Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Sikap Lucu Tania


__ADS_3

"Oma pasti melarangku main ke sini karena saat ini harusnya aku berada di tempat les bukan di sini," jawab Tania polos.


"Astaga, Aku kira Oma tidak menyukainya," lirihku seraya mengusap dada pelan menikmati setiap rasa yang muncul karena ucapan polos Tania, sungguh dia mampu membuatku sport jantung meski saat ini aku sesang berada di rumahku sendiri.


"Apa aku tidak di persilakan masuk?" tanya Tania dengan poppy eyes yabg terlihat di wajahnya.


"Ayo masuk!" Aku mengajak Tania masuk ke dalam rumah dengan merangkul pundaknya, sedang tanganku yang sebelah kiri menarik jemari Sam agar dia mengikuti langkah kami masuk ke dalam rumah.


"Ibu!" panggilku, saat ini Ibu harus tahu jika ada tamu kecil berpangkat tinggi sedang bertamu ke gubuk repot milikku.


"Iya, a~" sesuai dengan tebakan, Ibu juga terkejut, bahkan dia bereaksi jauh lebih parah dariku, sangking terkejutnya hingga Ibu tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Sore Bik," sapa Tania dengan senyum yang merekah dan lambaian tangan yang dia tunjukkan.


"Nona Tania ke sini sama siapa?" tanya Ibu dengan ekspresi terkejut yang nampak jelas terlihat di wajahnya


"Aku kangen sama Mbak Senja, jadi aku datang ke sini Bik," jawaban yang tak seirama dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Ibu.


"Apa Oma tahu Nona Tania datang ke sini?" bukannya menanggapi ucapan Tania, Ibu malah melempar pertanyaan lagi.


"Bik, Aku baru saja pulang les, aku lapar, apa Bibik mau memberiku makan?" Tania kembali tak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Ibu, dia justru berusaha keras untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Eh, lapar ya Non," sahut Ibu yang terlihat sedikit kelimpungan menanggapi ucapan putri majikan yang tak bisa di tebak apa lagi di bantah itu.


"Kenapa Bibik terlihat bingung?" tanya Tania.


"Bibik bingung, apa non Tania mau makan di rumah Bibik, sedangkan menunya jauh berbeda dengan menu makanan yang ada di rumah Non Tania," jawab Ibu yang terlihat gugup, sedang aku dan Sam hanya bisa diam melihat apa yang terjadi di hadapan kami sambil sesekali saling memandang dengan penuh rasa aneh yang menguasai diriku.


" aku akan makan apapun yang bibi masak hari ini," sahut Tania.

__ADS_1


" apa renatania yakin akan memakan apapun yang bibi masak di rumah bibi Hari ini? "Ibu masih saja terlihat ragu dengan apa yang dikatakan oleh Tania meskipun dia mengatakannya dengan penuh keyakinan.


" Tentu saja, aku akan memakannya apapun yang dimasak oleh Bibi ayo Bi aku benar-benar lapar saat ini! "Tania terlihat sedikit memaksa ibuku yang tak lagi bisa berkutik dan tak lagi bisa bertanya alasan Rania yang sudah ada di rumah.


" Sam, senja! Ayo ikut makan! "Ajak ibu Soraya memberi isyarat kepadaku dan syam untuk ikut bersamanya masuk ke dalam ruang makan dan makan bersama.


Pantas saja ibu terlihat ragu dan tidak yakin jika Nona Tania bisa memakan apa yang Ibuku masak saat ini, karena saat ini Ibu sedang memasak tempe goreng, tahu goreng yang dibakar lengkap dengan ikan asin yang dicampur dengan sambal kacang yang merupakan makanan kesukaanku di rumah.


" Bi, Ini ikan apa? " tanya Tania yang terlihat begitu heran dengan ikan asin yang saat ini ada di hadapannya Tania mengangkat ekor ikan asin dan menunjukkannya ke arah Ibu agar dia mendapatkan jawaban dan penjelasan atas apa yang dipegang dia saat ini.


" itu namanya ikan asin, Tania, "aku yang melihat ibu sedikit bingung membantu menjelaskan Ikan apa yang saat ini ada di tangan Tania.


Aku yakin jika Tania tidak pernah melihat ikan itu sebelumnya, keluarganya yang kaya pasti tidak pernah membeli ikan asin sebelumnya.


"Apa ini bisa di makan, Bik?" Tania kembali bertanya sambil memandang penuh heran ke arah ikan asin yang masih setia ada di tangannya.


"Tentu saja, Nona," jawab Ibu, sedang aku hanya tersenyum geli mendengar jawaban Tania.


"Astaga, kenapa rasanya aneh dan asin seperti ini ya Bik?" seloroh Tania sesaat setelah ikan asin yang dia makan mendarat indah di mulutnya.


Melihat ekspresi dan ucapan Tania sukses membuat aku dan Ibu juga Sam tertawa lucu.


"Kenapa kalian malah tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Tania.


"Ekspresi kamu yang lucu Nona Tania, ikan asin memang seperti itu rasanya," jawab Senja.


"Ishhh, Aku gak suka yang ini," Tania menyisihkan ikan asin yang tadi sempat dia coba.


"Lebih baik Nona Tania makan telor ceplok setengah matang ini saja." Sela Ibu yang langsung mengambilkan telor teplok setengah matang kesukaan Tania.

__ADS_1


"Aku juga ingin tahu rasanya makanan ini Bik," sahut Nona Tania seraya mengambil sedikit terong yang sudah di campur dengan bumbu pecel yang Ibu buatkan.


"Kamu yakin mau makanan terong itu Nona?" aku yang tahu jelas jika Nona Tania kurang menyukai sayur merasa ragu jika dia mau memakan terong yang termasuk jenis sayuran.


"Sudah, Jangan mengganggu Nona kecil yang sedang di luput rasa penasaran itu!" Sam yang sejak tadi diam seribu bahasa kini mulai berucap, dan aku tersenyum menanggapi ucapan Sam yang memang ada benarnya.


"Yang ini rasanya lumayan enak Mbak, meskipun sedikit pedas," ujar Nona Tania yang kini mulai menghabiskan nasi dengan lauk terong pecel.


Aku hanya diam memperhatikan tingkah nona Tania yang cukup mengejutkan, dia tidak menyukai ikan asin tapi malah menyukai terong pecel.


"Kamu mau makan yang mana?" tawarin pada Sam yang langsung mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Terong pecel juga boleh Sayang," jawab Sam.


Dengan cekatan aku mengambilkan makanan sesuai dengan apa yang di minta oleh Sam.


"Kenapa kamu malah senyum-senyum gak jelas gitu?" tanyaku yang merasa aneh dengan sikap Sam yang tersenyum tidak jelas ke arahku.


"Kamu sudah seperti istri solihah, jadi pengen cepet-cepet nikah kalau kayak gini," ujar Sam yang aku tanggapi dengan sikap jengah.


"Sudah jangan banyak bicara! lebih baik sekarang kita makan!" mendengar ucapan Sam aku langsung menghentikan topik pembicaraan yang mungkin akan berujung dengan pembicaraan serius seputar pernikahan.


Makan sore penuh kejutan terlewati, Nona Tania terlihat begitu menikmati setiap detik yang dia lalui, begitu pula dengan Sam yang terlihat begitu nyaman berada di rumahku.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya Mbak." Pamit Nona Tania yanh sejak tadi enggan pulang, meski dengan sedikit usaha dan rayuan dia baru mau pulang, tetap saja rasanya sore ini begitu berbeda.


"Hati-hati, Non!" sahutku dan Ibu sambil melihat Nona Tania melambaikan tangan kemudian masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang.


"Aku juga mau pulang, terima kasih sudah memberiku makan sore yang begitu nikmat," pamit Sam yang langsung meraih tangan Ibu kemudian mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Kalau kamu suka, lain waktu Ibu akan memasakkan lagi untukmu." Sahut Ibu yang terlihat begitu menyayangi Sam.


"Aku akan menunggu Ibu memasakkannya lagi untukku," sahut Sam.


__ADS_2