
Aku hanya bisa menatap ibah pada gadis kecil yang saat ini sedang bersedih itu, sungguh gadis malang yang hidup di dalam istana.
"Mbak! kamu siapa namanya?" tegur Tania saat melihatku menata piring bekas makan keluarganya.
"Namaku Senja, Nona," jawabku yang mengerti harus memanggil gadis kecil di sampingku itu dengan sebutan apa, tanpa perlu di jelaskan.
"Apa kamu baru di sini?" tanya Tanya sambil menatap lekat ke arahku.
"Iya, aku menggantikan Ibuku yang masih sakit," puteri majikan memang harus di perhatikan, meski sebenarnya kehadiran Tanya justru menghambat pekerjaanku .
"APa Ibumu itu Bu Lastri?" tanya Tania dengan ekspresi penasaran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Iya, Nona," jawabku singkat,
"Aku menyukai Bu lastri, dia lembut dan sangat perhatian Apa kamu juga memiliki sifat yang sama? " tanya Tania dengan nada dan ekspresi wajah polos yang tergambar jelas di wajahnya.
"Aku memang menyukai anak kecil, tapi bukan pembangkang atau anak kecil yang suka melawan orang tua, kalau Nona Tania termasuk anak kecil yang seperti apa?" ujarku.
"Aku seorang Nona yang kesepian, aku butuh teman Mbak senja, apa kamu mau menjadi temanku?" tawar Tania dengan ekspresi penuh harap.
"Tentu saja, aku pasti akan menjadi teman Nona Tania, bahkan aku bisa jadi teman yang paling baik, tapi kalau Nona Tania juga jadi anak yang baik," sekarang aku sedikit mengerti bagaimana dan seperti apa keluarga majikan ibuku ini, aku tidak peduli pada ayah ataupun Ibu Tania, yang aku tahu saat ini Tania adalah gadis kecil yang sedang kesepian dan butuh teman ataupun pelukan seorang ayah dan ibu di sampingnya.
"Mulai hari ini kita berteman ya," ujar Tania dengan senyum yang merekah di bibirnya, sungguh saat ini Tania terlihat begitu bahagia setelah mendengar aku bersedia menjadi temannya.
__ADS_1
"Mbak senja Bisakah kamu menemaniku bermain di kamar?" tanya Tania.
"Tentu saja, tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Setelah itu kita baru bisa bermain bersama," jawabku menjanjikan Tania yang terlihat ingin segera bermain, aku memberi janji karena mengingat pekerjaanku yang masih menumpuk di dapur dan tidak mungkin aku meninggalkannya saat ini.
"Baiklah, jika Mbak senja memang mau menemaniku bermain, maka aku akan menunggu Mbak Tania di sini." Tania langsung berjalan dan mengambil tempat duduk yang ada di dekatnya kemudian dia Duduk menatap ke arahku dengan tatapan penuh kebahagiaan.
Dulu aku sering sekali berpikir jika hidup dan lahir di tengah-tengah keluarga kaya raya akan membuatku merasa begitu bahagia, karena dengan seperti itu aku bisa membeli apapun yang aku inginkan dan aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau saat itu juga. Tapi apa yang kulihat saat ini sungguh jauh berbeda dengan apa yang ku bayangkan sebelumnya, Tania memang bergelimang harta, ayah dan ibunya memiliki begitu banyak uang yang entah ada berapa nolnya, tapi Tania yang berdiri di hadapanku saat ini dia terlihat begitu kesepian jangankan sebuah kasih sayang yang dia harapkan, seorang teman saja dia terlihat tidak punya, Karena itulah aku yang memiliki kebiasaan tidak tega melihat orang lain bersedih, memilih menuruti permintaan Tania, tanpa ku tahu apa akibatnya, yang aku tahu saat ini aku hanya ingin bersama dengan Tania dan menghibur hati yang telah luka juga menghapus air mata yang telah menetes di pipi gembul milik Tania.
Cukup lama Tania menungguku membersihkan dapur aku memang sedang menguji dan ingin tahu seberapa sabar dan penurutnya Tania, aku membersihkan dapur dengan gerakan sedikit lamban sambil sesekali melirik ke arah Tania yang kulihat masih tersenyum menatap ke arahku tanpa ada rasa jenuh yang tergambar di wajahnya, aku tahu saat ini Tania pasti merasa bahagia karena dia akan mendapatkan teman baru Sungguh malang nasib sang putri yang satu ini.
"Apa Mbak senja sudah selesai? "Tanya Tania sambil turun dari atas kursi berjalan cepat menghampiri aku yang masih berdiri di depan tempat mencuci piring.
" sudah nona, Saya sudah membersihkan semua yang perlu saya bersihkan dan mengembalikan barang-barang yang memang harus Dikembalikan pada tempatnya, "jawabku yang kini ikut tersenyum melihat senyum bahagia di wajah Tania.
" tentu saja, kita bisa bermain sekarang, ayo bermain! " aja aku melihat ekspresi wajah Tania yang sejak tadi menunjukkan wajah penuh harap membuatku tak tega jika harus menolak atau membuatnya menunggu lebih lama lagi.
" hore, Akhirnya aku bisa punya teman" sorak Tania dengan Penuh tawa dan senyum bahagia.
Aku berjalan mengikuti langkah Tania menapaki tangga yang entah berapa jumlahnya. Sungguh saat ini Tania terlihat begitu bahagia Kaulah Aku hanya bisa tersenyum sambil terus menemaninya bermain beberapa barang bercanda dan bergembira.
Hari yang cukup menyenangkan, ternyata menjadi asisten rumah tangga tidak seburuk yang aku kira, apa yang aku kerjakan di tempat kerja, sama seperti
"Assalamu'alaikum," ucapku sesaat setelah aku sampai di depan rumah.
__ADS_1
"Waalaikum salam," sahut Ibu seraya membuka pintu rumah. Menyambut ku dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Bagaimana bekerja di tempat Ibu? apa ada sesuatu yang mengusik hatimu?" sambung Ibu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Tidak ada, aku malah merasa senang dengan orang-orang yang ada di sana, kecuali Tuan dan Nyonya yang kurang enak di lihat," aku menceritakan apa yang terjadi selama aku bekerja di sana.
"Apa itu artinya kamu senang bekerja di sana?" tebak Ibu.
"Lumayan suka, tapi yang aku heran kenapa Tuan dan Nyonya terlihat begitu cuek dengan Nona Tania?" aku mulai menggosib dengan Ibu.
"Jangan urusi sesuatu yang bukan urusanmu, Nak! kerjakan apa yang sudah menjadi tugasmu dan jauhi sesuatu yang bisa membahayakan pekerjaanmu, menjadi orang seperti itu akan hidup jauh lebih tentram dari pada orang yang suka mengurusi sesuatu yang bukan urusannya," Ibu mulai menasehatiku dan memberitahuku apa yang harus dan tidak boleh aku lakukan.
"Apa kamu mengerti?" sambung Ibu saat melihat aku hanya diam tanpa ada reaksi ataupun ekspresi.
"Iya, Ibu, aku mengerti," jawabku.
Aku yang mengerti jika Ibuku tak pernah bisa di bantah ataupun di ajak debat lebih memilih untuk mengiyakan semua ucapannya.
"Sudahlah, jangan bahas sesuatu yang tidak penting! sekarang lebih baik kamu mandi terus makan!" Ujar Ibu.
"Bagaimana keadaan kaki Ibu? apa semuanya baik-baik saja?" Aku balik bertanya dengan keadaan kaki Ibu yang belum aku lihat sejak pulang tadi.
"Seperti yang kamu lihat, keadaanku lumayan baik, lusa aku akan kembali bekerja, dan kamu bisa kembali melakukan aktivitas mu," jawab Ibu.
__ADS_1