
"Tania, Mbak gak bisa jelaskan padamu sekarang, suatu saat nanti kamu akan tahu sendiri jawabannya," aku yang memang tak bisa menjelaskan pertanyaan yang sungguh mengusik jiwaku itu memilih ubtuk memberikan jawaban yang mungkin masih bisa di terima oleh pemikiran Tania.
"Ishhh, kenapa tidak di jawab sekarang saja Mbak?" keluh Tania yang merasa kurang puas dengan jawaban yang aku berikan.
"Sudah, jangan bahas sesuatu yang tidak penting, lebih baik sekarang kita keluar dan temui Papamu," aku yang tetap tak bisa meneruskan obrolan yang memang tidak sepantasnya di obrolkan bersama dengan Tania yang masih kecil.
Aku langsung meraih tangan Tania kemudian mengenggamnya, mengajak Tania keluar dati tenda dan mengajaknya mendekati Tuan Arka yang masih sibuk dengan beberapa makanan di atas panggangan.
"Eh, puteri Papa sudah selesai ganti baju," ayo duduk! kita makan bersama." Ujar Tuan Arka seraya mengangkat semua makanan yang ada di atas panggangan.
"Tuan, tunggu!" cegahku saat melihat Tuan Arka hendak pergi menyusul Tania yang sudah duduk di alas tempat duduk yang di letakkan tepat di depan tenda.
"Iya, ada apa?" sahut Tuan Arka seraya menoleh ke arahku yang berdiri tepat di belakangnya.
"Emm," aku mempersiapkan diri dan meyakinkan diri jika apa yang aku tanyakan adalah hal yang wajar.
"Jika tidak ada pertanyaan, bisakah kita menyusul putriku? dia sudah menunggu sejak tadi," ucapan Tuan Arka cukup membuatku mengerti jika aku sedang membuang-buang waktunya.
"Siapa yang menyiapkan baju ganti untukku?" akhirnya aku mengucapkan pertanyaan yang sejak tadi mengusik ketenangan jiwaku.
__ADS_1
"Ibumu," satu kata yang terucap dari bibir Tuan Arka cukup membuatku mengerti jika Ibu yang menyiapkan semuanya, pantas saja, semua pas di tubuhku, Ibu memang wanita paling the best yang pernah aku temukan di dunia ini.
Tuan Arka langsung melangkah meninggalkan aku mendekat ke arah Tania yang sejak radi memegang garpu dan sendok di tangannya, Tania terlihat begitu bersemangat dan membuat siapapun yang ada di dekatnya tersenyum lucu karena tingkahnya.
"Issh, malunya aku, ternyata yang menyiapkan semuanya Ibu, aku fikir Tuan Arka sendiri, tapi menang aku yang bodoh, kenalan harus sibuk menyiapkan baju ganti jika di rumah ada banyak pembantu yang bisa membantunya," gumamku menyadari jika dugaanku salah.
"Mbak Senja! ayo gabung! kita makan bersama." Ujar Tania sambil melambaikan tangan memintaku bergabung makan bersama di atas meja, rasanya sangat aneh, biasanya Tuan Arka akan bersikap jauh berbeda, biasanya Arka memiliki tatapan dingin dan pendiam juga tukang memberi perintah, dia mudah marah, apa lagi kalau ada masalah, sedikit apapun masalah yang di ciptakan oleh bawahannya, Arka selalu bersikap tegas yang terkesan pemarah.
"Manis," selorohku yang tanpa sadar memuji Tuan Arka yang tengah menyuapi Tania .
"Jangan terus memandangku! karena aku tidak akan bisa membalas rasa kagummu itu," ucapan Tuan Arka menghapus semua pemikiran yang baru saja terlintas dalam benakku, kini aku merasa mual dan jengah setelah mendengar kata-kata narsis yang keluar dari mulutnya, meskipun aku akui sempat memiliki rasa kagum padanya karena perhatian yang dia berikan pada Tania, tetap saja aku merasa jengah mendengar kenarsisan yang baru saja dia tunjukkan.
"Mbak Senja suka sama Papa?" pertanyaan konyol yang keluar dari bibir mungil Tania membuatku sedikit geram, bagaimana mungkin Tania bisa bertanya seperti itu di usianya yang masih kecil.
"Baguslah, jangan menyukai Papaku!" Tania memberi peringatan.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Tuan Arka dengan dahi yang mengkerut dia terlihat bingung mendengar larangan yang di cetuskan oleh puterinya itu.
"Tidak boleh, kasihan Mbak Senja kalau suka sana Papa, karena Ppa sudah punya Mama," jawaban yang cukup membuatku kembali terkejut, Tania mempelajari banyak hal tanpa aku tahu dan mungkin tanpa di sadari oleh Tuan Arka.
__ADS_1
"Tania masih kecil, dan anak kecil di larang ikut campur urusan orang Dewasa," kali ini Tuan Arka yang memberi peringatan.
Seketika mulut Tania tertutup rapat, tak ada lagi suara yang terdengar, Tania tak lagi berbicara, dua hanya fokus memakan makanan yang sudah di siapkan oleh sang Papa.
Suasana hangat yang sempat terasa kini berubah menjadi dingin dan penuh kebisuan, tak ada yang mengeluarkan kata atau bahkan mengeluarkan suara hingga semua makanan yang tadi di masak oleh Tuan Arka tandas tak tersisa, makan setelah berendam di sungai membuat perut kami lapar, di tambah suasana yang mendung semakin membuat perut keroncongan.
"Terima kasih Papa," seru Tania seraya berjalan mendekat kemudian duduk di pangkuan Tuan Arka.
"Sama-sama, Sayang," sahut Tuan Arka sambil tersenyum.
"Mbak Senja juga," sambung Tania yang kini menoleh ke arahku.
"Mbak hanya melaksanakan tugas, Tania," jawabku seadanya, aku memang melaksanakan tugas yang di berikan oleh Tuan Arka.
"Aku tetap senang dan aku tidak perduli Mbak Senja hanya melakukan tugas atau apapun itu, saat ini aku merasa sangat senang, andai saja Mama juga ada di sini," sebuah harapan yang pasti menimbulkan air mata dan rasa sedih.
"Hujan," celetuk Tuan Arka, tanpa aku dan Tania sadari, rintik hujan mulai turun membasahi bumi.
"Bagaimana kalau kita kembali saja Tuan?" usulku saat Tuan Arka masuk ke dalam tenda. Bukannya berlari keluar dari area kebun raya, Tuan Arka malah masuk ke dalam tenda.
__ADS_1
"Kalau kamu mau pergi ke depan, pergilah sendiri! aku tidak ingin Tania basah kuyup sampai di sana, karena hujan ini akan semakin deras," jawaban yang cukup membuat hati debat cenut penuh amarah, tapi apa yang di katakan Tuan Arka memang benar, aku pasti akan basah kuyup jika memaksakan diri.
Aku tak lagi bisa memaksa, aku hanya bisa mengikuti langkah Tuan Arka dan terpaksa ikut masuk ke dalam tenda. rasanya sangat canggung berada di tenda yang sana bersama Tuan Arka cukup membuatku bingung sekaligus tak enak hati, Mau bagaimanapun juga, Tuan Arka tetap majikan sekaligus Tuan yang harus aku patuhi setiap perintah yang terucap dari .