Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Tatapan penuh tanya


__ADS_3

Aku yang tidak ingin terlihat lemah dan di sepelekan memilih untuk memberanikan diri ikut masuk ke dalam wahana terkutuk itu.


"Aku tidak takut, dan aku akan ikut masuk bersama Tania dan Tuan," sahutku.


Aku berusaha bersikap sebisa mungkin meski tubuhku sedikit bergetar karena merasa takut.


"Bagus, ayo masuk!" ajak Tuan Arka yang langsung meraih tanganku dan tangan Tania bersamaan.


Apa yang baru saja di lakukan oleh Tuan Arka membuatku merasa heran sekaligus terkejut, jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya merasakan genggaman tangan Tuan Arka yang terasa begitu lembut di tangan. Sejenak aku pejamkan mata merasakan wahana biang Lala yang mulai bergerak.


"Apa Mbak Senja takut?" suara Tania menyadarkan aku jika saat ini aku tidak sendirian berada di wahana ini.


"Eh, tidak Tania," jawabku kembali berbohong.


"Kalau tidak takut kenapa Mbak Senja menutup mata?" Tania kembali bertanya dan aku hanya diam tak bisa menjawabnya.


"Jangan takut! ada aku dan Tania bersamamu di sini," seru Tuan Arka sambil tersenyum ke arahku, senyuman yang sangat jarang aku lihat, senyum yang bisa di bilang langkah itu, kini terlihat begitu menawan.


"Sebenarnya aku phobia ketinggian," jujurku, seharusnya sudah sejak awal aku mengatakannya, tapi apalah daya, aku yang awalnya ingin terlihat kuat kini memilih untuk jujur.


Tanpa ada suara ataupun sahutan, Tuan Arka meraih tanganku dan menggenggamnya erat, dan apa yang di lakukannya membuat mataku langsung terbuka lebar.


"Tuan," panggilku seraya mencoba melepaskan genggaman tangan Tuan Arka yang terasa semakin kuat.

__ADS_1


"Diamlah! biar aku membantumu menyembuhkan phobiamu," ujar Tuan Arka yang semakin membuatku heran dan terkejut.


Aku diam menatap heran ke arah Tuan Arka tanpa memperdulikan apapun saat ini, dan tanpa memperdulikan wahana yang terus merangkak naik hingga kembali turun tanpa aku sadari ataupun aku rasakan, aku hanya terfokus menatap ke arah Tuan Arka Yangs sekali menjawab celotehan Tania yang justru terdengar samar di telingaku.


"Ayo turun!" ajakan Tuan Arka mengejutkanku yang masih Ayik melamun.


"Eh, iya, kenapa?" sahutku.


"Ayo turun! kita sudah sampai di bawah," sekali lagi Tuan Arka mengulang kata-katanya.


Aku yang baru saja sadar langsung ikut turun dari wahana tanpa membalas ucapan Tuan Arka.


"Bagaimana apa sekarang kamu masih takut dengan ketinggian?" tanya Tuan Arka.


"Apa semua itu karena kamu sedang memperhatikan aku?" tanya Tuan Arka.


"Eh, apa? memperhatikan Tuan Arka," sahutku mencoba meyakinkan diri dengan apa yang baru saja di katakan oleh Tuan Arka.


"Pa, Mbak Senja, ayo pergi ke sana!" suara Tania menyadarkan aku dan Tuan Arka jika saat ini kita sedang berada di tengah pasar malam bersama Tania yang ada di tengah-tengah kami.


"Tania mau ke mana?" tanyaku pada Tania yang terlihat begitu antusias melihat ke arah pedagang sosis.


"Aku ingin makan sosis bakar, ayo beli sosis itu!" jawab Tania sambil menarik tangan Tuan Arka dan tanganku bersamaan.

__ADS_1


Kami bertiga berjalan mendekat ke arah stand penjual sosis, membelikan beberapa jenis sosis yang di inginkan Tania.


"Makanlah!" Tuan Arka menyodorkan satu bungkus sosis bakar berukuran besar ke arahku.


"Terima kasih, Tuan," jawabku.


Malam ini adalah malam yang penuh keanehan, Tuan Arka bersikap begitu manis dengan senyum yang mampu membuatku kagum padanya, meskipun aku tahu jika kekaguman ini tidak sebaiknya tumbuh dalam diriku, tapi aku manusia biasa yang tak hisa menahan segala anugerah yang telah di berikan, termasuk anugerah rasa kagum yang kini aku rasakan.


"Harusnya aku yang berterima kasih padamu Senja, terima kasih karena kamu sudah bersedia menemaniku ke pasar malam," sahut Tuan Arka yang memang merasa bersyukur karena aku mau menemaninya dan bersedia menjaga Tania.


"Aku akan melakukannya selama Tania merasa senang dan bisa tersenyum karenanya," jawabku jujur, aku mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan, Tania adalah alasan utamaku mau melakukan semua ini, melihat sia kekurangan kasih sayang membuatku merasa kasihan dan insting seorang ibu yang ada dalam diriku langsung keluar tanpa bisa di tahan ataupun di perintah, semua mengalir secara alami tanpa di buat-buat.


"Mbak Senja, apa Mbak mau minum?" tawar Tania sambil menyodorkan satu gelas plastik berukuran cukup besar berisi teh hangat.


"Eh, minum ini?" sahutku bingung sekaligus tudak enak hati, bagaimana mungkin aku minum di gelas yang sama dengan gelas yang di pakai Tania yang notabennya seirang majikan.


"Iya, memangnya kenapa? Mbak Senja gak mau, atau Mbak Senja gak suka teh?" ujar Tania menatap bingung ke arahku.


"Mbak Senja minum air putih saja," sahutku mencari alasan agar Tania tidak memaksaku untuk meminum teh yang dia tawarkan.


"Kamu tidak suka teh?" suara Tuan Arka kembali terdengar membuatku merasa semakin aneh, sejak kapan Tuan Arka suka menanyakan hal yang tidak penting dan tidak berhubungan dengan pekerjaan.


"Aku suka teh," jawabku yang memang menyukai teh, mungkin terdengar aneh karena aku menolak tawaran Tania, tapi aku memang menyukai teh.

__ADS_1


"Kalau suka kenapa tidak mau minum teh yang di tawarkan Tania?" tanya Tuan Arka heran sambil menatap penuh tanya ke arahku.


__ADS_2