Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Enak Atau Tidak?


__ADS_3

"Aku bukanlah orang yang tepat untuk mu, status kita berbeda Sam, aku bukan orang kaya sepertimu, bahkan Ibuku hanya seorang pembantu, tolong mengertilah! sekeras apapun kamu dan aku mencoba untuk bersatu, kita tetap tak akan pernah bisa bersatu," aku mencoba menjelaskan alasanku yang sebenarnya pada Sam, tanpa harus mengatakan jika ucapanku tadi karena sikap kedua wanita yang ku yakini penting dalam hidupnya.


"Bukankah dari awal kamu tahu tentang status yang sama sekali tak pernah aku singgung ataupun aku permasalahkan, begitu juga dengan keluarga ku, mereka menerima mu apa adanya Senja," Sam terlihat masih kekeh dengan pendiriannya yang tak ingin putus dariku.


"Sam, ku mohon, mengertilah! kita tidak sebanding, kamu bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dan sempurna dariku," seiring dengan kerasnya pendirian Sam, aku terus berusaha membuatnya mengerti.


"Tapi, aku hanya ingin kamu Senja," ujar Sam mantap tanpa ragu sambil memandang sendu ke arahku.


"Maaf, Sam," hanya satu kata maaf yang bisa aku ucapkan dan aku tak bisa terus memaksakan diri untuk tetap bersama dengan Sam saat keluarganya tidak menyukaiku.


Sam yang terlihat kecewa sama sekali tak berkata apa-apa lagi, dia langsung melenggang pergi meninggalkan aku yang membelinya.


Aku yang melihat Sam telah pergi dan menghilang di balik jalan langsung berjalan masuk ke dalam kamar. Mengistirahatkan diri menikmati setiap denyut rasa sakit yang menyerang hati dan tubuhku.


"Lengkap sudah," lirihku sambil memejamkan mata berharap esok akan jauh lebih baik dari hari ini.


Malam kelabu di penuhi drama kehidupan yang cukup menguras tenaga juga fikiran kini telah berlalu, mimpi yang ku harap indah tak kunjung datang, hingga suara kokokan ayam menyadarkanku jika pagi telah tiba.


"Kenapa kusut sekali, Nak?" pertanyaan pertama yang ku Terima pagi ini membuatku sadar jika semalaman aku tak bisa tidur dengan nyenyak.


"Aku tidak kenapa-kenapa, Ibu, kemarin Ibu pulang jam berapa?" demi keselamatan rahasiaku yang kemarin telah bertemu dan sedikit berdebat dengan Sam, aku mencoba mengalihkan pembicaraan, kemarin aku memang tak melihat Ibu pulang karena setelah perdebatan itu aku langsung mengurung diri di kamar setelah mandi dan sholat, dan aku tak tahu Ibu pulang jam berapa kemarin.


"Ibu pulang jam tujuh malam," jawab Ibu.


"Kok tumben malam banget Buk?" tanyaku yang merasa aneh dengan Ibu yang pulang lebih lama dari biasanya.


"Teman Ibu ada yang sakit, karena itulah perkerjaan Ibu semakin banyak," jelas Ibu.


"Oh," satu kata yang cukup membuat Ibu mengerti jika aku telah mengerti dengan penjelasan yang baru saja di berikan olehnya.


"Bagaimana kabar kamu dan Sam?" tanya Ibu.


'Kenapa Ibu nanya masalah Sama sih? aku malas untuk membahasnya,' batinku mulai berkomentar.


"Bu, aku sedang tidak ingin membahasnya, bisakah kita menggantinya dengan topik yang lain?" aku memilih aman dan tidak berniat untuk meneruskan pembicaraan yang bisa membuat pagiku yang cerah ini menjadi kelabu karenanya.


"Baiklah, Ibu akan diam, dan sekarang habiskan makananmu!" sahut Ibu.


******


Sam benar-benar tidak datang menjemputku seperti biasanya, mungkin ini yang terbaik untuk aku dan dia, meski sesungguhnya aku merasa ada yang aneh dan terasa sangat kurang saat aku tak melihat Sam dan tak di jemput olehnya seperti hari-hari yang lalu, tapi aku tetap harus semangat dan terus berusaha agar bisa hidup lebih baik dari sebelumnya, bagaimanapun akhirnya nanti, aku akan tetap menjalani hidupku dengan ikhlas.


"Ten gak di antar sama pacar setia?" sapa Reyhan.


"Dia sibuk," jawabku asal.


Meski aku sering sekali bersikap cuek dan dingin pada Reyhan, dia tetap ramah padaku, dan aku tak bisa terus-terusan bersikap tidak baik pada orang yang baik padaku, meski ku tahu terkadang pacarnya cemburu, tapi aku tak pernah ambil pusing, yang penting aku dan Reyhan tak memiliki hubungan apapun, kami hanya sebatas teman kerja.


Seperti biasa aku memulai pekerjaanku dengan membuat beberapa gelas minuman untuk para kariyawan di devisi keuangan dan tak lupa juga membuatkan minum untuk Tuan Arka.

__ADS_1


"Pak Zul, ini minumnya." Ucapku sambil meletakkan satu gelas minuman tepat di meja yang ada di hadapan Zul.


"Terima kasih, Senja Sayang," sahut Zul dengan senyum manis nan menggoda yang setiap pagi sudah menjadi kebiasaannya saat ini.


"Sama-sama Mas ganteng," jawabku dengan senyum yang tak kalah manis dengan senyumannya.


"Ishhh, senyumanmu, Dek, bikin hati abang meleleh," ujar Zul sbil berakting seolah sedang terpesona dengan senyumanku sambil memegang dadanya.


"Sudahlah Zul, jangan terus-terusan menggoda Senja! dia tidak akan terpengaruh denganmu," sahut Riza yang selalu membelaku.


"Kemarin kamu tidak masuk ya, Senja?" sambung Riza.


"Enggak Mbak," jawabku singkat, aku berharap Riza tak bertanya lagi tentang ketidak hadiranku kemarin.


"Memangnya kamu ke mana kok gak masuk?" pertanyaan yang ingin aku hindari akhirnya terdengar juga.


"Ada kepentingan keluarga Mbak," jawaban umum yang ku harap tak menimbulkan pertanyaan lainnya.


"Aku dengar-dengar kamu pergi piknik dengan Nona Tania?" Tanya Riza.


'Deg'


Jantung ku seolah berhenti berdetak dan tak mampu lagi menahan segalanya, bagaimana aku bisa menjelaskan jika kemarin aku izin karena memang sedang menemani Tania piknik.


"Apa yang aku tanyakan itu benar, Senja?" Riza terus saja menuntutku untuk menjawab pertanyaan yang membuatnya penasaran.


"Tuan Arka," lirih ku saat aku menoleh ke belakang dan terlihat Tuan Arka berdiri tepat di belakangku, dan anehnya tak ada yang menyadari kehadirannya, mungkin semua orang yang ada di ruangan ini sedang fokus memperhatikan perbincangan diriku dan Riza.


"Iya, Tuan," sahut ku sambil menunduk sebagai tanda hormat yang sering di lakukan banyak kariyawan.


"Segera buatkan aku minum!" titah Tuan Arka.


"Baik, Tuan," jawabku.


"Dan kamu Riza!" Tuan Arka kembali memanggil seseorang yang ada di devisi keuangan ini.


"Iya, Tuan," jawaban yang sama terdengar di telingaku.


"Ke ruangan ku sekarang! dan bawa laporan keuangan bulan kemarin!" perintah Tuan Arka .


"Baik, Tuan," Riza kembali menjawab mengiyakan perintah Tuan Arka. Sedang aku langsung melangkah menuju pastry untuk membuat minuman sesuai dengan permintaan Tuan Arka.


Tok ... tok ... tok ....


Perlahan tapi pasti, aku mencoba memanggil Tuan Arka dan memberi tanda jika saat ini aku sedang berdiri di depan pintu menunggu perintah darinya untuk masuk ke dalam ruangan.


"Masuk!" suara Tuan Arka terdengar dan aku langsung masuk sesuai dengan perintah yang di berikan oleh Tuan Arka.


"Permisi Tuan," ucapku yang merasa tak enak hati karena di dalam ruangan masih ada Riza yang terlihat menjelaskan sesuatu.

__ADS_1


Tanpa kata aku langsung meletakkan secangkir kopi untuk Tuan Arka, seperti biasa, kopi hitam dengan satu sendok gula aku letakkan di atas mejanya.


"Tunggu Senja!" suara Tuan Arka menghentikan langkahku yang sebenarnya ingin cepat-cepat keluar dari ruangan Tuan Arka.


"Iya, Tuan," sahut ku seraya menghentikan langkahku.


"Belikan aku masakan padang di ujung jalan pertigaan depan!" seperti biasa Tuan Arka lebih banyak memberi perintah dari pada mengobrol denganku.


"Baik, Tuan," apa lagi yang bisa aku lakukan selain mengiyakan semua perintah Tuan Arka.


"Belikan dua porsi!" Tuan Arka kembali memberi perintah kali ini cukup membingungkan diriku, pasalnya Tuan Arka hanya seorang diri, tapi kenapa membeli makanan dua bungkus.


"Ambil uangnya dan cepat pergi dari sini!" Tuan Arka kembali memberi perintah yang membuatku terkejut dan langsung berjalan mendekat ke arah Tuan Arka untuk mengambil uang yang di sodorkan padaku kemudian melenggang pergi keluar dari ruangan Tuan Arka.


Aku menyelesaikan hampir semua pekerjaan yang menang harus aku kerjakan hingga waktu makan siang tiba, sesuai perintah Tuan Arka, aku pergi ke tempat makan masakan padang dan membeli dia porsi makanan, sesuai dengan apa yang Tuan Arka perintahkan.


Tok ... tok ... tok ....


"Tuan, saya mau mengantarkan makanan," aku yang tak kunjung mendapatkan jawaban dan respon memilih untuk mengatakan tujuanku datang.


"Masuk!" sahut Tuan Arka.


"Tuan, makan siangnya di taruh di mana?" tanyaku merasa bingung karena melihat Tuan Arka yang terlihat sibuk dengan tumpukan kertas di mejanya.


"Letakkan di meja depan sofa! ambilkan dia piring dan sendok di tempat biasa!" Tuan Arka kembali memberi perintah sambil berdiri merapikan beberapa berkas yang sepertinya sudah selesai dia periksa.


"Ini Tuan," Aku meletakkan dua piring beserta sendoknya di atas meja. Dekat dengan bungkusan masakan padang yang di pesan oleh Tuan Arka.


"Duduk dan temani aku makan!" titah Tuan Arka.


Aku diam mematung mendengar perintah Tuan Arka yang baru saja memintaku untuk duduk dan menemaninya makan.


"Apa kamu tidak dengar dengan perintah ku barusan?" pertanyaan yang tak perlu mendapat jawaban, tapi perlu di kerjakan.


Aku tidak ingin Tuan Arka marah, karena itulah aku langsung berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Tuan Arka.


Rasanya seperti ketiban duren di siang hari, kalau kemarin Tuan Arka mengajakku makan bersama terasa sedikit aneh tapi masih bisa aku maklumi, karena ada Tania di ruangan ini, tapi saat ini, tak ada siapapun, hanya ada aku dan Tuan Arka, hatiku merasa ge er, tapi logikaku masih berfungsi dengan baik, aku kembali sadar jika Tuan Arka tidak mungkin menyukai ataupun mencintaiku, karena aku bukanlah siapa-siapa, selain itu, Tuan Arka masih memiliki istri yang sangat sempurna sepertj Nyonya Angel.


"Bagaimana makanannya?" tanya Tuan Arka.


Pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab, sebenarnya bukan sulit, tapi lebih tepatnya bingung, aku bingung harus menjawab bagaimana? Tuan Arka bertanya bagaimana ma kanannya? Apa Tuan Arka tanya rasanya? atau bentuknya atau dia bertanya harganya? rasa bingung itu berhasil membuatku diam seribu bahasa.


"Enak atau tidak?" sambung Tuan Arka.


"Enak Tuan, dan Terima kasih, sudah di beri makan siang seenak ini," ujarku dengan senyum yang ku buat semanis mungkin.


"Hm," jawab Tuan Arka seraya melangkah menuju meja ruang kerjanya.


"Setelah ini kamu bisa kembali bekerja," sambungnya tanpa menoleh ke arahku.

__ADS_1


__ADS_2