Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Pengganggu Hari Libur


__ADS_3

"Maaf untuk apa Ibu?" tanyaku merasa aneh dengan kata maaf yang terucap dari bibir Ibu.


"Maaf karena Ibu tidak bisa membahagiakanmu, dan maaf karena Ibu hanya bisa menyusahkanmu, kamu harus rela kembali menjalin hubungan dengan Sam yang seharusnya sudah kamu jauhi, karena hutang Ibu dan Ayah, kamu harus berkorban juga mencari cara agar keluarga Sam yang memang memiliki sifat sombong itu luluh dan menerimaku sebagai menantu di sana," Ibu menjelaskan kata maaf yang baru saja dia katakan.


"Maksud Ibu sombong bagaimana?" tanyaku yang kini merasa aneh sekaligus penasaran dengan penjelasan Ibu yang mengatakan jika Keluarga Sam memiliki sifat sombong.


"Keluarga Sam memang selalu memandang orang lain dari harta yang mereka miliki, tapi hutang budi kita pada Sam yang sudah dia berikan tak bisa kita abaikan dan semua itu gara-gara aku dan ayahmu," jelas Ibu.


"Ibu, semua yang terjadi adalah takdir dan Ibu tidak usah merasa bersalah ataupun menyesal atas apa yang sudah terjadi, jadi tidak usah memikirkan hal yang tidak penting," tuturku,


"Tetap saja, semua yang terjadi termasuk buah perbuatan Ayah dan Ibu di masa lampau," Ibu tetap bersikeras menganggap jika semua yang terjadi karena perbuatan nya di masa lalu, meski aku tahu semua itu benar, aku tidak ingin menyalahkan Ibu atau bahkan Almarhum Ayah.

__ADS_1


"Sudah, jangan di bahas lagi Ibu! lebih baik sekarang kita istirahat agar bisa kembali bekerja dengan keadaan lebih fresh dan sehat besok," terus berdebat bukanlah hal yang baik untuk di teruskan, lebih baik kita beristirahat dan berkelana di alam mimpi yang lebih sering indah dari pada dunia nyata tang penuh cobaan.


"Baiklah, sekarang kita istirahat, mimpi indah putriku," sahut Ibu sambil mencium kening ku dengan penuh kasih dan Sayang, sungguh Ibu tak pernah berubah sedikitpun, rasa cinta yang dia tunjukkan dan curahkan padaku tetap sama seperti dulu saat aku masih bayi hingga saat ini.


Malam penuh mimpi yang indah, mimpi yang selalu menemaniku di setiap suka dan duka, air mata tak pernah sekalipun menetes dalam dunia mimpi yang datang setiap malam, sungguh indah, tapi sayang hanya sementara.


"Senja!!" suara yang cukup lama tak menyapa telingaku kini kembali ku dengar, padahal hari ini hari minggu, seharusnya aku bisa tidur lebih lama dari biasanya, dan biasanya juga Ibu tak pernah membangunkanku, tapi kenapa pagi ini suara Ibu menggelegar bagai petir di siang bolong.


"Ibu! sekarang hari minggu, bisakah aku tidur lima menit lebih lama dari biasanya?" sahut ku dengan posisi masih nyaman mendekam di balik selimut tebal nanti lembut yang selalu menghangatkan malamku.


"Ibu, bilang saja kalau aku sedang tidur dan tidak bisa di ganggu," sungguh aku sangat malas untuk menemui orang di pagi buta saat hari libur seperti saat ini.

__ADS_1


"Tamu kali ini tidak akan bisa di tolak, jika kamu tidak mau menemuinya, maka pekerjaanmu yang menjadi jaminannya," tutur Ibu.


Mendengar kata pekerjaan, aku langsung duduk menyibak selimut yang sejak tadi tak rela pergi dari tubuhku.


"Memangnya siapa sih tamunya, sok penting banget," keluh ku sambil berjalan keluar dari kamar dengan keadaan yang masih sama seperti bangun tidur tadi. Sedang Ibu melenggang pergi meninggalkanku menuju dapur dan aku melangkah keluar menemui tamu agung pemaksa yang mampu membuatku meninggalkan kasur dan selimut ternyaman yang sedang menemani mimpi indahku.


"Mbak Senja!!" suara renyah Tania langsung membuat mataku terbuka lebar.


"Tania," sahut ku dengan ekspresi terkejut yang tak bisa aku sembunyikan dari siapapun.


"Mbak Senja baru bangun?" sambung Tania.

__ADS_1


Aku masih mematung menatap kedua insan yang berbeda kelamin dan status juga umur sedang duduk di ruang tamu. Keduanya menatap intens ke arahku tanpa berkedip sedikitpun.


"Mbak Senja!!" sambung Tania yang sukses membuatku sadar jika saat ini aku berdiri di hadapan Tuan Arka dan Tania dalam keadaan yang tak seharusnya, rambut acak-acakan tanpa make up, belek yang mungkin sedang asyik nangkring di ujung mata atau mungkin air li**r bekas semalam sudah mengering dan membekas di pipiku, astaga!! aku berada dalam keadaan yang sungguh tak pantas dan sangat memalukan, tanpa membalas kata Tania atau berniat menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang Tania ajukan aku berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Tania dan Tuan Arka yang masih setia duduk di kursi ruang tamu.


__ADS_2