Kabar aku juga baik mas. Mas juga kalau ada yang mau di ceritakan, aku siap mendengarkan. Hehehhe.
📩Mz Afif.
Iya dek. Ya sudah aku kerja dulu ya dek. Aku lembur.
📨Aku
Oke mas. Hati - hati kerjanya.
Setelah ku kirim pesanku. Sudah tidak ada lagi balasan darinya. Mungkin dia sudah kembali bekerja. Sebenarnya aku masih ingin lebih lama ngobrol lagi, tapi aku tidak mau rasa itu malah tumbuh semakin dalam lagi. aku harus bisa tau posisi membatasi diri.
Lagi pula sekarang aku sudah jadi pacar bang Rian, sebisa mungkin menjaga perasaannya dan sedikit demi sedikit belajar mulai mencintainya.
Malam hari seperti biasa, belajar sama bang Rafid di teras lagi. Saat sedang belajar, bang Rian keluar dari rumah sudah dengan baju santainya.
" Mau kemana om? " Tanya bang Rafid.
" Iya udah rapi gitu, mau kemana bang? " aku ikut bertanya.
" Cuma mau cari makan ke depan sebentar dek, Rafid mau dibeliin apa? "
" Ayam goreng seperti biasa om, " jawab bang Rafid.
" Kamu mau apa dek? " bang Rian bertanya kepadaku.
" Nggak usah lah bang, tadi aku sudah makan kok."
" Beneran nih, nggak mau dibeliin apa gitu? "
" Iya bang. Ya sudah sono abang buruan gih berangkat. Ganggu orang lagi belajar aja. "
" Salah siapa belajar di luar, "
" Ya nggak salah siapa - siapa, pengen cari suasana baru bang. Ya sudah sono abang berangkat. Hati - hati bawa motornya. "
" Cie, ada yang perhatian nih. "
" Ihh abanggggg!! "
__ADS_1
" Iya iya dek abang pergi. "
Aku melanjutkan belajarku lagi. Sampai bang Rian kembali kita belum selesai. Bang Rian pun langsung masuk tanpa menyapa kami. Mungkin dia tidak mau mengganggu kami yang sedang serius belajar.
" Oke bang, sudah selesai. Dilanjut besok lagi, "
" Akhirnya, aku sudah lapar kak, nggak sabar mau makan. Oh iya kak temen Rafid namanya Rara juga sama lo kaya Rafid dulu, sampai sekarang belum bisa baca,"
" Masa sih ? satu kelas sama abang ? "
" Iya kak, itu loh kak. Anaknya ibuk yang punya konter samping warung Ajo."
" Oh yang anaknya kurus, putih, cantik, rambut pendek ya bang? "
" Iya kak. Boleh nggak kak kalau dia belajar bareng sama kita? sebentar lagi Rafid ujian kak, "
" Boleh aja bang kalau dianya mau, tapi ya bisanya belajarnya malam kaya gini bang. Kalau siang kakak jagain dedek. Kalau sebentar lagi ujian, berarti abang harus bener -bener dong belajarnya. Itu soal hitung - hitungannya abang masih sering salah, besok belajar ngitungnya dibanyakin ya bang? kan kalau bacanya abang sudah lancar ."
" Siap kak. Rafid ngikut kakak aja. Ya sudah Rafid mau makan dulu, udah nggak sabar, pasti ayam ku sudah menanti kak, kasian ."
" Hahahhahha si abang bisa aja. Eh bukanya tadi sebelum belajar sudah makan ya bang? "
" Kan sudah lapar lagi kak, "
" Ya ampun si abang, tengok ha, perut abang sudah kaya badut no, jangan gendut - gendut napa bang? "
" Tapi ini sudah kosong kak. Buat belajar tadi. "
" Hahahahaha ada ada aja abang, awas lho nanti kegendutan kaya bola, "
" Tuh kakak sekarang juga gendut. Hehehe"
" Ini namanya badannya berisi bang, belum gendut, hehehe"
" Sama aja kali kak. Hehehehe ya sudah
Rafid masuk duluan ya kak. "
" Iya bang. " Jawabku gemas sambil mengacak acak rambut bang Rafid.
Belajar bareng bang Rafid itu, ada kebahagiaan tersendiri buatku. Selain aku suka mengajar, aku juga bisa belajar bersabar dan belajar banyak hal. Perkembangan bang Rafid itu kebanggaan tersindir buatku. Apa yang aku ajarkan ternyata mampu diterima oleh bang Rafid.
Yah belajar bareng bang Rafid sangat menghibur. Karena aku suka pekerjaan ini, jadi aku sangat menikmatinya.
Setelah bang Rafid pergi, aku berpindah duduk di kursi samping rumah. Ku pandangi pesona langit malam ini, bulan bulat sempurna dihiasi hamparan lautan bintang, sungguh pemandangan yang sempurna. Saat memandang luasnya langit, hatiku terasa lega seakan tidak ada masalah dan beban pikiran. Itulah kenapa aku begitu suka duduk memandangi langit saat malam tiba.
Aku merasa ada tangan yang menyentuh pundak ku, itu membuatku terkejut, sehingga menyadarkan aku dari lamunanku.
" Eh abang, bikin kaget aja. Lain kali jangan ngagetin gitu napa bang? "
" Suruh siapa ngelamun? ngelamunin apa sih pacarku ini? " tanya abang yang akan duduk disebelah ku.
" Siapa yang ngelamun sih bang? "
" Abang datang aja adek nggak menyadarinya, apa itu nggak ngelamun namanya? masih mikirin mantan adek ya? "
" Nggak kok bang, "
" Iya juga nggak papa kali dek. Abang tau pasti adek belum bisa ya lupain dia? "
" Huh, untuk melupakannya aku memang nggak pernah bisa, bukan hanya dia, semua orang yang pernah hadir dalam hidupku, aku nggak akan bisa melupakannya bang, apa lagi yang sudah kenal lama. Tapi memang aku nggak lagi mikirin dia bang, tuh lagi fokus liatin bulan sama bintang, cantik banget malam ini. "
" Cantikan juga adek. Itu bulan cantik - cantik jauh. Kalau adek kan sudah cantik dekat lagi bisa abang peluk - peluk. Hehehe"
" Apaan sih bang. "
" Lah memang iya kan? "
" Iya, terserah abang aja. "
" Dek masuk yok sudah malam, " ajak abang sambil menyenderkan kepalanya dibahu ku.
" Ngajak masuk kok malah nyender sih bang, abang capek ya? "
" Iya dek capek banget, hari ini kerjaan banyak banget. "
" Duh kasiannya abang ku ini."
" Iya peluk geh, biar ilang capeknya."
" Ihh maunya, kan abang sudah senderan gimana aku bisa peluk? "
" Adek berdiri dulu geh."
Aku pun mengikuti perintah abang, aku sudah berdiri lalu abang menarik tanganku agar aku duduk dipangkuannya, aku menurut saja.
" Jangan gini ah bang, aku berat, aku gendut."
" Bentar aja dek. Adek nggak berat, kata siapa adek gendut? " tangan abang sambil memeluk pinggangku lalu mendekatkan wajahnya di dadaku.
__ADS_1
" Abang geli jangan gitu, turunkan ya? kata bang Rafid aku gemuk."
" Adek nggak gemuk, abang suka adek kaya gini, dengan tinggi badan adek yang segini adek keliatan berisi. "
" Apa iya? "
" Iya, adek cantik, abang suka. "
" Ih gombal."
" beneran adek. Dek liat abang, "
" Iya bang, Apa? " tanyaku sambil agak menunduk melihat wajah abang, karena aku dipangkuan abang, jadi aku lebih tinggi dari abang.
Abang menahan tengkukku lalu mengecup bibirku. Aku pun terkejut hingga membuat mataku membulat sempurna.
" Abang apaan sih. itu ciuman pertamaku, ihh abang. "
" Oh ya? wah suatu kehormatan untuk abang bisa mengambil ciuman pertamamu."
" Iya abang sudah mencurinya. Sudah ah aku mau masuk, sebal sama abang."
Saat hendak turun dari pangkuan, abang menahan ku, lalu abang malah kembali mencium ku. Kali ini bukan cuma kecupan tapi dengan *******.
Abang mengigit bibirku, itu membuatku membuka mulutku. Lidah abang langsung menerobos menari dengan lihai di sana. Aku masih kaku tidak bisa mengimbangi permainannya tapi aku sangat menikmati permainannya.
Tangan abang mulai jail meraba sana - sini. Meraba bukit indah ku dari luar baju, membuatku kegelian, ini baru pertama kali untukku.
Karena tidak puas hanya meraba diluar baju, tangan abang pun menelusup kedalam baju. Saat tangan menelusup kedalam dan meraba perutku, aku menarik tangan agar abang menghentikan aktifitas itu.
Aku sudah mulai kehabisan nafas. Tapi abang belum mau melepaskan pangutannya. Dengan terpaksa aku mengigit lidahnya.
" Adek kok digigit, sakit. "
" Nafasku abis bang." jawabku masih dengan nafas yang belum teratur.
" Berarti harus sering latihan biar bisa atur nafas dek, hehehe.
" Apaan sih bang, nggak jelas banget. "
" Adek kalau lagi malu gini, lucu tau, jadi gemas, jadi pengen gigit lagi. Lagi ya, bentar aja? "
" Sudah nggak ada lagi - lagi, malu kalau diliat orang. "
" Nggak ada yang liat, nggak ada siapa - siapa disini selain kita. Lagi ya dek? "
" Nggak mau bang."
" Salah siapa bibir adek nagih banget. Kan abang jadi kecanduan."
" Alasan. Turunin geh bang tadi katanya suruh masuk. "
" Bentar dulu, tadi kenapa tangan abang ditarik? "
" Biar nggak kebablasan. Salah siapa tangannya kemana - kemana nggak bisa diem. Geli bang."
" Ya itu naluri alamiah dek. Hahaha. "
" Ya sudah turunin dulu geh."
" Oke oke, pelan - pelan dek. Ya sudah gih adek masuk. Nanti malah abang nggak bisa nahan lagi."
" Hahaha. Sukurin, sudah ah aku masuk. good night abang." kataku sambil berlari kecil menjauh dari abang.
" Awas aja besok dek. "
Abang mengejar dan memelukku dari belakang.
" Good night juga dek. Selamat istirahat, semoga mimpi indah. Jangan sedih lagi ya, abang nggak suka liat adek sedih. "
Lalu aku berbalik menghadap abang.
" Terimakasih bang sudah memastikan aku selalu tersenyum."
Abang pun mengecup keningku.
" Selama masih sama abang tak kan ku biarkan nona cantikku ini bersedih. Terimakasih untuk ciumannya dek. Hahaha. "
" Sudah ah abang jangan gitu, aku malu."
" Ntah kenapa godain kamu itu asik dek. Hahaha. "
" Adek masuk ya bang. "
" Silahkan tuan putriku. "
Aku pun masuk dengan senyum mengembang di bibirku. Sambil menyentuh bibirku, aku senyum - senyum sendiri nggak jelas.
Sensasi yang abang berikan tadi masih tersisa membuat jantungku terus berdebar.
__ADS_1
Abang memberiku kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Kenikmatan yang seharusnya belum pantas aku nikmati. Didalam hatiku tidak membenarkan hal yang barusan aku lakukan. Tetapi sensasi yang telah aku dapatkan menepis semua pemikiran yang demikian, dan membenarkan kesalahan yang mulai perlahan aku lakukan. Hingga membuatku ketagihan.
Disitu aku belum mulai menyadari bahwa tanpa sadar aku sudah memasuki lubang hitam.