
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Ibu," sekali lagi aku berusaha mengatakan lebih jelas sekali lagi apa yang pernah dikatakan Tuan Arka padaku.
Sejenak Ibu terdiam seperti seseorang telah memikirkan satu beban yang begitu berat, dan aku yang melihat hanya bisa diam tanpa bisa mengatakan apapun karena saat ini mungkin Ibu memang membutuhkan waktu untuk berpikir dan memberi keputusan atas apa yang baru saja aku katakan padanya.
"Bagaimana dengan keluarga Tuan Arka tanda tanya apa mereka menyetujui pernikahan ini?" Tanya ibu yang terlihat begitu ragu dengan apa yang baru saja aku katakan.
"Aku sudah pernah mencoba menanyakan hal itu kepada Tuan Arka, dan dia bilang semua tergantung padanya tak ada satu orang pun yang bisa menghalangi jika dia menginginkan sesuatu termasuk ingin menikah denganku,"aku kembali mencoba menjelaskan apa yang pernah aku dengar dan juga apa yang terjadi selama ini, sambil terus berharap jika Ibu akan mengerti dengan keadaanku saat ini.
"Sebenarnya Ibu masih ragu jika Tuan Arka dan seluruh anggota keluarganya bisa menerimamu, tapi Ibu juga tidak kuasa untuk menolak, karena Ibu khawatir jika Ibuenolak akan berpengaruh pada pekerjaan Ibu juga pekerjaau, sedang zaman sekarang mencari pekerjaan sangat sulit," jujur Ibu yang cukup membuatku semakin bingung karenanya.
"Aku juga berfikir yang sama Ibu, Tuan Arka juga sempat mengatakan jika aku menolak maka aku dan Ibu tidak akan di izinkan untuk bekerja di tempatnya," mendengar kejujuran Ibu membuatku ingin jujur dan mengatakan semuanya pada Ibu sebagai bahan pertimbangan atas keputusan yang akan dia beri.
Sejenak Ibu kembali diam tanpa kata, pernikahan memang buka hal yang mudah untuk di putuskan, tapi bagaimanapun, aku harus tetap keputusan yang tepat demi kelangsungan hidupku dan hidup keluargaku.
"Bagaimana sikap Tuan Arka padamu? apa kamu juga menginginkan pernikahan ini?" sebuah pertanyaan yang sulit untuk aku jawab akhirnya keluar dari bibir Ibu, dan kali ini giliran aku yang diam seribu bahasa mencoba memikirkan setiap hal yang akan terjadi nanti, hingga aku putuskan untuk menerimanya, aku tidak ingin melihat Ibu menderita, lagi pula Tania juga bisa menerimaku, selama ini dia begitu dekat denganku, dan soal cinta, aku bisa mendapatkannya nanti, setelah aku menikah mungkin rasa itu akan tiba.
"Bagaimana jika aku menerimanya, Ibu?" tanyaku mencoba meyakinkan hati dengan keputusan yang akan aku ambil.
"Ibu akan setuju dengan semua keputusan yang akan kamu ambil Senja, jika menurutmu menikah dengan Tuan Arka akan membuatmu bahagia, maka Ibu akan mengizinkannya," jawab Ibu yang cukup membuatku lega.
"Terima kasih Ibu," aku peluk Ibu yang paling menyayangiku dengan sepenuh hati, aku harap setelah ini tak ada lagi duka atau air mata yang akan Ibu dapatkan lagi, aku harap keputusanku untuk menikah dengan Tuan Arka adalah keputusan yang paling tepat.
Akhirnya aku putuskan untuk menerima Tuan Arka dan akan mengatakannya besok saat aku bertemu dengannya.
__ADS_1
********
"Bu, Senja berangkat dulu." Pamitku setalah percakapan semalam kini aku sudah putuskan untuk menerima tawaran Tuan Arka untuk menikah dengannya, dengan telat bulat aku beranikan diri untuk memberitahukannya saat bertemu dengannya di kantor nanti.
Entah takdir atau apa aku langsung bertemu dengannya saat langkah pertama kakiku menginjak lantai kantor, Tuan Arka terlihat baru keluar dari mobil dan berjalan mendekat ke arahku.
"Maaf Tuan, ada yang ingin aku bicarakan," ujarku menghentikan langkah Tuan Arka yang kini berada di hadapanku dan hendak masuk ke dalam kantor.
"Ada apa?" tanpa di sangka Tuan Arka langsung berhenti menoleh ke arahku menyahuti ucapanku barusan.
"Aku ingin memberikan jawaban dari pertanyaan yang Tuan Arka berikan kemarin," jawabku.
"Katakan!" titah Tuan Arka.
Dan tanpa aku sangat wajah Tuan Arka yang tadinya datar kini terlihat terkejut, dan ada sedikit binar kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
"Ikut ke ruangan ku!" titahnya lagi, tapi kali ini Tuan Arka tak hanya memberi perintah, dia langsung meraih tanganku dan mengajakku masuk ke dalam lift khusus untuknya dan keruangannya, apa yang di lakukan Tuan Arka sebenarnya cukup menyulitkan aku yang pasti akan menjadi bulan-bulanan teman satu kantor, mereka pasti akan menghujaniku dengan pertanyaan yang pasti akan sulit aku jawab.
"Tuan, bisakan kau melepas tanganmu?" lirihku merasa tak enak hati dengan asisten pribadi Tuan Arka yang saat ini berada di belakang kami.
"Beri aku alasan kenapa aku harus melepas tangan calon istriku!" sahut Tuan Arka yang justru membuatku bingung.
"Ada asisten Tuan di belakang, aku tidak enak jika di lihatnya, aku takut dia berfikir yang tidak-tidak tentang aku," aku kembali berkata dengan nada lirih tentunya.
__ADS_1
"Jangan hiraukan dia!" aku hanya memutar bola mata jengah mendengar jawaban Tuan Arka, hal yang pasti akan aku hadapi setiap hari nantinya, tapi aku tidak mungkin membatalkan apa yang baru saja aku terima, jika aku lakukan itu, maka aku pasti akan berada dalam masalah besar setelahnya.
"Kamu,persiapkan semua berkas yang di butuhkan untuk pernikahanku dan Senja, besok berkas itu harus ada di ruangan ku!" titah Tuan Arka pada asistennya.
"Besok, apa tidak terlalu cepat Tuan? bagaimana kalau pernikahan atau mengurus surat-suratnya bulan depan saja?" aku mencoba menawar berharap Tuan Arka akan mendengar dan menyetujui tawaranku.
"Lebih cepat lebih baik," jawaban yang sudah aku prediksi keluar dari bibir Tuan Arka.
"Persiapkan dirimu! kita akan menikah Minggu depan," Tuan Arka kembali berkata.
"Apa? Minggu depan, bagaimana mungkin aku dan Ibu bisa menyiapkan semuanya secepat itu Tuan?" seruku merasa jika waktu seminggu terlalu cepat untuk menyiapkan sebuah pernikahan.
"Biarkan aku yang mengatur semuanya, kamu dan Ibu tinggal menerima apa yang sudah aku siapkan," ujar Tuan Arka.
"Kenapa? apa kamu ragu menikah denganku?" tanya Tuan Arka yang kini berdiri dari duduknya dan mendekat ke arahku.
Wajah yang tampan, tegas, kulit putih dan bibir merah bak ceri meski dia laki-laki, tapi sungguh dia adalah laki-laki paling tampan yang pernah dekat denganku.
"Katakan Senja! apa kamu meragukanku? apa kamu takut sengsara hidup denganku?" Tuan Arka kembali bertanya, tapi kali ini dia berada begitu dekat denganku, hingga aku bisa merasakan deru nafasnya yang memburu, dan sialnya jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya, entah karena takut atau cinta, aku tak bisa membedakannya.
"Tuan, a~" suaraku tak lagi bisa keluar saat tangan Tuan Arka mendarat indah di atas bibirku.
"Aku tidak akan mengecewakan ataupun menghianatimu nanti, percayalah! kamu akan bahagia hidup denganku," bisik Tuan Arka yang cukup membuatku merasa merinding mendengar suara Tuan Arka menyapa telinga.
__ADS_1