
"Tuan Arka yakin mau makam di sini?" tanyaku saat melihat ketertarikan di wajah Tuan Arka yanh justru membuatnya curiga seolah tidak percaya.
"Kenapa? apa aku tidak terlihat meyakinkan?" sahut Tuan Arka seraya menatap ke arah Senja yang kini justru sadar jika dirinya salah berucap.
"Tidak, Tuan, maaf aku yang salah bicara," sahutku, dia tidak ingin terkena masalah hanya karena menanyakan hal yang tak seharusnya di tanyakan.
"Ini untuk Tuan, kebetulan Bibik masak oseng kangkung kesukaan Tuan," ujar ibu yang baru saja selesai memasaknya.
"Papa bawa apa?" kali ini Tania yang bertanya.
"Papa bawa fried chicken kesukaan kamu," jawab Tuan Arka sambil menggeser bungkusan yang tadi dia bawa.
"Makanlah!" titah Tuan Arka.
"Ishhh, Papa sekali-sekali aku ingin makan menu masakan di sini, kenapa malah di bawakan fried chicken?" bukannya merasa senang dan langsung melahap makanan yang di bawakan oleh sang Papa, Tania malah melayangkan protes jika apa yang di lakukan oleh sang Papa bukanlah hal yang dia inginkan.
"Papa fikir kamu akan senang jika Papa membawakan makanan kesukaanmu itu," ujar Tuan Arka.
Tania tak menyahuti ucapan Tuan Arka, dia memilih langsung melahap fried chicken yang tadi di bawakan untuknya.
'Dasar bocah, tadi protes, tapi lihatlah! sekarang makannya lahap sekali,' batinku yang merasa jika puteri dan Papa sama saja, sama-sama aneh.
"Tuan mau saya ambilkan makan?" tawar Ibu saat melihat Tuan Arka hanya diam menatap beberapa menu yang ada di atas meja.
"Tidak usah Bik, biar aku ambil sendiri," jawab Tuan Arka.
Kami makan dengan tenang dan penuh kenikmatan, rasa syukur yang tak pernah hilang dalam diriku menjadi penyebab utama rasa nikmat itu muncul.
"Senja!" panggil Tuan Arka setelah kami selesai makan, saat ini aku berada di ruang keluarga, duduk menonton televisi bersama Tania yang begitu anteng berada di pangkuanku.
__ADS_1
"Iya, Tuan," sahut ku yang langsung menoleh ke arah Tuan Arka yang duduk tidak jauh dari tempatku duduk.
"Ada yang ingin aku bicarakan, bisakah kita berbicara berdua saja?" ujar Tuan Arka.
"Tentu saja," jawabku buang tak mungkin menolak apa yang Tuan Arka minta.
"Tania, ada sesuatu yang ingin Mbak bicarakan dengan Papa Tania, jika Tania Mbak tinggal di sini tidak apa-apa bukan? " sambung Tania yang bertanya pada Tania.
"Memangnya Papa sama Mbak Senja mau ke mana?" bukannya langsung mengatakan iya, Tania yang memang cerdas bertanya lebih dulu sebelum membiarkan aku dan Tuan Arka pergi.
"Papa mau bicara hal penting pada Mbak Senja, apa Tania mengizinkan Papa untuk pinjam Mbak Senja?" Tuan Arka menjelaskan apa yang ingin dia lakukan.
"Boleh, tapi jangan terlalu lama ya, Pa!" jawab Tania.
"Iya, Tania duduk manis di sini dan jangan ke mana-mana! kalau ada sesuatu yang kamu inginkan panggil saja Papa atau Mbak Senja, kami ada di ruang tamu," ujar Tuan Arka yang mendapat anggukan dari Tania sebagai Tanda d jika Tania sudahengerti dengan apa yang Tuan Arka katakan.
"Bagus, sekarang duduk yang manis! Papa sama Mbak Senja pergi dulu!" pamit Tuan Arka yang kini berjalan meninggalkan Tania dan aku hanya mengikuti langkahnya yang berjalan menuju ruang tamu.
"Aku berencana menceraikan Angel," tidur Tuan Arka yang cukup membuatku kaget dan bingung.
"Loh, kenapa Tuan tiba-tiba ingin menceraikan Nyonya? memangnya ada apa? bukankah Nyonya Angel adalah wanita yang sempurna?" aku yang terkejut mendengar pernyataan Tuan Arka langsung bertanya tanpa bisa menahan diri.
"Sempurna di matamu bukan berarti sempurna di mataku, Senja," sahut Tuan Arka yang semakin membuatku bingung dan tak bisa mengerti dengan apa yang terjadi.
"Kenapa bisa seperti itu Tuan?" aku kembali bertanya tanpa berfikir akibat dari pertanyaan yang aku ungkapkan.
"Dia selingkuh Senja, dan aku tidak ingin terus hidup dengan wanita yang memiliki sejuta kebohongan dalam hidupnya," jelas Tuan Arka.
Tak pernah terfikir sebelumnya jika Tuan Arka akan mengatakan semuanya segampang ini, sejak dulu aku berfikir jika Tuan Arka adalah sesuatu yang tak mungkin bisa di sentuh, tapi kali ini pemikiran ku salah, Tuan Arka malah terlihat seperti teman yang kini sedang berkunjung ke dalam rumah.
__ADS_1
"Apa? selingkuh?" spontan ku yang merasa begitu terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar, hanya wanita bodoh yang berani berselingkuh setelah memiliki suami sebaik dan setampan Tuan Arka, meski kelihatannya dingin dan kejam, tapi Tuan Arka punya sisi lembut yang memang tak banyak orang tahu, tapi jika di jadikan seorang suami, Tuan Arka adalah tipe suami idaman, seharusnya.
"Jangan terkejut! sejak dulu Angel memang tidak mencintaiku, karena itulah dia berani berselingkuh di belakangku," tutur Tuan Arka yang melihat ekspres ku terkejut ku.
"Apa itu bisa di jadikan alasan untuk sebuah perceraian Tuan? ingatlah di antara Tuan dan Nyonya ada Tania yang masih butuh perhatian dan kasih sayang kalian," ujarku yang mencoba menenangkan suasana dan mencoba membujuk Tuan Arka agar dia tidak melanjutkan rencana yang menurutku akan berdampak pada Tania.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang, semuanya ini akan jauh lebih baik dari pada aku terus memaksakan diri untuk mempertahankan semuanya tapi pada akhirnya air mata yang akan aku dan Tania dapat, bukan kebahagiaan," Tuan Arka mencoba mengatakan apa yang tengah dia fikirkan.
"Tujuan Tuan mengatakan semua ini apa? dan apa yang bisa aku lakukan, Tuan?" tanyaku yang merasa tidak enak hati jika harus menolak apa yang Tuan Arka minta.
"Dua hari ini aku akan mencari bukti yang akan semakin menguatkan posisiku agar nanti jika aku menceriakan nya, hak asuh Tania ada di tanganku," Tuan Arka menjelaskan apa yang menurutnya perlu di jelaskan.
"Terus Tuan Arka datang ke sini dan mengatakan semuanya padaku kenapa?" tanyaku spontan dan langsung pada intinya.
"Aku ingin kamu menjaga Tania dua hati kedepan, aku akan menjemputnya lusa, dia sedang libur sekolah jadi aku minta padamu untuk tetap menjaganya selama aku pergi, apa kamu sanggup?" Tuan Arka mengatakan tujuannya datang ke rumah.
Aku terdiam tak mampu mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini.
"Aku yakin kamu bisa, karena itulah aku datang dan meminta kamu melakukan tugas ini, selama kamu bertugas menjaga Tania dan memberikan pengertian padanya, kamu saya izinkan untuk libur tidak bekerja di kantor, dan aku juga akan memberikan imbalan atas pekerjaan yang aku berikan," ujar Tuan Arka, aku hanya diam sambil berfikir keras untuk menerima atau menolak apa yang Tuan Arka minta.
"Jangan banyak berfikir! kamu harus setuju dengan apa yang aku minta karena ini perintah bukan lagi permintaan biasa," ujar Tuan Arka yang terlihat tidak ingin di tolak.
"Baiklah, aku akan menjaga Tania," sanggup ku yang tak mungkin bisa menolak permintaan Than Arka.
"Bagus, aku akan pergi selama beberapa hari, ini bekal untuk Tania, dan pinnya tanggal ulang tahun Tania," ujar Tuan Arka sambil memberikan satu kartu yang kemarin sempat aku tolak.
"Jika Tuan pergi, apa yang harus aku katakan pada Tania jika dia tanya Tuan?" tanyaku.
"Aku akan menjelaskan semuanya sebelum aku pergi, Tania adalah gadis yang cerdas, karena itu aku yakin dia akan mengerti dengan kepergianku sementara ini.
__ADS_1
Seperti yang Tuan Arka katakan, dia berpamitan dan menjelaskannya sesuatu pada Tania yang terlihat mengerti, kemudian pergi meninggalkan aku dan Tania di dalam rumah.
"Cepat pulang Pa! Tania akan selalu nunggu Papa," ujar Tania dengan air mata yang menggenang, tapi bibir yang tersenyum.