Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Hari Paling Indah Oma


__ADS_3

'Sebahagia ini Tania bertemu denganku, mengapa rasanya begitu menyenangkan, melihat senyum Tania dan sambutan yang dia berikan membuatku ingin selalu pulang lebih awal seperti saat ini,' batin Arka yang mulai memikirkan banyak hal dalam benaknya.


"Pa!" satu sebutan membuat Arka terperanjat.


"Ada apa Sayang?" sahut Arka, dia kembali fokus menatap Tania dengan senyum yang terlihat semakin melebar.


"Pa, ayo temani Tania renang!" ajak Tania.


"Renang," Arka mengulangi ucapan Tania.


"Iya, ayo renang!" Tania kembali mengajak Arka mencoba meyakinkan sang Papa.


"Sejak kapan Tania suka renang?" tanya Arka, setahu Arka selama ini Tania kurang menyukai renang, meski terkadang Tania berenang untuk menghilangkan rasa jenuhnya di rumah.


"Tania suka berenang sejak kita pergi piknik bareng Mbak Senja," jawab Tania polos.


'Ternyata Senja memang punya pengaruh cukup besar dengan Tania, dan aku memilih orang yang tepat untuk menyiapkan acara ulang tahun Taniq, dia pasti akan tetal bahagia meski Angel tak akan hadir nanti,' batin Arka yang kini berjalan beriringan dengan Tania menuju kolam renang.


Keduanya terlihat menikmati waktu berdua, bermain dan berenang bersama, sesekali tawa terdengar di antara keduanya. Apa yang terjadi juga tak luput dari penglihatan Oma, senyuman manis terlihat muncul di wajahnya, sungguh hari yang paling indah dan sempurna untuk Oma.


Author Pov end ....


"Senja! kamu kenapa, Nak?" sebuah pertanyaan yang menyambut kedatanganmu, Ibu langsung duduk di sampingku saat aku baru saja sampai di rumah, dia terlihat begitu sedih bercampur sendu menatap penuh iba padaku.


"Ibu, sebenarnya apa yang terjadi dulu? ceritakan padaku! kenapa sertifikat rumah kita ada di tangan orang lain?" tanyaku, meski aku tengah kecewa dan beras, tetap saja aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Sertifikat? kenapa kamu tiba-tiba membahas sertifikat rumah, Nak?" bukannya langsung menjawab Ibu malah balik bertanya.


"Ibu, tolong ceritakan saja dulu! kenapa sertifikat itu sampai berada di tangan orang lain? dan kenapa aku tidak pernah tahu akan hal itu?" aku tetap kekeh dengan pertanyaan yang belum Ibu jawab.


"Sayang, dulu, Ibu dan Ayah sedang kesulitan uang, apa kamu ingat waktu Ayahmu sakit dan kamu butuh uang untuk melunasi spp sekolah agar bisa ikut ujian akhir sekolah, dan apa kamu ingat waktu Ibu dan Ayah membayar lulusan sekolahmu dulu? semua yang yang Ibu dan Ayah pakai waktu itu hasil dari sertifikat yang sengaja Ibu gadaikan," jelas Ibu dengan air mata yang mulai berlinang, sungguh saat ini Ibu terlihat begitu sedih dab putus asa, aku kembali melihat raut wajah yang sudah lama tak ku lihat.


"Maaf, Ibu," lirihku sambil mengusap lembut pipi Ibu dan mencoba mengurangi rasa sedih yang aku tahu tengah berada dalam hatinya.


"Harusnya Ibu yang meminta maaf padamu, Nak, Ibu tidak bisa membuatku bahagia dan memenuhi semua kebutuhanmu dengan sepenuhnya, kamu harus teru hidup prihatin, Ibu tak bisa membahagiakanmu, Maaf," suara tangisan Ibu semakin nyaring terdengar di tambah idaman tangis Ibu terdengar begitu pilu, seolah beliau sedang meluapkan. seluruh perasaan sedih yang sejak dulu dia pendam.


"Sudahlah, Ibu! Senja bahagia menjadi puteri Ibu, dan Senja sama sekali tidak merasa kekurangan apapun, kasih Sayang yang Ibu berikan dan curahkan sangat berharga bagiku melebihi segala harta benda yang mungkin di miliki oleh orang lain," ujarku sambil mengusap lembut punggung Ibu dan berusaha menenangkannya.


"Tetap saja, Ibu tidak bisa memberimu kehidupan yang layak seperti halnya orang tua gadis lain yang bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya," terang Ibu.


Aku peluk erat tubuh ringkih Ibu, wajah yang kini di penuhi kerutan dan tubuh yang dulu berisi kini berubah kurus, aku sungguh merasa menjadi manusia paling egois di dunia ini, Ibuku jauh lebih menderita dari pada aku, bukannya memperhatikan Ibu, aku malah sibuk dengan rasa sakit yang tengah menyerang hatiku.


"Sekarang katakan pada Ibu! kenapa kamu menangis?" tanya Ibu yang merasa tak memiliki jawaban atas pertanyaan yang di ungkapkan sejak awal.


"Ibu, apa sertifikat rumah inidi gadaikan ke Sam atau keluarganya?" tanyaku.


"Tidak, Nak, sertifikat rumah ini Ibu gadaikan ke Ibu Nining, apa kamu masih ingat Ibu Nining yang rumahnya ada di ujung gang itu?" jawab Ibu.


"Tentu saja aku mengingatnya Ibu, dia memang terkenal menjadi tukang kredit dan menerima gadai barang-barang yang cukup berharga," jelasku.


Aku tidak menyangka jika Ibuku pernah datang ke tempat yang selama ini aku coba jauhi, tapi selain keterkejutanku itu, ada hal yang lebih besar yang ingin aku tahu.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam, Nak?" Ibu kembali bertanya saat melihatku hanya diam tanpa reaksi lagi.


"Tidak ada apa-apa Ibu, aku hanya sekedar ingin tahu," jawabku.


Saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengatakan segalanya, aku tidak ingin melihat Ibu semakin sedih dan terus tenggelam dalam masa lalu.


"Tidak ada Ibu, aku hanya ingin bertanya saja," jawabku yang tak ingin menambah beban ataupun rasa sedih yang saat ini Ibu rasakan.


"Ibu harap setelah ini kamu mendapatkan kebahagiaan yang dulu belum pernah Ibu berikan, semoga Sam bisa membuatmu bahagia dan menjagamu sam seperti Ibu yang menjagamu dulu," sebuah harapan yang justru menyakiti perasaanku.


"Do'akan saja! semoga apa yang ibu ungkapkan tadi benar-benar terkabul," ujarku dengan senyum yang kini ku paksa terlihat dari wajah penuh rasa kecewa milikku.


"Kalau begitu istirahatlah dulu! kamu pasti lelah setelah bekerja!" titah Ibu.


'Tubuhku sama sekali tidak lelah Ibu, hanya jiwaku yang tengah di kuasai rasa kecewa,' batinku.


Batinku memang tengah mengeluh tapi bibirku terus mengumbar senyum, pura-pura bahagia memang keahlianku sejak dulu, aku masih mampu tersenyum meski hatiku tengah hancur.


"Kalau begitu aku istirahat dulu, Ibu." Pamitku seraya berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Ibu yang masih setia duduk di kursi ruang tamu.


"Mandi dulu, Senja!" titah Ibu.


"Siap Ibu," jawabku.


Guyuran air yang mengalir dari atas kepalaku memberikan rasa tenang dan sedikit meringankan fikiranku yang tengah beradu mempertanyakan dari mana Sam tahu soal sertifikat rumah itu? dan bagaimana ceritanya sertifikat itu bisa berada di tangan Sam seperti saat ini? tapi pertanyaan yang menguasai relung hatiku itu tak pernah aku temukan, hingga aku menyerah dan mulai melelapkan diri dalam mimpi yang ku harap akan indah agar aku bisa kuat melewati hari esok.

__ADS_1


__ADS_2