Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Bingung


__ADS_3

"Bagus, lakukan semua yang bisa kamu lakukan! dan Aku akan menunggu hasilnya," ujar Tuan Arka yang langsung pergi setelah melakukannya, dia melangkah pelan melewatinya sambil menepuk pelan pundaknya kemudian berlalu.


Usai kepergian Tuan Arka aku di buat bingung dengan tugas yang sebenarnya mengusik hati nurani, apa aku tidak akan dosa jika berusaha untuk memisahkan anak dan ibunya? tapi jika ku tidak melaksanakannya aku khawatir Tuan Arka akan marah dan menendangku dari perusahaan ini.


"Ahhh Tuhan, aku hanya bisa pasrah tanpa bisa melawan, semoga saja engkau mengampuni karena aku yakin engkau tahu bagaimana keadaanku saat ini," lirihku sambil menatap ke atas langit mengingat apa yang akan aku lakukan setelah Ini bukanlah hal yang baik menurutku.


Cukup lama aku merenung hingga waktu istirahat yang ku punya habis untuk merenungi segalanya.


"Hat Senja!" sapa Mbak Fira yang sudah lama tak pernah menyapaku, dia selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri begitu pula denganku, hanya Reyhan yang selaku bisa membantu dan terkadang menggantikan aku untuk mengerjakan tugas yang sebenarnya milikku.


"Iya, Mbak," sahutku sambil menoleh ke arah Mbak Fira yang kini duduk disampingku.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Mbak Fira sambil menatap aneh ke arahku.


"Aku lagi menikmati bekal makananku Mbak," jawabku dengan senyum yang ku buat semanis mungkin.


"Kenapa makan sendirian di sini?" Mbak Fira kembali bertanya.


"Aku lebih suka makan di tempat sepi saat membawa bekal, biar lebih terasa nikmatnya Mbak," sebisa mungkin aku menjawab pertanyaan ketua leaderku itu dengan jawaban jujur dan Mbak Fira hanya manggut-manggut mendengar jawabanku.

__ADS_1


Jam kerja sudah selesai, kini tiba waktunya aku menemui Sam di cafe yang sudah kita tentukan untuk bertemu, sebenarnya aku merasa malas untuk bertemu lagi dengan Sam setelah kejadian kemarin, tapi mau bagaimanapun Sam sudah pernah berbuat baik padaku dan aku juga butuh informasi darinya, dari mana dia dapatkan sertifikat itu dan bagaimana cara dia mendapatkannya.


Meski rasanya malas amutetap melangkah menuju cafe yang kini terlihat cukup ramai, di jam pulang kantor dan makan siang cafe ini memang selalu ramai karena itulah aku memilih cafe ini agar aku merasa aman, pasalnya setelah kejadian itu aku tidak bisa percaya seratus persen pada Sam yang ternyata membohongimu, dia begitu pandai bersandiwara dan aku juga begitu bodoh tak menaruh curiga sama sekali terhadapnya.


Aku mulai celingukan mencari keberadaan Sam yang aku yakini sudah ada di dalam cafe, dan benar saja Sam melambaikan tangan melihat aku yang baru masuk ke dalam cafe. Dia duduk di pojok ruangan yang sejurus dengan pintu masuk sungguh tempat yang strategis untuk menunghu seseorang, melihat lambaian tangan Sam aku berjalan ke arahnya mendekat dan duduk tepat di depan Sam yang kini tersenyum menyambutku.


"Jelaskan!" titahku sesaat setelah aku duduk di hadapan Sam.


"Kamu baru pulang kerja, bagaimana kalau kita makan dulu? aku tahu kamu pasti capek dan lapar setelah seharian bekerja," bukannya langsung menjelaskan Sam malah menawari aku yang tengah emosi ini makan, jika saat ini aku tidak sedang marah atau kecewa aku pasti akan menganggap tawaran Sam bentuk sebuah perhatian, tapi hal itu berbeda karena sekarang aku menganggap Sam tidak lagi sama seperti dulu karena itulah aku menganggap Sam sedang mengulur waktu agar bisa lebih lama bersama denganku.


"Tidak perlu basa basi Sam! aku datang untuk mendengarkan penjelasanku bukan untuk menemaniku makan, jadi jelaskan semuanya atau aku akan pergi sekarang!" ujarku dengan emosi yang sedikit memuncak mendengar Sam yang sok manis tapi menyakitkan.


"Sudahlah Sam, jangan mengulur waktu! jika kamu memang tak berniat untuk menjelaskan semuanya, lebih baik aku pergi saja." Ancamku yang merasa jika Sam sedang mengulur waktu agar aku berada di dekatnya lebih lama.


"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya, aku harap kamu bisa mengerti dan setelah ini aku harap kamu mau memaafkanku dan memulai semuanya dari awal," ujar Sam.


Aku hanya diam mendengar semua ucapan Sam, bagiku semua ucapannya tak mampu menembus dinding tebal yang telah dia bangun di antara kita, rasa kecewa yang di torehkan masih segar dalam ingatan, apa lagi rasa sakit hatiku ketika mengingat ucapan kedua orang tua yang sangat berarti bagi Sam sungguh tak bisa aku lupakan sampai saat ini.


"Dulu waktu kita masih SMA, tanpa sengaja aku melihat Ibu pergi ke rumah rentenir dengan membawa selembar kertas yang tersimpan rapi di dalam map yang tengah di tenteng, tanpa banyak berfikir aku mengikuti langkah Ibu dan bersembunyi di balik gerbang tinggi yang ada di depan rumah sang rentenir. Cukup lama aku menunggu Ibumu keluar dari sana hingga aku melihat Ibuku keluar dengan air mata yang masih terlihat mengalir dari pelupuk matanya, kecurigaanku pada Ibumu semakin nyata saat aku melihat amplop cokelat yang ku yakini berisi uang berada di tangannya," Sam menghentikan ceritanya kemudian mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, sedang aku hanya bisa diam mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Sam.

__ADS_1


"Sesaat setelah kepergian Ibuku aku langsung masuk ke dalam rumah itu dan menanyakan apa yang Ibuku lakukan di sana, benar saja ibuku menggadaikan sertifikat rumah yang sekarang kamu tempati untuk membayar lunas sekolahku dan biaya Ayahmu yang sakit, saat itu Ibuku menggadaikan sertifikat rumah dengan jumlah puluhan juta dan aku yang hanya anak SMA tak memiliki yang maupun tabungan sebanyak itu, aku berinisiatif menggadaikan BPKB mobil yang baru Mama belikan tanpa sepengetahuannya dan menabung lebih dari setengah jatah uang jajan yang Mama berikan untuk membayar cicilannya, awalnya aku berniat untuk memberikannya padamu sebagai hadiah setelah pesta pernikahan kita, tapi rencana itu tak bisa terealisasikan karena kamu meminta putus tanpa sebab, sedang aku sudah menyiapkan segalanya untukmu, Senja, sebenarnya aku tak memiliki niat jahat padamu, aku hanya terhimpit keadaan, seandainya saja kamu tidak meminta putus secara sepihak dan tiba-tiba seperti waktu itu, aku pasti tidak akan melakukan hal yang membuat kamu kecewa dan marah seperti sekarang," jelas Sam.


Tanpa terasa air mataku luruh tanpa bisa aku tahan, begitu tulus hati laki-laki yanh ada di hadapanku saat Ini, tapi aku tetap tak bisa melanjutkan hubungan yang bisa aku pastikan akan berakhir menyusahkan dan buruk jika aku memaksanya.


"Maafkan aku Senja, maaf jika aku telah menoreh luka dan membuatmu kecewa, tapi aku mohon padamu, percayalah! perasaan yang aku miliki ini tulus untukmu dan aku melakukan semuanya juga karena aku tak rela jika harus berpisah denganmu, aku benar-benar mencintai dan menyayangimu, senja," sambung Sam yang aku yakini kini merasa sudah bisa membuat hatiku luluh dan menghapus rasa sakit juga kecewa yang sempat dia torehkan, tapi aku menangis bukan karena itu, aku menangis karena sekuat apapun Sam berusaha dan sebesar apapun dia berkorban hubungan kita tak akan pernah bisa menyatu karena restu Ibu dan Oma Sam mustahil untuk aku dapatkan.


"Maafkan aku Senja, aku benar-benar tak memiliki niat buruk, dan aku sangat serius dengan perasaan yang aku punya untukmu," sekali lagi Sama mencoba meyakinkan diriku agar bisa memaafkannya dan berharap bisa memulai semuanya dari awal.


"Maaf, Sam," lirih ku dengan ekspresi wajah sendu, ku tatap wajah Sama yang sedang memohon dengan ekspresi sedih.


"Maaf untuk apa, Senja? harusnya aku yang meminta maaf padamu karena sudah membohongimu dan mengecewakanmu," sahut Sam yang merasa jika semua yang terjadi merupakan kesalahannya.


"Maafkan aku karena aku tidak akan pernah bisa kembali menjadi pasangan mu," jelasku.


"Kenapa tidak bisa? apa kamu sudah punya pengganti diriku? atau kamu tidak memiliki perasaan lagi padaku, Senja?" Pertanyaan yang wajar keluar dari mulut Sam, meski aku mengerti jika pertanyaan itu sangat wajar, tapi tetap saja aku merasa tak bisa langsung menjawabnya.


"Senja, katakan sejujurnya! apa yang sebenarnya terjadi? dan kenapa kamu tak bisa bersama dengan diriku lagi?" Sam terus saja memaksaku, sedang aku hanya bisa diam dan mengumpulkan keberanian untuk menceritakan segalanya pada Sam.


"Senja!" sambung Sumbang terlihat belum puas dengan pertanyaan yang satupun belum aku jawab.

__ADS_1


"Iya," sahutku bingung, sungguh aku sedang berperang dan segala fikiran yang berkecamuk dalam hati, haruskah aku mengatakan yang sejujurnya atau aku tetap diam dan membiarkan Sam berfikiran buruk tentang ku.


__ADS_2