Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Kebingungan Senja


__ADS_3

Setelah merasa puas menatap keluar tenda Arka kembali menatap kedua manusia yang sedang terlelap dalam tidurnya, mimpi yang mungkin indah tengah menemani keduanya.


Dddrrrrtttt ... dddrrttt ...dddrrrrttt ....


Suara getar ponsel mengejutkan Arka yang masih diam menatap Senja dan Tania.


'Siapa yang menelfon?' batin Arka menatap penuh rasa penasaran ke arah saku celana yang di pakai Senja.


Arka masih saja diam, meski dia penasaran tapi dia tetap tidak bisa mengambil ponsel Senja yang tak berhenti bergetar.


"Angkat gak ya?" lirih Arka.


Arka hanya bisa menahan rasa penasarannya tanpa ada niat untuk membangunkannya, rasanya sangat sayang jika harus membangunkan Senja yang tengah lelap, kasihan juga jika dia tiba-tiba membangunkan Senja.


'Tapi kenapa dia tidak bangun ya?' batin Arka kembali berkomentar saat melihat Senja yang sama sekali tak terusik dengan getaran ponsel yang ada di saku celananya.


Tanpa di sadari Arka, seutas senyum muncul dari bibirnya, Senja benar-benar lucu, baru kali ini dia melihat gadis yang tidur seperti kebo, tak terusik dengan apapun yang ada di sekitarnya, mungkin jika ada banjir, Senja akan hanyut jika banjir itu datang saat Senja tertidur.

__ADS_1


Author Pov End ....


"Tuan Arka kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanyaku.


Aku yang tadinya terlelap kini terbangun tanpa ada sebab, sungguh tidur sebentar yang cukup memuaskan dan menghilangkan rasa kantuk yang sejak tadi menyerangku.


"Ternyata kamu bisa bangun juga," sahut Tuan Arka yang cukup membuatku bingung, aku mengernyit menatap aneh ke arah Tuan Arka.


"Maksud Tuan apa?" aku yang tak mengerti dengan maksud dari ucapan Tuan Arka langsung bertanya.


"Sejak tadi ponselmu bergetar, dan kau masih saja asyik berselancar di dalam dunia mimpi," jelas Tuan Arka.


"Kenapa Tuan tidak membangunkanku?" pertanyaan bernada protes aku layangkan ke arah Tuan Arka agar dia bisa mengerti jika dia telah melakukan kesalahan dengan diam dan hanya memperhatikan.


"Aku bukan pembantu dan kau sama sekali bukan urusan utamaku," Tuan Arka kembali menyahuti ucapanku.


Ucapan Tuan Arka cukup menusuk hati, tapi apa yang di katakannya memang benar dan aku tak bisa melawan ucapannya.

__ADS_1


AKu yang penasaran dengan siapa yang menelfon langsung mengambil ponsel yang masih tersimpan di dalam saku celanaku.


'Sam,' batinku langsung memanggil sang penelfon, walau saat ini aku sedanh berusaha menjauhi Sam, tapi aku tak bisa memungkiri jika hatiku masih miliknya dan fikiranku masih tertuju padanya, laki-laki yang sudah menejaniku begitu laja meski tanoa status, tapi Sam memiliki banyak kenangan manis yang sangat sulit untuk di lupakan.


Aku yang merasa sesak langsung berdiri dan keluar dari tenda, hujan yang tadi turun dengan derasnya kini sudah reda, seolah mengerti jika saat ini aku butuh udara segar dan ruang lapang untuk mengurangi rasa sesak yang sejak tadi hinggap dalam diriku. Menatap rerumputan yang masih basqh karena hujan dan mendengar suara gemericik air sungai memberiku sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, sedikit mengobati rasa sesak juga sakit yang tengah menguasai diriku.


"Jangan terlalu larut dalam masalah! ingatlah! semua yang kau alami saat ini merupakan takdir yang harus kamu jalani," suara Tuan Arka mengejutkan aku yang tengah tenggelam dalam lamunan.


"Tuan, Arka," lirihku menoleh ke arah Tuan Arka yang kini berdiri tepat di hadapanku.


"Sudah, jangan di fikirkan terlalu lama! jika kamu memilih pergi, maka pergi saja! tidk usah ragu ataupun memikirkan hal yang akan semkin menyakitimu," ucap Tuan Arka.


Mendengar ucapan Tuan Arka membuatku terkejut, bagaimana dia bisa berkata seperti itu? apa Tuan Arka tahu apa masalahku? tapi, dari mana dia tahu?


Berbagai macam pertanyaan keluar dari dalam fikiranku, mengingat jika saat ini Tuan Arka berkata seolah mengerti dengan masalah yang sedang aku alami.


"Jangan terus menatapku! kalau kau sampai jatuh cinta padaku, maka akan sulit bagimu nanti," ujar Tuan Arka sambil melirikku sekilas.

__ADS_1


Sejak tadi aku memang sedang menatap lekat ke arah Tuan Arka, tapi aku menatapnya bukan karena kagum ataupun cinta, aku hanya merasa bingung sekaligus penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh Tuan Arka.


"Aku menatap Tuan Arka bukan karena itu, aku menatap Tuan Arka karena merasa bingung, bagaimana Tuan Arka bisa bicara seperti itu? apa Tuan tahu masalah yang sedang aku hadapi?" aku yang tak pernah bisa menahan diri langsung mengungkapkan apa yang mengganjl dalam benakku agar aku segera mendapat jawabannya.


__ADS_2