
"Ibu tidak tahu, kamu tanya sendiri sama orangnya nanti!" jawab Ibu.
Aku yang sebenarnya masih merasa ngantuk terpaksa bangun untuk menemui Sam yang sebenarnya sangat menggangguku pagi ini.
Dengan langkah malas aku memaksakan diri melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri agar lebih segar saat bertemu dengan Sam.
"Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanyaku sesaat setelah sampai di ruang tamu.
"Pertanyaanmu menyakitimu, Sayang," jawaban yang membuatku bingung karena tak sejalan dengan apa yang aku tanyakan.
"Menyakiti bagaimana? aku hanya tanya kenapa kamu datang sepagi ini? apa ada sesuatu yang terjadi?" aku yang merasa heran dengan pertanyaan Sam langsung tanpa menunggu lagi.
"Bukankah aku kekasihmu," Sam kembali menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang semakin membuatku bingung.
"Iya, kamu memang kekasihku, tapi apa hubungannya?" aku kembali bertanya.
"Hari minggu adalah hari libur karena itulah aku datang ke sini untuk menemuimu dan mengajakmu jalan-jalan." Akhirnya Sam menjelaskan tujuan dia datang menemuiku.
"Astaga, aku kira ada apa?" ucapku spontan.
"Kenapa kamu bilang gitu? apa kamu tidak suka aku datang dan ingin mengajakmu jalan-jalan?" tanya Sam merasa aneh dengan reaksi yang aku berikan.
"Siapa bilang aku tidak suka? aku suka kok, memangnya kita mau jalan ke mana?" tanyaku setelah mendengar Sam bertanya.
"Bagaimana kalau pagi ini kita ke taman? Jalan-jalan pagi sambil cari cemilan, setelah itu kita ke mall," tawar Sam.
"Boleh juga, tunggu di sini! aku mau ambil tas dulu." Pamit ku.
"Kamu mau ke mana Senja?" tanya Ibu saat melihatku berjalan keluar dari kamar sambil membawa tas selempang di lengan kananku.
"Aku mau ke taman Bu. Ada apa?" jawabku sambil melempar pertanyaan ke arah Ibu.
"Ibu mau berangkat kerja dulu. Sebelum pergi jangan lupa sarapan Ibu sudah menyiapkan makan untukmu di meja. Ajak Sam juga!" titah Ibu.
__ADS_1
Aku yang sangat mengerti dengan sifat Ibu hanya mengangguk kemudian memanggil Sam untuk mengajaknya sarapan sesuai dengan perintah Ibu.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanyaku saat melihat Sam yang menatap lekat ke arahku tanpa berkedip sedikitpun.
"Jadi berasa sudah sah jadi suami istri kalau kayak gini," jawab Sam.
"Ishh jangan ngaco Sam! kita masih belum sah," jawabku mencoba menyadarkan Sam yang terlihat sedang membayangkan sesuatu yang belum terjadi.
"Sejak kecil aku ingin punya istri seperti Ibu teman-teman," ujar Sam yang cukup membuatku bingung.
"Ibu teman-teman kamu bagaimana maksudnya?" tanyaku yang bingung dengan pernyataan Sam.
"Ibu teman-temanku selalu bisa makan bersama mereka, menghidangkan nasi untuk anak dan suaminya, hal itu sangat berbeda dengan aku yang tak pernah bisa makan bersama Ibu di meja makan, dia selalu sibuk bekerja dan sibuk berkumpul dengan teman sosialitanya, karena itulah aku ingin menikah dengan seseorang yang sebisa mungkin bisa meluangkan waktu untuk keluarganya," Sam mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya di masa lalu.
"Maaf, Sam, untuk saat ini aku masih ingin bekerja, karena itulah aku tak ingin menikah dulu," aku berusaha mengucapkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak apa-apa, aku akan menunggumu hingga kamu siap untuk menjadi Ibu rumah tangga," jawaban yang sungguh membuat hatiku lega setelah mendengarnya.
Akhirnya kami makan dengan penuh rasa syukur, meski Ibu hanya memasakkan tempe dan terong penyet rasanya begitu nikmat karena kami makan saat perut terasa lapar.
"Pegangan!" titah Sam sesaat setelah aku berada di atas motor.
"Pelan-pelan saja!" sahutku agar Sam tak melajukan motornya terlalu kencang.
Sesuai keinginanku, Sam melajukan motornya dengan kecepatan rendah hingga aku bisa merasakan semilir angin yang tengah berhembus.
"Ternyata ada banyak orang yang menghabiskan waktu libur mereka di sini sekarang," ujarku sesaat setelah aku sampai di taman yang terlihat begitu ramai dengan banyak pengunjung.
"Apa kamu tidak pernah datang lagi ke sini setelah hari kelulusan dulu?" selidik Sam setelah mendengar ucapanku.
Dulu waktu aku dan Sam lulus sekolah, kami langsung pulang tidak ikut merayakan kelulusan dengan teman-teman yang lain, alasannya simpel, aku masih membutuhkan seragam putih yang Ibu belikan untuk melamar pekerjaan, dan Sam yang mengerti dengan keadaanku memilih untuk ikut menemaniku ke Taman dari pada dengan teman-teman yang lain, dulu di Taman ini tidak begitu ramai seperti sekarang, hanya segelintir orang yang menghabiskan waktu libur di sini, tapi sekarang taman ini begitu ramai lengkap dengan orang yang berjualan di tepi jalan membuat Taman ini menjadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu libur.
"Aku tidak sempat ke sini Sam, yang aku tahu setelah lulus hanya satu, mencari pekerjaan untuk membantu Ibu, tak jarang aku juga membantu pekerjaan Ibu mencuci baju di rumah, karena itulah aku tak punya waktu untuk ke sini," jawabku.
__ADS_1
"Pantas saja," spontan Sam.
"Pantas kenapa?" tanyaku merasa bingung dengan apa yang di katakan oleh Sam.
"Tidak ada, apa kamu mau beli cemila?" tawar Sam.
"Aku masih kenyang Sam," jawabku yang tak berselera untuk makan setelah menghabiskan satu piring penuh nasi dan ikan yang tadi di siapkan oleh Ibu.
"Baiklah, kalau gitu kita jalan-jalan saja, nikmati suasana pagi di taman ini," ujar Sam yang kembali meraih tanganku kemudian berjalan menikmati suasana Taman yang terasa begitu sejuk.
Kami berjalan menikmati setiap hal yang terlihat biasa saja, tapi karena kami berjalan dengan perasaan di penuhi cinta semua hal biasa itu menjadi indah hingga satu suara mengejutkanku.
Dddrrrttt ... dddrrrttt ... dddrrrttt ....
Sam melepas genggaman jemari di tanganku mengambil ponsel yang tersimpan di saku celananya.
"Halo, kenapa?" ucap Sam sesaat setelah dia mengangkat telfon, kening Sam mengkerut seperti terjadi sesuatu yang entah apa itu?
"Sayang," lirih Sam sambil menatap lekat ke arahku dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.
"Ada apa, Sam?" tanyaku yang mengerti jika saat ini pasti ada masalah yang serius sedang menimpanya.
"Ada sedikit masalah dan aku harus pergi untuk menyelesaikannya, apa kamu tidak marah jika aku mengajakmu pulang sekarang?" tanya Sam dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, kamu pulang saja dulu! aku masih ingin menikmati suasana di sini," jawabku yang memang masih ingin menikmati suasana di taman, rasanya sudah lama aku tidak datang je tempat ini.
"Apa tidak akan ada masalah jika aku meninggalkanmu sendiri di sini?" Sam terlihat ragu untuk meninggalkanku.
"Sam, aku bukan bocah lima tahun yang akan menangis dan menimbulkan masalah jika di tinggal sendirian, jadi jangan khawatir! pergilah!," jawabku mencoba meyakinkan Sam agar dia pergi dan tak mengkhawatirkanku lagi.
"Baiklah, aku pergi dulu. Kamu hati-hati di sini! dan ini untukmu!" Sam memberikan beberapa lembar uang berwarna merah ke arahku.
"Untuk apa?" tanyaku yang merasa aneh dengan sikap Sam yang tiba-tiba memberiku uang.
__ADS_1
"Sudah, simpan dan pergunakan uang ini! aku pergi dulu." Sam langsung menaruh uang itu di tanganku kemudian melangkah cepat meninggalkanku yang terdiam mematung di tempatku.