
Aku terkejut melihat Ibu yang duduk anteng di kursi tepat di samping Sam yang kini tersenyum manis ke arah Ibu.
"Sejak kapan Ibu duduk di sini?" tanyaku menatap heran Ibu yang terlihat sumringah duduk di samping Sam.
"Sejak kamu masuk ke dapur," jawab Ibu santai.
"Ibu dan Sam terlihat begitu asyik mengobrol, apa yang sedang kalian obrolkan?" tanyaku sesaat setelah duduk di teras yang berada tak jauh dari keduanya.
"Aku dan Ibu sedang membicarakan rencana pernikahan kita," jawab Sam dengan senyum sumringah yang terlihat di wajahnya.
"Aku masih ingin bekerja Sam, dan aku harap kamu tidak melupakannya," aku kembali mengingatkan Sam atas apa yang aku ucapkan dulu.
"Kamu bisa terus bekerja meski sudah menikah Senja, karena aku tidak akan melarang kamu bekerja," ujar Sam mencoba meyakinkan diriku.
"Tetap saja aku ingin fokus bekerja lebih dulu Sam, aku harap kamu mengerti dan tidak memaksaku untuk segera menikah, Aku masih ingin menikmati hari-hariku sebagai remaja," aku mengungkapkan apa yang aku inginkan tanpa menyinggung perasaan Sam.
"Aku tidak akan memaksamu Senja, Aku akan bersabar menunggumu hingga kamu siap nanti," ucapan Sam cukup membuat hatiku tenang dan tentram, semoga saja apa yang di katakan Sam benar-benar dia lakukan nanti.
"Kalau begitu Ibu tinggal pergi dulu. Kalian mengobrol saja dulu." Pamit Ibu yang kini berdiri melenggang pergi meninggalkan aku dan Sam yang masih setia duduk di tempat.
"Bagaimana kalau kita tunangan dulu?" usul Sam sambil menatap lekat ke arahku.
__ADS_1
"Sam, Aku tidak punya biaya untuk menerima tamu saat ini, Aku mohon mengertilah! setidaknya jangan membahas ini dulu," jawabku jujur, melihat keadaanku dan Ibu saat ini, sangat tidak mungkin kami pergi mengadakan acara baik itu acara besar maupun kecil.
"Biar aku yang membiayai semuanya." Ujar Sam yang kini justru terlihat tidak sabar ingin mengikat diriku.
"Sam, aku memang berasal dari keluarga miskin, tapi aku masih punya harga diri untuk tidak meminta biaya padamu," ujarku.
Aku memang tidak ingin meminta ataupun di beri uang oleh Sam, Aku khawatir keluarga Sam menganggapku memanfaatkan kekayaan yang di miliki oleh Sam, karena itulah sebisa mungkin aku menolak pemberian Sam, kecuali jika dia memaksa atau sesuatu yang masih di anggap wajar seperti makanan.
"Aku calon suamimu Senja, bukankah hal yang wajar jika aku membantumu mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut pernikahan kita?" ujar Sam yang terlihat ingin membantuku.
"Sam, jangan buat keluargamu berfikir jika aku menikahinya karena harta yang kamu miliki, aku tidak ingin hal itu terjadi," sahutku kembali mencoba memberi pengertian pada Sam.
"Aku bangga menjadi kekasihnya, dan aku merasa sangat bersyukur memilikimu sebagai kekasihku Senja," ujar Sam yang kini menatap lekat ke arahku.
Bukan aku sok kaya menolak pemberian Sam saat ini aku hanya tidak ingin direndahkan oleh keluarga Sam hanya karena keadaanku dan status sosial yang kumiliki saat ini, Aku tidak ingin keluarga saya memandang rendah diriku jika suatu saat nanti kami memang berjodoh, Karena itulah sebisa mungkin aku tidak menerima pemberian dari Sam kecuali jika Syam memberikan sesuatu yang tidak terlalu berharga.
"Bersabarlah! Setidaknya Tunggu aku satu atau dua bulan lagi aku akan memberitahumu jika sudah siap nanti, " janjiku pada Sam.
2 bulan ke depan aku pasti bisa mengumpulkan uang untuk membiayai pertunanganku sendiri, meski hanya acara sederhana tapi aku dan ibu pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena itulah aku harus menabung dan mengumpulkan uang agar ibu tidak terbebani dengan acara pertunanganku nanti.
Ada di desaku berbeda dengan adat yang ada di kota, di desaku jika ingin bertunangan keluarga mempelai laki-laki harus datang meminta ke rumah keluarga mempelai wanita Begitupun sebaliknya setelah acara pertunangan diadakan di rumah mempelai wanita maka bergantian keluarga mempelai wanita yang harus datang ke rumah mempelai laki-laki, meski terdengar sederhana tapi percayalah biaya yang harus dikeluarkan cukup banyak karena kami harus Menyiapkan makan untuk keluarga sama begitu pula kami juga harus menyiapkan barang bawaan yang akan kita bawa ke keluarga Sam setelah keluarga Sam datang ke rumah.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memaksamu senja Aku harap kita berjodoh dan apa yang kita rencanakan akan menjadi kenyataan, "Sam mengungkapkan harapan yang terbesit dalam hatinya.
Cukup lama kami berbincang dan bercanda mengenang masa lalu yang mungkin menurut sebagian orang tidak begitu penting untuk dibicarakan tapi sangat asik untuk kami perbincangkan saat ini.
"Mbak senja!!!" Teriakan Tania terdengar keras dan mengejutkanku yang sedang asyik berbincang dengan Sam.
"Tania Apa yang kamu lakukan di sini?" Mendengar suara Tania yang berteriak memanggilku reflek aku berdiri dan mencari sumber suara. Hingga kulihat Tania yang sedang berlari dan baru saja turun dari mobil mewah yang memang tak kudengar suaranya hingga aku tak sadar jika ada mobil yang sudah terparkir cantik di depan rumahku tepat di sebelah motor Sam yang sedang terparkir di sana.
"Aku kangen Mbak senja," sahu Tania yang langsung berlari dan memelukku dengan begitu erat.
Melihat sikap Tania yang begitu manja dan merindukan Diriku, Sam terkejut menatap penuh tanya ke arahku yang ku balas dengan senyuman yang memiliki arti jika nanti aku akan menjelaskan semua yang dia lihat padanya nanti, dan Sam yang mengerti dengan isyarat yang kuberikan hanya dia menyaksikan apa yang sedang terjadi di hadapannya.
"Kamu ke sini dengan siapa, Tania?" Tanyaku menatap Aneh ke arah Tania saat ini.
" Aku sama sopir pribadi Oma," jawab Tania dengan ekspresi wajah polos menatapku penuh rasa bahagia.
"Apa Oma tahu jika kamu datang ke sini ke rumah Tania?" tanyaku merasa Curiga dengan kedatangan Tania yang tiba-tiba.
"Tentu saja tidak, Aku baru saja pulang dari les bahasa Inggris, tadi aku mengerjakan semua soal dari tutorku dengan sangat cepat. Karena itulah aku masih memilih waktu setengah jam untuk jalan-jalan tanpa diketahui Oma dan yang lain," Tania menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa harus berbohong Tania? Seharusnya kamu jujur saja pada Oma Jika kamu ingin ke sini, dan kamu tidak perlu berbohong, Bukankah Mbak sudah pernah mengajarkanmu jika berbohong itu dosa?" Aku yang tidak ingin Tania tumbuh jadi gadis pembohong jika sudah besar nanti.
__ADS_1
"Oma tidak akan mungkin mengizinkan ku pergi, apalagi jika Oma tahu kalau aku pergi ke rumah Mbak senja." Jawab Tania.
"Kenapa Oma melarangmu bermain ke sini Tania?" Aku mencoba mencari tahu alasan Oma Tania melarangnya datang ke rumah.