
Tania langsung tidur menikmati kasur yang menurutku tidak jauh lebih baik dari kasur yang ada di kamar Tania.
"Mbak," lirih Tania.
"Iya, kenapa Tania? " sahutku.
"Seandainya saja aku punya Mama seperti mbak Senja, aku pasti akan merasa bahagia," ujar Tania.
"Jangan seprti itu! bagaimanapun Mama Tania, dia adalah orang yang pernah mengandung dan melahirkan Tania, jadi jangan berfikir yang Tidak-tidak!" aku merasa kasihan sekaligus terkejut dengan ucapan Tania, tapi bagaimanapun Tania harus tetap menghargai sang Mama, dia tetap Ibu dari Tania.
Tania tak lagi menjawab ucapanku, sepertinya dia tertidur dan aku hanya tersenyum menatap ke arah punggung Tania sambil mengusap lembut punggungnya.
Malam panjang telah usai, kini mentari pagi mulai menyinari bumi, memberi harapan baru bagi siapapun yang tengah berjuang.
Aku sengaja bangun lebih pagi untuk membantu Ibu memasak. Sedang Tania masih lelap dalam tidurnya.
"Mbak, kenapa tidak bangunkan aku?" suara Tania mengalihkan perhatianku yang sedang serius menumis sayuran.
"Tania tidur begitu lelap, Mbak Senja tidak tega mau membangunkannya," jawabku jujur.
__ADS_1
Semua tidak sesuai dengan kenyataan, Tania yang aku fikir akan merepotkan ternyata tidak, dia malah terlihat menikmati malam hari di kamarku yang cukup sempit dan agak panas.
"Mbak, aku mau minum susu." Ujar Tania.
Untung saja Ibu sudah menyiapkan susu, dia yang mengerti kebiasaan Tania langsung membuatkan susu yang sama seperti susu yang biasa di siapkan dj rumah Tania,
"Cusi muka dulu, Tania! setelah itu baru minum susu," tuturku yang melihat Tania masih acak-acakan tapi sudah duduk di kursi meja makan.
"He he he aku lupa Mbak," sahut Tania yang langsung turun dan berjalan ke arah kamar mandi.
Tok tok tok ....
"Biar Ibu yang buka, kamu lanjutkan saja makanya!" seru Ibu yang berjalan ke arah tuang tamu, sedang Tania masih asyik memainkan game di ponselku, semalam dia mendownload aplikasi game baru.
"Khem," suara deheman seorang pria terdengar mengalihkan perhatianku dan Tania.
"Papa!" teriak Tania nyang langsung menaruh ponselku di atas meja dan langsung berlari memeluk sang Papa yang kini berdiri tak jauh dari tempat Tania duduk.
"Bagaimana kabarmu Sayang?" tanya Tuan Arka.
__ADS_1
"Pa, aku baru semalama menginap di sini dan Papa bertanya seolah Tania susah berada di sini berbulan-bulan," ujar Tania dengan senyum yang merekah.
"Papa hanya ingin memastikan saja," ujar Tuan Arka.
"Dia baik-baik saja Tuan, saya menjaganya seperti saya menjaga putri saya sendiri, meskipun saya masih punya putri tapi Tania akan aman bersama saya," sahutku yang merasa jika saat ini Tuan Arka terdengar kurang percaya padaku.
"Bagus jika memangs seperti itu," sahut Tuan Arka.
"Kamu masak ap?" tanya Tuan Arka menoleh ke arah kompor yang masih menyala.
"Ini Tuan, aku masak sayur kangkung," jawabku yang memang harus tetap bersikap sopan meski ucapan Tuan Arka sedikit menyakitkan.
"Sepertinya enak," ujar Tuan Arka.
"Tuan bisa makan di sini," tawarku.
'Bilang aja kalau mau makan gratisan!' batinku mulai mengomel.
"Tuan Arka bisa sarapan di sini jika berkenan," sahut Ibu yang ikut menawari makanan untuk Tuan Arka.
__ADS_1
"Sebenarnya aku membawakan makanan untuk kalian, tapi kelihatannya masakan kalian jauh lebih menarik, jadi aku akan sarapan di sini," jawab Tuan Arka yang langsung duduk di meja makan tanpa menunggu perintah dari pemilik rumah.