Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Memulai hari Di Sekolah Tania


__ADS_3

Aku tak lagi memperdulikan Siska yang mungkin saja sedang menahan amarah karena ucapan dan perbuatannya, tapi biarlah! yang penting aku bisa pergi saat ini, tugas dari Tuan Arka harus segera aku lakukan dan hal pertama yang akan aku lakukan, mencari tahu apa kesukaan Tania dan apa yang dia inginkan di tahun ini.


Kakiku terus melangkah hingga terasa kebas karenanya, tadinya aku fikir akan lebih mudah dan menyenangkan, tapi kenyataannya kaki terasa pegal, tadi aku sengaja turun di perempatan karena merasa tidak terlalu jauh, tapi kenyataannya tak sesuai perkiraanku, jalanan yang tadi ku kira dekat kini terasa begitu jauh.


"Pak Santo!" panggilku saat berada tepat di depan gerbang rumah yang sebenarnya lebih pantas di panggil istana dari pada rumah.


"Eh, Neng Senja, lama gak keliatan, ke mana aja, Neng?" sahut Pak Santo dengan seutas senyum yang terlihat jelas di wajahnya.


"Aku sibuk cari cuan Pak, maklumlah, pejuang receh," jawabku dengan senyum yang kembali aku tampilkan tanpa ada niat untuk menyingkirkan senyuman itu.


"Silahkan masuk, Neng!" ujar Pak Santo yang ku tanggapi dengan senyuman dan sedikit anggukan sebagai jawaban.


Kakiku kembali melangkah mendekat ke arah pintu rumah, berharap Tania ada di sana.


"Mbak Senja!!" seperti biasa suara renyah penuh bahagia terdengar di telinga, membuat aku yang berjalan sambil sedikit melamun langsung terkejut karenanya.


"Tania," sahutku dengan senyum yang kembali aku tunjukkan, sedang Tania langsung berlari ke arahku kemudian memelukku dengan cukup erat.


"Mbak tumben banget ke sini?" tanya Tania setelah berada di dalam gendongan, saat ini dia lebih mirip anak koala yang sedang di gendong induknya.


"Mbak hanya ingin bertemu denganmu," jawabku.


"Mbak, anterin Tania pergi ke sekolah ya." Pinta Tania dengan nada manja dan sedikit rengekan seperti biasanya.

__ADS_1


"Khusus untuk saat ini, Mbak mau mengantarmu, jadi, cepatlah bersiap!" jawabku.


"Asyikkk, di antar Mbak Senja," hutangnya yang masih betah berada di gendonganku.


"Mbak, Aku mau turun, mau ambil tas dulu," pinta Tania yang langsung aku turuti.


Tania berlari dengan senyum bahagia yang terlihat di wajahnya, sedang aku kebingungan harus melakukan apa? aku yang bingung memilih duduk di ruang tamu sambil menunggu Tania selesai bersiap, duduk sendiri di ruang tamu tanpa ada yang menemani membuatku bebas menatap apa saja yang ada di sana, awalnya hanya melihat hiasan yang semakin mempercantik ruang tamu, tapi tatapan mataku terhenti saat aku melihat satu foto yang cukup membuatku bertanya-tanya.


'Sebwnarnya ke mana Nyonya Angel? setelah pertengkaran waktu itu , Aku tak melihat batang hidupnya, Nyonya Angel seperti menghilang, atau sebenarnya dia ada hanya aku yang tak pernah bertemu dengannya,' batinku mulai menerka-nerka.


"Khem," deheman seorang wanita mengejutkan lamunanku yang kini sedang menatap serius ke arah sebuah lukisan keluarga berukuran besar yang ada tepat di hadapanku.


"Oma," lirihku saat aku menoleh dan melihat Oma berdiri tegak di hadapanku.


Tadi aku langsung berdiri dan menundukkan kepala merasa tak enak hati karena sudah lancang duduk di atas kursi tuang tamu tanpa ada yang menyuruhnya.


"Kamu sedang apa di sini?" pertanyaan yang menurutku wajar keluar dari bibir Oma.


"Tadi aku mendapat tugas mengatur rencana ulang tahun Tania, jadi aku datang ke sini, aku ingin tahu apa yang saat ini paling di inginkan Tania agar aku bisa membuatnya bahagia di hari kelahiran nya," jelasku.


Pma sejenak terdiam menatapku dengan intens, dan aku yang di tatap hanya bisa menunduk sambil menunggu reaksi Oma setelah mendengar ucapanku.


Nihil,

__ADS_1


Percuma ekspresi Oma tak terbaca meski dia sedang menatap ke arahku.


"Apa aku mendapat izin untuk itu, Oma?" tanyaku yang tidak bisa terus diam dan di tatap Oma dengan tatapan tak terbaca.


"Tentu saja, lakukan apa yang menurutmu perlu di lakukan! yang penting Tania bahagia," jawab Oma.


Sekarang aku mengerti dengan sikap dingin Tuan Arka dari mana? rupanya Oma yang mewarisi sikap dinginnya pada Tuan Arka.


"Terima kasih atas dukungannya, mohon doa Oma agar aku bisa menyiapkan ulang tahu Tania dengan baik dan bisa membuatnya bahagia," sahutku yang langsung meminta do'a Oma yang aku tahu beliau sangat rajin beribadah.


"Aku akan selalu mendo'akan semua yang terbaik untukmu dan semoga kamu bisa sukses membuat acara ulang tahun yang meriah tanpa air mata tahun ini," Oma juga mendukung dan menyanggupi doa yang aku minta.


Apa yang di lakukan Oma semakin membuatku semangat dan yakin jika aku mampu untuk melakukan perintah Tuan Arka.


"Mbak Senja! ayo berangkat!" suara renta penuh keceriaan Tania mengalihkan perhatianku dan Oma yang sejak tadi diam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Ayo berangkat!" jawabku yang langsung berdiri menyambut kedatangan Tania.


"Pamit dulu sama Oma!" titahku sebelum Tania benar-benar pergi.


"Oma aku berangkat sekolah dulu ya!" Pamit Tania.


"Hati-hati! sekolah yang bener! jangan nakal ataupun melawan guru di sekolah!" pesan Oma sebelum Tania benar-benar pergi dari ruang tamu.

__ADS_1


"Siap, Oma," sahut Tania yang kini terlihat begitu bersemangat untuk memulai hari dan belajar di sekolah.


__ADS_2