Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Perintah Tuan Arka


__ADS_3

Sam membuka camilan yang aku bawakan dengan penuh rasa penasaran. Dan aku tersenyum senang menatap Sam yang terlihat begitu penasaran.


"Apa ini ote-ote?" tanya Sam.


"Iya, kenapa? apa kamu tidak suka ote-ote?" tanyaku setelah melihat ekspresi wajah Sam yang terlihat terkejut sengan camilan yang aku bawa.


"Tidak, aku suka kok," jawab Sam dengan senyum yang terlihat begitu manis.


"Itu buatanku loh, cobalah!" ujarku saat melihat Sam tak kunjung melahap camilan yang aku bawa.


"Benarkah?" sahut Sam yang langsung memakan camilan yang tadi aku bawakan.


Sam terlihat begitu lahap memakan ote-ote yang tadi aku bawakan. dan aku merasa begitu senang melihatnya.


"Sam!" suara lembut seorang gadis yang cukup membuatku terkejut saat melihatnya, pasalnya selama aku mengenal Sam aku tidak pernah bertemu dengannya.


"Oh Sania, kemarilah!" sahut Sam yang terlihat begitu akrab dengannya.


"Kamu sedang apa? dan dia siapa?" tanya Sania menatap sinis ke arahku, dia terlihat kurang menyukai kehadiranku.


"Ini aku sedang makan camilan buatan calon istriku," jawab Sam dengan senyum penuh rasa bangga yang terlihat jelas di wajahnya, sedang diriku hanya bisa tersenyum kikuk melihat ke arah Sania yang kini duduk tepat di samping Sam.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu suka makan gorengan kaya gitu?" pertanyaan Sania cukup membuatku tercengang.


"Maksud kamu bagaimana?" selaku merasa aneh dengan pertanyaan yang di ungkapkan oleh Sania.


"Sania, stop! jangan membicarakan hal yang tidak penting!" cegah Sam, apa yang di lakukan Sam semakin membuatku penasaran, dia terkesan menutupi sesuatu dariku.


"Sam, katakan! apa yang di maksud Sania barusan?" aku yang terlanjur merasa penasaran terus saja memaksa Sam untuk menceritakan yang sebenarnya.


"Tidak ada apa-apa, Sayang, jangan hiraukan ucapan Sania!" jawaban yang sungguh tidak aku harapkan keluar dari mulut Sam.


Sam terlihat terus menutupi sesuatu yang entah apa? sedang Sania, gadis yang belum aku tahu siapa dan ada kepentingan apa di rumah itu terus saja menatapku sinis dan terkesan mengejek.


"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat, kalau begitu aku lebih baik pulang saja." Pamitku yang merasa tidak suka dengan apa yang aku lihat saat ini.


"Sam, aku bisa datang ke sini kapanpun, tapi tidak dengan gadis di hadapanku itu, aku yakin jika dia bukan tamu sembarangan, jadi aku harap kamu mengerti, aku pergi dulu." Aku yang memang keras kepala tak lagi bisa menahan diri, aku memilih berdiri dan langsung pergi.


Jangan tanyakan apa Sam mencegahnya atau membiarkanku, karena dia terlihat tak berdaya untuk mengejarnya setelah Sania mengingatkan jika tugas mereka belum selesai dan aku tidak tahu tugas apa yang Sania maksud.


'Kenapa aku tadi datang, kalau aku tahu akan seperti sekarang jadinya, lebih baik aku tidur dari pada harus melihat sesuatu yang menjengkelkan seperti saat ini,' aku terus saja mengomel dalam hati sambil berjalan menyusuri jalanan yang biasa ku lewati setiap kali ingin pergi ke rumah Sam dulu.


Tin ... tin ... tin ....

__ADS_1


Suara klakson mobil cukup membuatku terkejut dan sukses membuatku menoleh ke asal suara.


"Mobil ini kenapa sih? perasaan aku berjalan di jalan yang beber, tapi kenapa ini mobil malah bunyiin klakson gak jelas gitu," lirihku melirik ke arah mobil yang kini malah mensejajarkan diri dengan diriku yang berjalan santai.


Aku terus menoleh ke arah mobil mewah yang baru saja membunyikan klakson dan membuatku terkejut karenanya.


Awalnya aku hanya diam hingga aku mendengar suara seorang laki-laki memanggil namaku.


"Senja!" suara itu kembali terdengar dan kali ini aku yakin jika yang ada di dalam mobil mengenal diriku yang tengah berjalan di tepi jalan dengan pipi yang menggembung.


"Apa kamu memanggilmu?" tanyaku mencoba memastikan jika apa yang dia dengar tidak salah.


Perlahan Kafa belakang bagian penumpang terbuka, tampaklah Tuan Arka yang sedang duduk anteng menghadap ke arah depan.


"Masuklah!" titah Tuan Arka.


"Terima kasih Tuan, tapi aku bisa jalan kaki, lagi pula rumahku dekat kok," aku mencoba menolak dengan bahasa halus dan nada yang ku buat selembut mungkin agar Tuan Arka tidak marah mendengar penolakanku.


"Masuk atau aku pecat kamu dari kantor?" selalu saja mengancam dan sialnya lagi aku selalu tidak bisa menolak apa yang Tuan Arka perintahkan, jujur saja aku sangat membutuhkan pekerjaanku sekarang dan aku tidak ingin di pecat hanya karena menolak ajakan sang pemilik perusahaan.


Dengan langkah semakin lemas aku berjalan masuk ke dalam mobil dan menuruti apa yang Tuan Arka perintahkan, mengalah jauh lebih baik dari pada harus terus bertengkar apa lagi sampai harus kehilangan pekerjaan hanya karena menolak pemberian sang pemilik.

__ADS_1


"Duduklah!" Tuan Arka kembali memberi perintah dan sialnya aku hanya bisa menuruti keinginan Tuan Arka tanpa bisa menolaknya lagi.


__ADS_2