
Cukup lama Aku berusaha membuat Tania terlelap, meski sedikit sulit karena Tania terus aja marahnya meminta ku menceritakan sebuah dongeng yang biasa dibacakan oleh Oma.
"Akhirnya terlelap juga," lirik Ku merasa lega setelah melihat Tania terlelap dalam pelukanku, rasa kantuk dan lelah terus saja menyerangku semakin menguasai diriku Ketika aku melihat Tania Sudah terlelap dalam mimpinya, mataku tak lagi terbuka hingga entah Sejak kapan akhirnya aku tertidur dengan posisi memeluk Tania.
"Sayang, bangun!" Suara rambut seorang laki-laki yang Cukup membuatku terus terdengar di telinga, meski Suaranya sangat iri tapi terdengar begitu jelas di telingaku, semua itu terjadi karena laki-laki yang memanggilku itu berbisik tepat di telinga.
"Tuan Arka," lirihku yang spontan langsung berdiri di samping Tuan Arka yang tengah membungkuk.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyaku penuh hormat, aku bertanya sambil membukukan badan menunjukkan rasa hormat kepada bos di mana tempat aku bekerja.
Tanpa banyak bicara Tuan Arka langsung menarik tanganku dan memaksaku ikut bersamanya, sungguh aku merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh Tuan Arka saat ini, kenapa tiba-tiba aku ditarik dan dipaksa ikut bersamanya, yang aku saja rasanya belum terkumpul dengan sempurna tapi Tuan Arka langsung menarikku dan mengajakku ikut bersamanya untuk masuk ke dalam kamar yang kutahu jika kamar itu adalah kamarnya.
"Apa kamu melupakan statusmu sekarang?" Tanya Tuan Arka sambil bercetak pinggang berdiri tegak di depanku dengan wajah yang cukup mendominasi.
"Maksud Tuan apa?" Aku yang masih bingung kembali bertanya dengan maksud dari ucapan Tuan Arka saat ini.
"Aku sekarang suamimu, dan berhenti memanggilku Tuan! Karena aku sekarang bukan majikanmu," bekas Tuan Arka yang membuatku sadar dan mengingat kembali kejadian tadi pagi, sejak tadi aku melupakannya mungkin semua itu terjadi karena nyawaku yang masih belum terkumpul dan aku baru saja bangun dari tidur lelapku.
"Maaf, aku tadi lupa karena nyawaku masih belum terkumpul sempurna Setelah bangun tidur tadi," ujarku sambil menundukkan kepala merasa bersalah dengan apa yang baru saja aku lakukan.
Tuan Arka terlihat menghirup nafas dalam kemudian melepaskannya perlahan terlihat jelas di wajahnya Jika dia sedang berusaha memperbesar rasa sabar yang mungkin saja sekarang sedang menipis.
__ADS_1
"Karena malam ini adalah malam pertama kita menjadi sepasang suami istri aku akan memaafkan semua yang kamu lakukan barusan, tapi jika suatu saat nanti kamu melupakan aku, ataupun statusmu yang saat ini telah menjadi istriku atau bahkan kamu tetap memanggilku dengan panggilan tuan maka aku akan menghukummu," ujar Tuan Arka tegas.
"Jika aku tidak boleh memanggilmu dengan sebutan Tuan, lantas aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" tanyaku yang merasa bingung dengan apa yang baru saja di katakan oleh Tuan Arka.
"Panggil aku Sayang, atau panggil aku seperti kebanyakan pasangan suami istri lain memanggil pasangannya!" Terang Tuan Arka dengan ekspresi wajah penuh ketegaaan, sedang aku yang cukup terkejut dengan perintah baru yang di berikan oleh Tuan Arka membuatku cukup merasa takut, aku benar-benar takut jika Tuan Arka marah dan menghukumku.
"Bagaimana kalau aku manggil Tuan Arka dengan panggilan Mas atau abang?" aku menawarkan panggilan yang biasa digunakan oleh pasangan suami istri lainnya, bukannya senang atau menerima dengan lapang dada Tuan Arka justru terlihat kurang senang dengan usulan panggilan yang aku berikan padanya.
" Aku bukan mas mas tukang bakso atau abang-abang tukang jual nasi goreng," ujar Tuan Arka.
Ternyata Tuhan Arka bukanlah laki-laki yang simple seperti yang aku bayangkan, dia jauh lebih rumit dari apa yang terlihat.
"Panggil aku Sayang atau kamu bisa memanggilku Papa," bisik Tuhan Arka.
Perlahan namun pasti Tuhan akan mulai melakukan apa Yang memang seharusnya dilakukan olehnya, meski awalnya terasa begitu sakit dan aneh tapi semakin lama rasa sakit itu menghilang seiring dengan sentuhan lembut yang telah diberikan oleh Tuan Arka.
Aku akui Tuan Arka yang memang pernah menikah memiliki pengalaman jauh di atasku, dia mampu membuatku terbang melayang jauh meski ada sedikit rasa sakit tapi rasa sakit itu tidak begitu terasa karena sentuhan lembut yang diberikan Tuan Arka.
"Ah~" lolos sudah, suara aneh yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya, kini terdengar menyapa telinga.
"Aku mencintaimu," bisik Tuan Arka seraya melanjutkan olahraga maju mundur yang membuatku melayang ke angkasa, hanya gerakan maju mundur tapi bisa memberikan sensasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
__ADS_1
"Terima kasih karena telah menjaganya untukku," bisik Tuan Arka setelah dia mengambil apa yang memang sudah menjadi haknya.
Kata terakhir yang terucap sebelum pada akhirnya dia terlelap dalam tidur, begitu pula denganku yang juga ikut terlelap dalam dekapannya.
Malam panjang penuh keindahan telah berlalu, kini tibalah sang mentari menyinari dunia, hidup baru suasana baru, dan orang-orang yang baru berada di sekelilingku meski dulunya aku pernah bekerja di sini tapi rasanya berbeda dengan sekarang karena dulu aku berada di sini sebagai Baby Sister Tania Tapi saat ini aku berada di sini sebagai mama sambungnya.
"Mama!" Suara nyaring milik Tania terdengar menggema hingga ke dalam ruang kamar Tuan Arka yang kini telah menjadi suamiku.
"Ada apa Tania?" Tanyaku sesaat setelah aku membuka pintu dan terlihat Tania berdiri tegak di hadapanku.
" kenapa Mama pergi meninggalkan aku semalam?" Sebuah pertanyaan yang sedikit sulit untuk aku jelaskan karena tidak mungkin aku menjelaskan pada Tania jika semalam aku Menghabiskan malam bersama Papanya.
" Tania, Apa kamu sudah bersiap?" Suara Tuan Arka yang datang dari belakangku sungguh menyelamatkan aku yang telah membisu mematung di hadapan Tania tanpa bisa menjawab pertanyaan yang baru saja dia ajukan.
Dan apa yang ditanyakan Tuan Arka sukses membuat Tania langsung berbalik dan pergi meninggalkan kamar karena saat ini dia memang tidak memakai seragam, Tania terlihat baru saja bangun dari tidurnya dan langsung menuju kamar dan menemui aku.
" kita masih punya waktu setengah jam, sayang," fisik Tuan Arka yang langsung memelukku dari belakang, menarikku masuk sambil menutup pintu.
" maksud Tuan Arka apa?" Tanya aku yang memang masih belum mengerti dengan apa yang baru saja dimaksud oleh Tuan Arka.
Tanpa penjelasan ataupun kata-kata Tuhan akan kembali melakukan apa yang semalam telah dia lakukan sungguh laki-laki dingin dan kejam yang selama ini Ku kenal sama sekali tak terlihat di wajahnya saat ini, Tuan Arka penuh kelembutan dan kasih sayang, dia juga memperlakukanku dengan sangat baik dan aku bahagia telah mendapatkan jodoh sepertinya Meskipun aku bukan orang yang pertama hadir dalam hidupnya tapi ku harap Akulah orang terakhir yang akan terus menemaninya hingga akhir hayat.
__ADS_1