
Malam panjang penuh mimpi telah berlalu, jika biasanya malamku terlewati dengan tidur yang terasa begitu nyenyak dan di penuhi mimpi yang sering terasa begitu indah, kini berbanding terbalik dengan malam yang ku lewati saat ini, malam panjang penuh pertimbangan dan fikiran panjang seperti semalam telah berlalu, berganti pagi yang semakin menyesakkan jiwa.
Pagi ini aku merasa tak bersemangat, semua perasaan itu muncul bukan tampa sebab, aku masih saja belum menemukan jawaban yang tepat untuk Sam, sekalipun semalam aku sudah berusaha meminta petunjuk dengan sholat malam yang aku kerjakan, tapi tetap saja aku tak menemukan jawaban yang tepat untuk Sam pagi ini.
"Pagi-pagi sudah ngelamun, apa ada masalah lagi?" suara Ibu terdengar mengejutkan ku yang tengah larut dalam fikiranku sendiri.
"Eh, Ibu," spontan jawabku sambil menampakkan senyum indah yang menghiasi wajahku.
"Apa ada masalah lagi, Senja?" tanya Ibu yang kini duduk di hadapanku.
Seperti biasa Ibu mengambilkan makanan untukku dengan senyum penuh kehangatan yang selalu terlihat di pagi hari.
"Jika punya masalah, ceritalah! mungkin Ibu bisa membantu sedikit masalah yang tengah kamu hadapi, jika memang Ibu tidak bisa membantu, setidaknya Ibu bisa memberi saran yang mungkin bisa kamu jadikan solusi," ujar Ibu.
Ibu seolah mengertj dengan apa yang aku rasakan dan apa yang tengah aku alami, aku menarik nafas dalam kemudian membuangnya perlahan lewat mulut, saat ini aku tidak ingin bungkam tentang apapun karena apapun yang akan aku ucapkan Ibu pasti akan merasakan akibatnya jika keputusanku salah.
"Ibu," lirih ku.
Ibu yang sejak tadi sibuk menyiapkan makanan untukku kini langsung menaruh semua yang menurutnya dapat mengganggu konsentrasinya untuk mendengarkan apa yang akan aku katakan.
"Iya, ada apa, Nak? ceritakan semua yang mengganggu fikiranmu!" sahut Ibu.
"Sebenarnya aku bingung Ibu, sejak kemarin Sam memintaku memberi jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan, tapi aku bingung," ungkapku.
"Bingung kenapa? memangnya apa yang Sam tanyakan padamu?" Ibu terlihat mulai penasaran dengan ungkapan yang aku katakan barusan.
"Sam memintaku memberi jawaban atas pertanyaan yang sudah lama dia ajukan, Sam mengajakku untuk menikah, dan aku bingung untuk menjawabnya," aku kembali mengungkapkan apa yang sedang mengusik ketenangan hatiku saat ini, dan Ibu yang mendengar ungkapan hatiku itu langsung terdiam dengan mata yang membulat sempurna menatap diriku yang masih bingung karenanya.
__ADS_1
"Jujur saja, Nak, untuk saat ini, Ibu masih belum punya tabungan untuk biaya pernikahannya, tapi Ibu tidak ingin menghalangi kebahagiaannya, Nak," ujar Ibu seolah memiliki beban berat yang sebenarnya tidak mampu dia tanggung sendiri.
"Tapi jika kamu mau merayakan pernikahannya dengan sederhana, mungkin Ibu bisa, untuk jawaban yang akan kamu berikan pada Sam, sepenuhnya Ibu patahkan padamu, raba hatimu dan mintalah petunjuk sama yang maha kuasa agar kamu bisa mendapatkan jawaban atas apa yang kamu tanyakan," sambung Ibu yang kali ini menampakkan sebuah senyuman, yang aku tahu dengan pasti jika senyuman itu hanya topeng untuk menutupi segala kerisauan dan beban yang tak ingin dia bagi denganku.
Mendengar setiap masukan yang Ibu berikan membuatku merasa jauh lebih tenang, setidaknya aku masih memiliki sesuatu yang bisa aku buat pedoman untuk mencari jawaban atas apa yang akan aku berikan pada Sam.
"Assalamualaikum," suara Sam terdengar begitu jelas di telingaku, entah mengapa ke datangan Sam kali ini membuat jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya, sebaran hebat yang memberi pengalaman berbeda dan baru kali ini aku rasakan, sungguh ke datangan Sam kali ini benar-benar mengacaukan fikiran dan kedamaian hatiku.
"Waalaikum salam," suara sahutan Ibu mengejutkan lamunanku.
"Jangan terlalu banyak berfikir! jawab saja sesuai dengan hati dan apa yang kamu rasakan!" ujar Ibu seraya menepuk pundakku, kemudian berlalu melenggang pergi menuju ruang tamu untuk menemui Sam yang ku yakini sedang menunggu pemilik rumah ini membukakan pintu untuknya.
Aku tersentak mendengar ucapan Ibu barusan, hingga aku menyadari dan aku yakin untuk memberikan jawaban apa pada Sam.
"Pagi, Sayang," sapa Sam.
"Pagi," jawabku.
"Apa kamu sama Ibu sudah makan?" tanya Sam.
"Belum, Ibu baru selesai menuangkan makanan untukku," jawabku sambil menunjukkan satu piring penuh makanan yang tadi sudah di ambilkan Ibuku.
"Ibu, aku juga ingin di tuangkan makanan sama seperti Senja," ujar Sam yang terlihat begitu manja ke hadapan Ibu.
"Dia Ibuku Sam," sahutku sedikit merasa jengah dengan sikap Sam.
"Ibumu juga Ibuku Sayang," Sam selalu saja punya jawaban atas apa yang aku ucapkan.
__ADS_1
"Oh ya, Ibu aku bawakan sesuatu untukmu dan Senja." sambung Sam sambil membuka satu bungkus makanan yang dia bawa, satu bungkus sate komo dan kuah rawon kini sudah ada di atas meja
"Ibu, aku membelikan sate untukmu dan Senja, silahkan di makan!" ujar Sam seraya menggeser lauk yang tadi dia bawa.
"Seharusnya kamu tidak perlu repot, lagi pula Ibu sudah masak tadi pagi untuk Senja," terang Ibu.
"Kalau begitu lauknya Ibu simpan saja! toh tidak akan basi jika akan di makan nanti sore," cicit Sam.
"Kamu mau makan yang mana? lauk buatan Ibu atau lauk yang kamu bawa?" tawar Ibu setelah mengambilkan nasi untuknya.
"Aku mau makan masakan Ibu," jawab Sam dengan wajah berbinar.
"Kamu yakin mau makan itu?" tanyaku dengan ekspresi wajah ragu menatap ke arah Sam yang justru terlihat begitu percaya diri.
"Tentu saja, masakan Ibu selalu terasa jauh lebih nikmat dari yang lain," cicit Sam.
"Aku tidak yakin kamu bisa memakannya," ujarku seolah meragukan Sam yang ku tahu pasti tidak akan pernah makan ikan yang baru saja di masak oleh Ibu.
Selama aku mengenal Sam, sekalipun aku tidak pernah melihat dia makan dengan lauk ikan asin yang menjadi menu sarapanku pagi ini.
"Ini ikan apa, Bu?" tanya Sam.
"Benarkan, kamu tidak akan bisa makan itu, lebih baik kamu makan apa yang kamu bawa tadi!" sela ku tanpa ada niat untuk membantu Ibu menjawab apa yang tadi si tanyakan oleh Sam.
"Huss, gak boleh kayak gitu Senja," Ibu mencoba mengingatkan diriku yang menurut Ibu salah.
"Ini namanya ikan asin Sam, ikan yang di keringkan dan di awetkan dengan garam, coba saja! nanti kalau tidak suka ganti dengan lauk yang kamu bawa tadi!" Ibu selalu punya cara bijak untuk menyikapi setiap keadaan.
__ADS_1
"Terima kasih, Ibu," sahut Sam yang terlihat begitu ragu tapi di saat bersamaan dia juga terlihat begitu kekeh ingin tahu rasa dari lauk yang menjadi menu makanan aku dan Ibu pagi ini.