Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Menguatkan Diri


__ADS_3

Ku langkahkan kaki keluar dari kamar seraya mengumpulkan kekuatan menjalani hidup yang terasa begitu sulit.


"Sarapan dulu Senja!" suara Ibu terdengar begitu lembur menenangkan hati.


"Aku masih kenyang, Bu," sahutku sambil terus berjalan menenteng sepatu juga tas selempang yang sengaja aku bawa dengan tangan.


"Hidup itu penub tantangan dan ujian, jika kamu tidak makan bagaimana kamu bisa melewati segalanya?" ujar Ibu.


Sejenak aku terdiam memikirkan apa yang baru saja Ibu katakan, meski aku mengerti dan tahu dengan pasti jika apa yang di katakan Ibu itu benar, tapi tetap saja, rasanya begitu malas untuk mengisi petung yang sebenarnya sudah terasa lapar.


"Biar nanti aku makan, sekarang makanannya aku bungkus saja buat bekal," ujarku.


Ibu tidak akan membiarkanmu pergi tanpa makan atau membawa makanan jika aku tak ingin makan, hal itu sudah terjadi sejak dulu dan aku yang sudah hafal memilih ubtuk membawa bekal dari pada memaksakan diri untuk makan dan pada akhirnya aku tak akan mampu untuk menghabiskan makanan yang Ibu sediakan.


Tanpa banyak bicara ataupun tanya, Ibu berjalan dengan penuh semangat masuk ke dalam dapur Mengambil makanan yang akan di bawakan padaku.


"Jangan lupa di makan! telat makan ataupun malah tidak makan sama sekali akan merugikan tubuhku, sesulit apapun kehidupan yang tengah kamu jalani, makan adalah hal penting yang tak boleh kamu lewatkan, karena jika kamu tidak makan dan sakit karenanya, bukan kebahagiaan yang akan kau dapat tapi kepedihan dan masalah yang tak akan pernah usai," pesan Ibu sambil mengulurkan kotak makan yang ada di tanganku.


"Terima kasih Ibu, maaf aku sudah mengecewakanmu, maaf juga karena aku masih belum bisa membuatmu bahagia," sahutku seraya meraih tangan Ibu dan mulai mencium punggung tangannya.


"Sudah, jangan terlalu banyak berfikir! melihatmu sehat dan tersenyum sudah cukup bagi Ibu, jadi jangan bersedih!" ujar Ibu sambil tersenyum kemudian mencium pelan dahiku, mencoba menyalurkan segala rasa sayang yang aku rasakan.


"Kalau begitu, Senja pamit dulu Ibu," pamitku yang langsung berjalan keluar dari rumah untuk mencari bus dengan langkah cepat.


"Senja!" suara yang tak aku harapkan terdengar menyapa telingaku, seandainya saat ini aku bisa menghilang dan pergi menjauh, aku pasti akan melakukannya, ahhh rasanya aku ingin punya kekuatan teleportasi meninggalkan Sam yang justru saat ini memperlambat laju motornya menyamai langkahnya yang lebih cepat.


"Berhenti Senja!" titah Sam, fikiranku memberi perintah untuk terus berjalan meninggalkan Sam dan tak menghiraukannya, tapi hatiku tak bisa mengikuti fikiran, sungguh menyebalkan.


"Katakan! ada apa?" tanyaku dengan nada sinis bercampur tatapan tajam menghunus jantung.


"Aku bisa menjelaskan semuanya Senja, beri aku waktu dan kesempatan untuk mengatakan semuanya," pinta Sam dengan ekspresi wajah memelas dia berucap.

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu saat ini Sam, aku harus segera berangkat bekerja, aku mohon pergilah!" sahutku yang merasa jika aku memberinya kesempatan dan waktu untuk menjelaskan segalanya, maka aku akan terlambat bekerja.


"Jika saat ini kamu tidak punya waktu, bisakah kita bertemu di cafe tepat di depan kantor tempatku bekerja?" Sam terlihat begitu bingung dan tulus, jujur saja, aku masih menyimpan setitik cinta dalam hatiku, karena itulah aku tidak bisa menolak Sam meski logika menuntut.


"Baiklah, aku akan datang ke cafe itu sepulang bekerja nanti, sekarang bisakah kamu pergi dan biarkan aku berangkat sendiri," aku yang merasa putus asa memilih untuk menuruti permintaan Sam dari pada harus tetep diam dan membiarkan Sam terus memaksaku untuk memberikannya waktu.


"Aku akan menunggumu di cafe nanti sore, aku harap kamu menepati janjimu," ujar Sam.


"Aku pasti akan menepati janjiku, Sam, sekarang aku minta padamu, pergilah!" pintaku dengan ekspresi wajah memelas berharap Sam akan menurut dan tak mengganggumu lagi.


"Izinkan aku untuk mengantarmu Senja," ujar Sam yang cukup membuatku semakin jengkel.


"Aku sudah berbaik hati memberimu waktu untuk menjelaskan segalanya Sam, maka jangan meminta lebih dari apa yang kamu minta tadi!" sahutku yang langsung kembali melangkah meninggalkan Sam yang terlihat mematung di tempatnya.


Dengan langkah lebar aku melangkah menjauh dari Sam, meski sejujurnya dalam hatiku masih ada cinta yang mampu membuat rasa sakit yang ku rasakan semakin parah, namun aku harus tetap kuat bagaimanapun caranya, aku hidup bukan hanya untukku saja, jika aku menyerah dan memilih jalan pintas maka Ibuku yang akan menderita.


"Bismillah," lirihku.


Ku mantapkan hati dengan niat terus menjalani hidup tanpa tanpa menoleh ke arah belakang ataupun memperdulikan apa yang ada di belakangku.


"Hay Rey!" kali ini aku yang menyapa, setelah kejadian beberapa hari yang lalu di mana Reyhan dengan suka rela mengerjakan pekerjaanku, aku merasa jika Reyhan tak seburuk yang aku kira dan aku akan mulai bersikap baik padanya mulai hari ini.


"Hay juga Senja," sahut Reyhan dengan senyum khas play boy yanh selalu menghiasi wajahnya.


"Tumben pagi-pagi udah nyapa duluan?" ujar Reyhan yang kini berjalan di sampingku.


"Makasih ya," sahutku.


"Aku nanya apa? kamu jawabnya apa? ishhh dasar gadis gak ada yang bisa di mengerti," cicit Reyhan sambil menggelengkan kepala merasa aneh dengan jawabanku yang memang tidak nyambung.


Aku tersenyum manis ke arah Reyhan kemudian kembali berkata, "Terima kasih atas bantuannya kemarin, dan mulai hari ini aku tidak akan sinis lagi padamu,"

__ADS_1


"Wahhh, soal kemarin, kamu tenang saja, aku pasti akan membantumu dan cari aku jika kamu butuh bantuan," Reyhan berkata dengan begitu pedenya.


"Pasti, tapi kamu harus menjamin jika aku meminta bantuan dan kamu membantuku Siska tidak akan marah padaku," ujarku yang tak ingin terkena semprotan Siska.


"Siska tidak akan marah padamu, aku sudah menjelaskan jika aku hanya berteman baik denganmu dan aku juga sudah menjelaskan kalau kamu sudah memiliki kekasih, dan berita bagusnya lagi, aku sudah melamar Siska dan meminta dia secara resmi ke kedua orang tuanya sebagai bukti jika aku serius dengannya," Reyhan menjelaskan begitu banyak hal membuatku terkejut sekaligus menganga karena terkejut.


"Hey, Senja!" Reyhan kembali memanggilku yang tak merespon ucapannya malah diam mematung menatap lekat ke arahnya.


"Ah, iya," spontanku yang terkejut dnegan panggilan Senja.


"Kamu mendengarkanku, Kan?" tanya Reyhan saat melihatku hanya diam tanpa reaksi.


"Tentu saja, selamat ya, aku berdoa semoga hubungan kalian langgeng dan bahagia sampai akhir," ujarku dengan senyum yang ku buat semanis mungkin.


"Amin," sahutnya.


"Pagi ini kamu mau buat minum atau aku yang akan membiarkannya?" tawar Reyhan.


"Tidak usah di bantu! biar aku sendiri yang mengerjakan pekerjaan yang memang seharusnya aku kerjakan, lebih baik kamu kerjakan pekerjaanmu saja," aku menolak dengan halus tawaran Reyhan.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Semangat kerjanya," pamit Reyhan yang langsung pergi meninggalkanku yang kini berdiri mematung melihat kepergiannya.


"Rey!!" panggilku saat langkah Reyhan sedikit menjauh.


"Iya," sahut Reyhan yang langsung menghentikan langkahnya saat mendengar panggilanku.


"Semangat kerjanya! ingat! modal nikah itu banyak! jadi yang semangat ya!" ujarku dengan senyum yang merekah dan berharap Reyhan tersenyum juga karenanya.


"Tenang, entar kalau biayanya kurang kan ada kamu, kamu bisa investasi buat modal nikahanmu setelah pesta nikahanku,"jawab Reyhan sambil mengedipkan sebelah mata menggodaku seperti biasanya.


"Ishhh, Reyhan bikin hatiku makin hancur aja," lirihku sambil mengusap dada mengingat jika rencana pesta pernikahanku dengan Sam tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Untung saja saat ini aku dan Reyhan berada di lobby menuju pante, di mana tidak banyak orang lewat, jadi perbincanganku dengan Reyhan aman tak ada yang mendengar.


Aku kembali melangkah masuk ke dalam pantry melaksanakan pekerjaanku seperti biasanya, mencoba menghilangkan semua rasa sakit dan mulai beraktifitas seperti biasa bukanlah hal yang mudah, tapi aku harus tetap melakukannya, karena hidupku harus terus berlangsung dengan atau tanpa Sam di sisiku lagi.


__ADS_2