Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Ucapan Terima Kasih Tania


__ADS_3

Cukup lama aku terdiam dengan yang pemberian Sam yang masih tersimpan rapi di tanganku.


"Mbak Senja!!!" lagi-lagi suara Nona Tania terdengar membuyarkan lamunanku, entah mengapa suara Tania selalu saja ada di setiap langkahnya, sampai aku merasa jika dunia ini terasa begitu sempit hingga aku bisa bertemu Nona Tania di manapun aku berpijak.


"Mbak!" sekali lagi suara Nona Tania terdengar dan membuatku benar-benar sadar jika saat ini Tania memang ada di sekitarnya bukan hanya ada dalam fikiranku saja.


"Eh, iya Nona," sahutku yang langsung menyimpan uang pemberian Sam ke dalam tas selempang yang saat ini aku pakai.


"Kita ketemu lagi, aku senang bisa bertemu Mbak Senja di manapun aku pergi," ujar Nona Tania yang langsung memelukku dengan erat dia terlihat begitu bahagia karena bertemu denganku, sangat berbeda dengan Tuan Arka yang justru menatap bingung ke arahku.


"Tania, kemari!" titah Tuan Arka saat melihat Tania memelukku begitu erat.


"Ishhh," keluh Tania sambil berdesis.


Tania tetap berjalan mendekat ke arah Tuan Arka meski bibirnya mengerucut tanda jika dia tidak menyukainya.


"Ayo pergi!" Tuan Arka meraih jemari Tania dan berniat mengajaknya pergi meninggalkan diriku yang masih setia diam menatap apa yang di lakukan oleh keduanya.


"Papa, aku masih ingin di sini, bisakah kita tetap di sini dulu?" rengek Tania yang terlihat enggan untuk pergi.


Tuan Arka terdiam sambil melihat ke arahku yang masih setia diam di tempat sebelumnya.


"Aku mohon Pa, biarkan aku bermain dengan Mbak Senja lebih dulu. Aku tidak ingin pulang sekarang," Tania kembali merengek melihat Tuan Arka yang sedang diam seolah berfikir keras.

__ADS_1


"Baiklah, kali ini aku akan menurutimu, tapi jika Senja mau menemanimu, jika tidak jangan memaksa!" jawab Tuan Arka yang cukup membuat Tania tersenyum senang melihatnya.


"Mbak Senja mau Kan menemaniku bermain di sini?" Tania langsung menoleh ke arahku dengan tatapan penuh harap dan mata penuh belas kasihan, sungguh saat ini Tania terlihat seperti kucing kecil yang imut dan sedang meminta makan pada tuannya.


Aku diam seribu bahasa, fikiranmu sedang bekerja keras menimbang setiap akibat yang akan terjadi dengan jawaban yang akan aku berikan.


Tanpa aku sadari Tania sudah berdiri tegak si sampingku sambil menarik baju yang sedang aku gunakan.


"Ayolah Mbak!" sekali lagi suara rengekan Tania terdengar di telinga mengusik fikiranmu yang sedang berfikir.


"Baiklah, Mbak akan menemanimu untuk bermain," aku yang tak pernah bisa menolak permintaan Tania kembali mengiyakan apa yang di minta oleh gadis kecil berlinang harta tapi kurang kasih sayang ini.


"Asyikkk!!! Papa ayo main bareng Mbak Senja!" Tania langsung menarik tangan Tuan Arka dengan tangan kanannya sedang tangan kiri sibuk menggenggam tanganku, kami berjalan berkeliling Taman dengan Tania yang sesekali meloncat kegirangan, sungguh saat ini kami seperti sebuah keluarga yang tengah menikmati hari libur bersama.


"Tania jangan melompat!" Tuan Arka mencoba mengingatkan Tania agar dia tidak melompat-lompat.


"Papa, aku lapar, kita beli makanan ya," pinta Tania pada Tuan Arka yang sejak tadi hanya berdiri mematung menatapku dan Tania yang sedang bermain di hadapannya, meski sebenarnya aku merasa sangat risih dengan tatapan Tuan Arka tapi sekuat tenaga aku berusaha untuk bersikap biasa saja agar Tuan Arka tidak merasa curiga atau berfikir sesuatu yang tak aku lakukan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Tuan Arka.


"Aku mau makan nasi Pa, sejak pagi aku belum sarapan," Tania kembali merengek, gadis ini berubah menjadi begitu manja sekarang, sangat jauh dengan sikap yang di tunjukkan ketika dia berada di rumah.


Tanpa menjawab pertanyaan NonaTania, Tuan Arka langsung berjalan meninggalkan tempatnya tadi berdiri di ikuti Nona Tania yang sekarang kembali menggenggam jemariku, sejak tadi Nona Tani terlihat enggan melepaskan jemariku dan hal itu cukup membuatku tak enak hati, tapi apalah daya, aku yang tak pernah bisa menghindar atau bahkan menolak permintaan Nona Tania.

__ADS_1


Tuan Arka membeli tiga bungkus nasi yang terkenal cukup enak di Taman sejak dulu. Nona Tania yang melihat sang Papa membeli nasi bungkus langsung mengambil satu untuknya kemudian mencari tempat duduk dan mulai memakan nasi yang tadi di bawakan oleh Tuan Arka.


"Makanlah!" titah Tuan Arka sambil mengulurkan satu nasi bungkus ke arahku, sejak tadi aku hanya duduk di belakang Tania yang sedang asyik menikmati makananya.


"Hah?" sahutku bingung sambil menengadah ke atas melihat Tuan Arka yang memang memiliki tubuh tinggi dan kekar menghalangi sinar mentari yang sejak tadi menerpaku.


"Makanlah!" sekali lagi Tuan Arka mengulangi kata-katanya.


"Ma~ maaf, aku sudah sarapan Tuan," jawabku jujur, perutku saja masih kenyang karena tadi memang sudah sarapan mencoba menolaknya dengan penolakan halus.


"Aku tidak suka di tolak ataupun di bantah, makan atau kamu tidak akan pernah bisa masuk kerja lagi," ancam Tuan Arka.


Aku hanya terdiam sambil membulatkan mata lebar, sungguh Tuan Arka yang ada di hadapanku saat ini tidak jauh berbeda dengan Tania kecil yang selalu suka memaksakan kehendaknya.


"Ta~" aku tak mampu meneruskan ucapanku melihat tatapan tajam Tuan Arka yang kini menatap tajam ke arahku seolah ingin menguliti kulit tubuhku.


Dengan sedikit terpaksa aku mengambil satu bungkus nasi yang di sodorkan padaku, sungguh saat ini Tuan Arka terlihat jauh lebih menakutkan dari biasanya.


"Minum, Mbak," suara renyah Tania terdengar, dia menyodorkan satu botol minuman ke arahku.


"Terima kasih, Nona Tania," sahutku sambil mengambil minuman yang tadi di sodorkan padaku.


"Mulai hari ini jangan panggil aku Nona lagi Mbak!" ujar Nona Tania yang membuatku kaget setelah mendengarnya.

__ADS_1


"Tidak biasa Nona, ini sudah menjadi peraturan yang harus di taat," jawabku yang merasa jika menghilangkan panggilan Nona pada putri majikan bukanlah hal yang baik.


"Mbak bukan pembantu ataupun pelayanku, jadi jangan panggil aku Nona! panggil saja Namaku, Tania! dan seharusnya bukan Mbak Senja yang berterima kasih tapi aku, terima kasih, karena Mbak mau menemaniku, akhirnya aku bisa menghabiskan hari libur dengan keluarga yang lengkap, sekali lagi terima kasih Mbak," ucapan Nona Tania cukup membuat hatiku terenyuh, gadis kecil ini membuatku sadar jika kasih Ibu tak akan pernah bisa di beli oleh apapun di dunia ini, sekalipun dengan segunung emas.


__ADS_2