Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Menggemaskan


__ADS_3

"Itu imbalan jika kamu bersedia menemani Tania piknik hari ini," Tuan Arka menjelaskan tujuan dirinya memberikan uang padaku.


"Jika aku menemani Tania, bagaimana dengan pekerjaanku yang ada di kantor?" tanyaku, aku harus menanyakan semuanya sebelum mengambil keputusan, bafaimsbspun juga, aku tidak boleh kehilangan pekerjaan hanya karena menuruti keinginan Tania dan tergiur segepok uang yang dj tawarkan Tuan Arka.


"Besok kamu bisa kembali bekerja, lagi pula kantor itu milikku, jadi kamu tidak usah khawatir! aku sudah mengurus semuanya," jelas Tuan Arka yang cukup membuatku lega.


"Baiklah, aku akan menemani Tania, tapi aku tidak mau menerima uang itu," sahutku yang merasa jika hanya menemani Tania tidak perlu memberi imbalan seperti saat ini.


"Kamu mau menerima uang itu atau kamu akan aku pecat dari kantor?" sebuah pilihan yang tak menguntungkan di ucapkan oleh Tuan Arka.


Sejenak aku terdiam setelah mendengar ucapan Tuan Arka yang cukup membuatku bingung, tapi kebingungan itu segera aku singkirkan, karena Tuan Arka bukanlah orang yang memiliki kesabaran tinggi hanya untuk menjawab pertanyaaku.


"Baiklah, kitaau piknik ke mana?" aku langsung bertanya pada intinya tanpa perlu berbelit-belit.


"Bagus, tunggu aku di bawah dan bantu Tania bersiap!" Tuan Arka yang menang memiliki kekuasaan untuk memerintah kembali memberiku perintah.


"Siap, Tuan," jawabku seraya berjalan hendak meninggalkan Tuan Arka yang masih duduk di tempatnya.


"Tunggu, Senja!" cegah Tuan Arka yang sukses menghentikan langkahku.


"Ada apa, Tuan?" tanyaku sambil menyipitkan mata merasa andh dengan panggilan Tuan Arka.


"Ambil uangmu!" titah Tuan Arka, sedang aku tersenyum menyadari jika aku lupa untuk membawa uang pemberian Tuan Arka dan membawanya bersamaku.


"Maaf, dan terima kasih Tuan," ucapku setelah mengambil uang yang di berikan oleh Tuan Arka.


Bibirku tak henti-hentinya tersenyum senang karena selain aku bisa rekreasi dan piknik bersama Tania, gadis kecil yang menurutku sangat imut itu aku juga bisa dapat cian untuk menambah tabungan pernikahan.

__ADS_1


Eh, tunggu! pernikahan, siapa yang mau menikah? aku? dengan siapa? Sam? Fikiran ku mulai melayang memikirkan Sam yang ingin aku jauhi.


"Mbak Senja!!" suara Tania mengejutkan ku yang tengah larut dalam fikiranku sendiri.


"Eh, Tania," sahutku sambil mengalihkan pandangan menatap lekat ke arah Tania dan mulai fokus padanya.


Aku melangkah mengikuti langkah Tania menuju kamarnya, kamar yang luasnya melebihi luas ruang tamu dan ruang keluarga milikku.


"Menurut Mbak Senja baju mana yang paling bagus dan cocok untukku?" tanya Tania seraya membuka lemari pakaian yang terlihat penuh dengan baju-baju yang bisa ku pastikan harganya mahal, bahkan lebih mahal dari gajiku selama satu bulan.


"Semua bajunya bagus dan pasti terlihat cocok di badanmu, Tania," jawabku dengan senyum yang mengembang di wajahku, aku berjalan mendekat ke arah Tania kemudian ikut memilihkan baju yang menurutku paling cocok untuk Tania.


"Baiklah, aku akan memakai baju ini," ujar Tania dengan wajah penuh kebahagiaan dia berlari menuju kamar mandi dan mengganti baju yang tadi aku pilihkan.


Baju blus berwarna merah muda dengan motif bunga berwarna putih dengan panjang selutut membuat Tania terlihat cantik nan lucu, dan aku begitu gemas melihat Tania yang kini berdiri tepat di hadapanku saat ini.


"Issshh, kamu terlihat begitu cantik dan menggemaskan Tania, kalau Mbak Senja nyubit pipi Tania apa Tania mengizinkannya?" aku yang tak lagi bisa menahan diri untuk diam tanpa melakukan sesuatu langsung mengutarakan apa yang ingin aku lakukan.


'Cup'


Satu kecupan gemas mendarat indah di pipi Tania yang justru mencium balik pipiku.


"Mbak Senja juga menggemaskan," seru Tania setelah mencium balik pipiku.


"Tania," protes ku karena Tania mencium pipiku tanpa pamit.


"Ayo pergi!" bukannya menggubris ucapanku, Tania justru mengajakku pergi, dan sifat ini tidak jauh berbeda dengan sikap sangat Papa yang suka seenaknya sendiri.

__ADS_1


Kami melangkah keluar dari dalam kamar berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga.


"Loh Papa mana?" tanya Tania sesaat setelah dia sampai di ruang keluarga tapi tak melihat seng Papa di sana, dia hanya melihat Oma yang tengah asyik membaca majalah.


"Dia masih di ruang kerja, sebentar lagi juga dayang," jawab Oma yang mengerti jika Tania akan marah besar jika tahu kalau Tuan Arka tidak jadi pergi atau malah menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bisa di kerjakan nanti sepulang piknik.


"Papa ini kebiasaan deh, selalu saja membuatku menunggu," keluh Tanua sambil berdecak pinggang, dia terlihat begitu kesal dengan sikap sang Papa yang selalu saja tidak bisa tepat waktu dan alasannya tetap sama yaitu pekerjaan.


"Tunggu saja sebentar! yang sabar Tania! Papamu melakukan semuanya demi dirimu, jadi jangan memojokkannya!" sahut Oma yang langsung menutup majalah yang ada di pangkuannya.


"Lebih baik Tania ke sini deh! biar Oma rapihin rambutnya," sambung Oma sambil tersenyum menghadap ke arah Tania.


Tania sejenak diam kemudian berjalan mendekat ke arah Oma dan duduk di pangkuannya.


"Oma, untuk apa uang yang banyak jika aku tetap tak bisa bersama dengan Mama?" pertanyaan yang cukup menusuk jantung Oma dan mengejutkan diriku, sungguh aku tak menyangka Tania bisa berbicara seperti itu.


"Mama sedang sibuk Sayang," Oma mencoba menenangkan Tania dan membuatnya tenang agar tidak berfikir buruk tentang Mamanya.


"Sibuk mencari uang, Papa sibuk, Mama sibuk, semuanya demi uang, dan aku bosan mendengarnya, aku tidak butuh uang banyak Oma, yang aku butuhkan cuma kasih sayang mereka," jujur Tania dengan mata berkaca-kaca Tania mengungkapkan isi hatinya.


"Apa semuanya sudah siap?" suara Tuan Arka terdengar menggema di ruang keluarga mengalihkan perhatian setiap orang yang ada di dalamnya.


"Papa, lama," sahut Tania yang langsung berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Oma yang masih setia duduk disofa yang ada di depan televisi.


"Tania kenapa?" tanya Tuan Arka yang merasa aneh dengan perubahan sikap Tania, dia yang sejak tadi terlihat senang dan paling bersemangat, sekarang malah terlihat kesal.


"Tidak ada apa-apa, sudah segera pergi saja! keburu siang, gak enak piknik di siang bolong, panas," Oma yang tidak ingin memperpanjang masalah langsung menjawab pertanyaa Tuan Arka.

__ADS_1


"Tania, kita kan ku piknik, pa Tania masih ingin diam di sini atau kita berangkat?" tanyaku yang sedang berusaha mengalihkan perhatian setiap orang yang ada di ruang keluarga, terutama Tania.


"Tentu saja, ayo berangkat Mbak!" jawab Tania yang langsung menarik tanganku keluar dari ruang keluarga menuju mobil yang sudah terparkir tepat di depan rumah.


__ADS_2