
"Biasanya juga langsung makan, meski gak ada yang ngajak," dahulu berusaha bersikap seni ada mungkin agar Sam tak berfikir macam-macam.
"Ibu, ini untukmu." Ujar Sam seraya memberi bungkusan yang ada di tangannya.
"Apa ini, Nak?" sahut Ibu sambil meraih bungkusan yang di ulurkan oleh Sam.
"Itu Ayam bakar Bu," jawab Sam.
"Kamu dapat dari mana ayam bakar sepagi ini, Nak?" tanya Ibu merasa heran dengan apa yang di bawa oleh Sam.
"Biasa Bu, pembantu di rumah tak suruh mask subuh tadi," jawaban yang sering sekali aku dengar setiap kali Sam membawa makanan untukku dan Ibu.
"Jangan terlalu sering bawa makanan dari rumahmu ke sini Sam! aku tidak ingin keluargamu beranggapan aku memanfaatkan persahabatan kita," selaku yang pernah punya pengalaman di omelin oleh Mama Sam.
"Jangan khawatir! Mama tidak tahu jika aku membawa makanan ini untuk kalian dan dia juga tidak tahu kalau aku sering makan di sini," jawab Sam santai.
"Ibu masak apa hari ini?" Sam mulai mengalihkan pembicaraan.
"Ibu masak ikan belimbing sayur, apa Nak Sam mau mencobanya?" tawar Ibu.
"Ikan Apa itu, Bu?" tanya Sam yang memang tak pernah tahu ikan yang di masak Ibu hari ini.
"Di coba dulu! nanti baru komentar!" sambutku yang mengerti jika Sam pasti tidak pernah makan ikan yang Ibuku buat hari ini.
Sam tersenyum ke arahku kemudian mulai mencoba merasakan belimbing buah yang di masak oleh Ibu.
"Kok rasanya aneh ya, Bu?" tanya Sam sesaat setelah merasakan sejumput ikan belimbing sayur yang Ibu sodorkan
"Kalau tidak usah jangan di makan, Nak! lebih baik makan ikan yang ini saja." Ibu menyodorkan sepiring ayam bakar yang tadi di bawa oleh Sam.
__ADS_1
"Ibu tumben masak ikan ini?" tanya Sam yang memang belum pernah melihat Ibuku memasak ikan belimbing sayur, biasanya Ibu akan memasak ikan blimbing jika aku libur sekolah karena itulah Sam tak pernah melihatnya.
"Blimbing sayur ini ikan kesukaan Senja, dia sangat suka dengan ikan ini," jawab Ibu yang cukup membuat Sam terkejut karenanya.
"Aku mau mencobanya sekali lagi." Ujar Sam dengan penuh semangat dia kembali mencoba menahan Blimbing sayur yang baru saja Ibu bilang jika itu ikan kesukaanku.
"Kalau tidak suka jangan di paksa, Nak!" ujar Ibu yang mengerti jika Sam tidak menyukai menu yang satu itu.
"Tapi aku ingin makan Bu," sahut Sam yang semakin kekeh ingin makan.
"Jangan di makan Sam! aku tidak mau kamu sakit perut setelah memakannya," Aku yang sangat mengerti dengan kelemahan Sam tak ingin melihatnya sakit setelah memakan ikan blimbing sayur buatan Ibuku, aku melarangnya bukan tanpa alasan, semua aku lakukan karena perut Sam sangat sensitif dengan makanan yang terlalu asam dan pedas.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkaku, tapi aku bukan laki-laki manja yang akan langsung drop setelah memakan makanan ini," seperti biasa Sam akan berlagak sok kuat dan sok jago di hadapanku, padahal aslinya dia memang tak bisa makan makanan sembarangan.
"Terserah padamu, aku tidak akan bertanggung jawab jika nanti terjadi sesuatu padamu," aku mencoba mengancam Sam agar dia tidak memakan ikan blimbing buatan Ibuku.
"Tenang, aku tidak akan apa-apa," Sam tidak akan pernah berubah, dia akan tetap memakan makanan yang seharusnya memang di jauhi.
Sedang Sam hanya tersenyum senang melihat apa yang aku lakukan, karena semua yang aku lakukan juga demi kebaikannya bukan karena aku membencinya.
"Iya, Aku tahu," sahut Sam yang kini terus menghabiskan sepiring nasi dan ikan blimbing sayur yang Ibu masak tadi.
"Apa makannya sudah selesai?" tanya ku saat melihat piring yang ada di hadapan Sam sudah kosong tanpa ada sisa nasi barang sebutirpun.
"Sudah, apa kamu mau berangkat?" jawab Sam.
"Tentu saja, aku harus berangkat. Kalau aku sampai telat bisa marah majikanku," jawabku seraya berdiri melenggang pergi meninggalkan meja makan menuju kamar untuk mengambil tas selempang yang akan aku bawa bekerja.
"Kenapa kamu tidak mau bekerja di rumahku saja Senja?" ujar Sam.
__ADS_1
Sejak lulus sekolah, Sam memang terus menawarkan pekerjaan padaku, terkadang Sam menawarkanku menjadi sekretarisnya hingga menjadi pembantu di rumahnya, tapi aku tetap menolak tawaran Sam yang menurutku kurang menantang, rasanya tidak akan memuaskan jika aku dapat pekerjaan semudah itu tanpa ada usaha, bukannya bekerja dengan baik aku malah akan meremehkan pekerjaan itu.
"Nanti aku fikirkan," jawaban yang selai ku berikan pada Sam yang bisa aku pastikan hanya memutar bola mata jengah mendengar jawabanku yang muasal itu.
"Selalu saja begitu, kalau gak mau bekerja bagaimana kalau jadi menantu Mamaku saja?" aku terdiam sekaligus mematung mendengar pertanyaan Sam yang terlalu gamblang, pasalnya Sam mengatakan semuanya di hadapan Ibuku yang pasti akan tersenyum menanggapi ucapan Sam.
"Jangan ngasal Sam!" sahutku yang kini berjalan ke arah Sam yang masih berdiri tepat di samping Ibuku.
"Bagaimana Bu? apa Ibu mau menerimaku menjadi menantu?" Sam kembali bertanya sambil menaik turunkan alisnya.
"Kalau Senjanya mau Ibu setuju-setuju saja," jawab Ibu sambil tersenyum balik ke arah Sam yang sudah dia anggap seperti puteranya sendiri.
"Yes, dapat restu dari calon mertua," girang Sam sambil melompat dengan menggenggam kedua tangan sambil tersenyum senang, di matanya terpancar jelas binar kebahagiaan yang menyinari wajahnya.
"Emang aku mau," ujarku sambil meraih tangan Ibu kemudian mencium punggung tangannya.
"Ishhh, anak Ibu jahatnya," keluh Sam yang kini terlihat memasang wajah penuh belas kasihan ke arah Ibu yang hanya tersenyum menanggapi ucapan Sam.
"Sudah, jangan bercanda terus! lebih baik kalian berangkat nanti takut telat," ujar Ibu.
"Tuh, dengerin nasehat Ibu!" sahutku yang langsung menjulurkan lidah meledek Sam yang justru tertawa karenanya.
Seperti kemarin, Sam kembali menjemputku seperti kemarin, entah siapa yang memberitahukan dia jika aku bekerja menggantikan Ibu.
"Apa kamu akan terus bekerja di sini?" tanya Sam saat kita sudah berada di jalan.
"Tidak, aku sudah melamar di beberapa perusahaan, aku akan menunggu panggilan, sementara ini aku menggantikan Ibuku karena kakinya masih sakit, setelah Ibuku sembuh pekerjaan ini akan di teruskan oleh beliau," aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan rencanaku ke depan.
"Apa kamu tidak ingin menikah Senja?" Sam kembali ke arah yang bisa di pastikan akan menuntut sebuah jawaban yang belum bisa aku berikan.
__ADS_1
"Aku masih ingin merasakan bagaimana bekerja Sam," jawaban yang aku berikan dan aku harap cukup membuat Sam mengerti agar dia tak menuntut jawaban dariku.
"Aku akan terus menunggumu, Senja, Aku harap penantian ini tak berujung sia-sia," Sam kembali mengungkapkan apa yang dia rasakan dan aku hanya bisa diam tanpa kata sebagai jawabannya.