
"Baiklah, kamu boleh ikut dengan Mbak Senja, tapi dengan satu syarat," jawab Tjan Arka.
"Syarat apa Pa?" tanya Tania dengan semangat yang menggebu.
"Tidak boleh nakal ataupun merepotkan Mbak Senja di sana," jelas Tuan Arka yang cukup membuat Tania mengerti jika rumahku dan rumahnya jauh berbeda.
"Aku tahu Pa, Tania janji tidak akan merepotkan Mbak Senja," sanggup Tania yang cukup membuatku merasa aneh sekaligus terkejut dengan jawaban yang di berikan oleh Tania, pasalnya rumahku pasti akan terasa panas dan supek karena berukuran kecil, di tambah lagi tak ada AC atau pendingin ruangan seperti yang ada di rumah Tania.
Di rumahku hanya ada kipas angin yang aku tahu anginnya tidak akan mampu menghilangkan hawa panas yang di hasilkan oleh musim.
"Kamu yakin mau ikut Mbak Senja, Tania?" tanya Oma yang merasa ragu dengan apa yang di minta oleh Tania.
"Oma jangan khawatir! Tania sudah besar dan tidak akan rewel jika di sana, Tania sudah tahu bagaimana keadaan rumah Mbak Senja, dan Tania tidak selemah yang Oma kira, Tania kuat Oma," sahut Tania penuh semangat, sedang aku malah merasa dah dig dug, rasa khawatir menyelimuti hatiku, bagaimana jika Tania tidak betah dan merasa tidak nyaman di rumahku yang kecil, dan yang paling aku khawatikan adalah Tania justru sakit karena berada di tempat yang memiliki fasilitas berbeda dengan rumahnya yang lebih bisa di sebut istana itu.
__ADS_1
Oma hanya diam mematung melihat dan mendengar semua yang di ucapkan Tania, Oma tak menyangka jika saat ini Tania sudah tumbuh lebih dewasa dari sebelumnya.
"Oma, Papa, aku pamit pulang dulu ya." Pamit Tania sambil mengulurkan tangan meminta untuk bersalaman dengan kedua orang yang sudah berjasa padanya.
"Hati-hati!" pesan Tuan Arka saat melihat Tania yang justru tak bergera setelah bersalaman, dia malah diam mematung menatap lurus ke arah sang Papa.
"Apa lagi, Tania?" tanya Tuan Arka sambil menatap aneh ke arah Tania yang diam mematung ke arahnya.
"Uang saku, tidak mungkin Tania meminta jajan pada Mbak Senja, sungguh tidak baik jika itu terjadi," ujar Tania sambil menggelengkan kepala menyaksikan apa yang telah terjadi.
"Senja!" panggil Tuan Arka.
Aku yang sejak tadi hanya menyaksikan Tania yang meminta izin dengan begitu lihai langsung terperanjat mendengar suara Tuan Arka yang menggelegar seperti petir di siang hari membuatku langsung berjalan mendekat ke arah Tuan Arka.
__ADS_1
"Iya, Tuan," sahutku.
"Ambil ini!" Tuan Arka memberikan kartu yang pernah dia berikan beberapa hari yang lalu, aku sengaja mengembalikan kartu ATM yang di berikannya karena merasa sudah membayar lunas semuua kebutuhan pesta ulang tahun Tania.
"Ini untuk apa, Tuan?" tanya Tania.
"Pakai untuk kebutuhan Tania di sana!" jawab Tuan Arka.
Aku hanya diam mematung mendengar perintah Tuan Arka, Aku bingung dengan apa yang di lakukan Tuan Arka, memangnya seperti apa gaya hidup Tania sampai-sampai dia di beri ATM lagi hanya karena Tania ingin ikut bersamanya.
"Pa, aku ke rumah Mbak Senja hanya seehari, bukan seminggu, kenapa tidak langsung kasih uang saja padaku?" protes Tania.
"Tania benar, Tuan, lagi pula di tempat saya mana ada bayar pakai ATM, biasanya warung dan tokoh di sekitar tempat saya tinggal bayarnya pakai uang cash," sahutku yang kali ini membenarkan ucapan Tania, karena jika Tuan Arka memberi ATM seperti sekarang aku akan sedikit kerepotan, karena aku harus mencari alf****rt atau tempat penarikan uang tunai di bilik ATM yang jaraknya cukup memakan waktu.
__ADS_1
Bukannya langsung mengambil ATM di tanganku yang saat ini tengah menyodorkan ATM, Tuan Arka malah diam mematung menatap ke arahku dan Tania secara bergantian.
"Baiklah, tunggu sebentar!" ujar Tuan Arka yang yang kini melenggang pergi menuju kamarnya. Sedang aku dan Tania hanua saling pandang sambil memberi kode jika aku juga tak mengerti dengan apa yang akan di lakuakn Tuan Arka, aku hanya mampu menerka tanpa tahu jawabannya.