
"Oma!" suara anak kecil menggema di penjuru ruangan, membuat siapapun yang mendengarnya menoleh ke asal suara.
"Tania," sahut Oma sambil tersenyum manis ke arah seorang gadis yang sedang berlari kecil menuju ke arahnya.
"Oma sedang apap di sini? Tania mencari Oma sejak bangun tadi," ujarnya dengan penuh drama yang di lengkapi dengan air mata.
Aku yang memang tidak memiliki hak apapun untuk berkomentar ataupun menyaksikan apa yang terjadi hanya bisa diam sambil meneruskan pekerjaanku, meskipun tak ku pungkiri terkadang aku sedikit melirik ke arahnya untuk mengobati rasa penasaran yang masuk ke dalam jiwaku tanpa permisi.
"Sudah, fokus saja dengan apa yang sedang kamu kerjakan, di sini kita di bayar bukan cuma untuk bekerja, tapi kita di bayar juga untuk tutup telinga dan mata atas apapun yang terjadi di rumah ini, jadi lebih baik kita biarkan saja apa yanh terjadi tanpa melibatkan diri," tutur seseorang yang di minta untuk membantuku yang ku tahu dengan pasti dia bernama Sari.
Aku hanya mampu tersenyum menanggapi semua pemberitahuan yang baru saja di umumkan di telingaku, tanpa berkomentar aku hanya mengangguk kembali memasak tanpa peduli dengan apa yang sedang terjadi di hadapanku.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," lidahku melihat semua hidangan pagi ini sudah selesai dan aku bisa segera beristirahat, meski hanya meluruskan punggung yang mulai terasa sedikit pegal.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sari yang baru saja datang menghampiriku yang duduk di tepi kolam uang.
"Aku Baik, Mbak Sari, hanya merasa sedikit lelah," jawabku tak kalah ramah dengan ucapan Mbak Sari.
"Tugas kita belum selesai," ujar Mbak Sari yang cukup membuatku terkejut, bukankah tadi aku sudah melaksanakan tugas yang di berikan oleh Oma? kenapa sekarang Mbak Sari bilang kalau tugas kita belum selesai? apa lagi yang harus aku kerjakan?
"Loh, bukankah tadi Oma bilang tugas kita hanya memasak saja Mbak Sari?" aku mencoba mengingatkan ucapan Oma yang masih terngiang begitu jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Memang tugas memasaknya sudah selesai, tapi kita juga harus membersihkan sisa makanan yang ada di atas meja, yang paling menyebalkan adalah ketika kuta harus mendengar gertakan Tuan Arka, semua pasti akan berakhir dengan air mata.
"Apa luka yang Ibuku derita itu juga karena perbuatan Arka?" aku menebak apa yang sebenarnya terjadi pada Ibuku waktu itu.
"Seperti itulah, Ibumu hanya melakukan kesalahan kecil, dan yang aku lihat Ibumu itu orang yang lembut dan tak pernah mendapat bentakan, karena itulah ketika **** membentak dengan satu kata, Ibumu terkejut dan memecahkan satu piring yang sedang dia pegang, naasnya lagi piring itu jatuh tepat di atas kakinya," RoMbak sari menjelaskan kejadian di mana Ibu mendapatkan luka yang membuatnya izin untuk tidak masuk bekerja.
"Memangnya apa kesalahan Ibu? sampai-sampai Arka berani membentak Ibuku?" aku semakin penasaran dengan apa yng sebenarnya terjadi.
"Ibumu salah mengambilkan gelas, Tuan Arka hanya memanggilnya dengan intonasi tinggi saat Ibuku sedang sibuk membersihkan sisa makanan di atas meja, kemarin aku melihat Tuan Arka sedang dalam keadaan tidak stabil dan aku sendiri tidak tahu penyebabnya apa," Mbak Sari kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku melongo mendengar penjelasan Mbak Sari yang terdengar begitu sederhana, kesalahan yang menurutku sepele ternyata mampu membangunkan macam yang tengah tidur.
"Singa lapar bagaimana maksudnya Senja?" Mbak Sari terlihat tidak mengerti dengan apa yang aku maksud, singa lapar adalah sebutan baru yang aku sempatkan untuk Tuan Atma yang saat ini menjadi majikan sementaraku.
"Sudahlah, Mbak Sari tidak perlu tahu, yang harus kita lakukan saat ini kita hanya perlu peegi kembali ke meja makan dan memastikan semuanya baik-baik saja, sesuai dengan apa yang Mbak Sari katakan tadi," aku memilih merahasiakan sendiri panggilan yang aku berikan pada Tuan Atma yang memang mirip seperti singa lapar itu, di sini bukan tempat yang aman untuk membuka rahasia.
"Terserah kamu sajalah, aku tidak akan memaksamu menceritakan semuanya padaku saat ini," ujar Mbak Sari yang terlihat enggan memaksaku.
Kami berdua melangkah masuk kembali ke ruang makan seraya berharap semuanya baik-baik saja.
"Dia siapa Mbak?" fisikku tepat di samping Mbak Sari yang sedang berdiri memperhatikan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Apa maksud kamu wanita cantik berpakaian seksi yang ada di samping Tuan Arka itu?" tebak Mbak Sari.
"Iya, dia siapa Mbak?" aku kembali bertanya setelah Mbak Sari tahu siapa yang aku tanyakan.
"Dia istri Tuan Arka dan gadis kecil yang tadi datang dan sekarang duduk di samping Nyonya Angel itu bernama Tania puteri kecil kesayangan Tuan Arka," Mbak Sari kembali menjelaskan apa yang aku tanyakan.
"Oh," ujarku sambil manggut-manggut tanda jika aku mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Mbak Sari.
Sarapan pagi yang terlihat begitu hambar, tanpa ada suara ataupun canda tawa yang biasanya menghiasi meja makan para keluarga bahagia ataupun harmonis lainnya, di meja makan yang ada di hadapanku hanya ada beberapa orang yang sedang makan tanpa berbicara sedikitpun, bahkan terkesan dingin dan menegangkan.
"Malam ini aku tidak pulang lagi, Mas, ada urusan penting di kantor cabang, jadi aku harus datang sendiri mengeceknya ke sana," ujar wanita yang tadi di sebut Nyonya Angel oleh Mbak Sari.
"Hm," satu kata yang muncul dari bibir Arka yang cukup membuatku tercengang, jawaban macam apa itu? istrimu sedang izin tidak pulang nanti malam, tapi kamu malah bulan hm saja, astaga, singa lapar ini benar-benar normal atau tidak.
Aku yang sering melihat keharmonisan kedua orang tuaku dulu, merasa sangat terkejut dengan apa yang aku lihat barusan, sungguh Tuan Arka dan Nyonya Angel terlihat seperti dua orang yang tak saling mengenal tapi hidup dalam satu atap.
"Mommy tidak pulang lagi malam ini? kenapa Mami sibuk sekali? aku ingin tidur di temani Mommy malam ini," rengek Hanua yang semakin membuatku tercengan melihat keluarga yang aku tahu dengan pasti jika mereka kaya raya.
"Sayang, Mommy ada banyak pekerjaan yang harus Mommy kerjakan, lagi pula Tanpa sudah besar, jadi jangan manja! Tania harus tumbuh menjadi gadis yang kuat dan mandiri," sahut Nyonya Angel sambil mengusap lembut puteri kecilnya yang kini duduk tepat di samping tempatnya duduk.
Tania terlihat tak berdaya, dia hanya bisa diam sambil mengerucutkan bibir tanda jika dia tidak suka dengan apa yang terjadi tapi tak mampu untuk mengatakannya.
__ADS_1