Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Pesta


__ADS_3

Sam berjalan mendekat ke arah teman relasi kerjanya. Sedang aku duduk diam di kursi pertama kali aku masuk ke dalam ruangan ini.


"Mbak senja!!!" Suara teriakan gadis kecil yang cukup familiar di telingaku terdengar mengejutkan diriku yang tengah terdiam menatap Sam yang sedang asik berbincang dengan relasi teman kerjanya.


"Tania," lirih ku menatap Tania yang berlari ke arahku.


"Mbak Senja juga ada di sini?" tanya Tania yang langsung duduk di hadapanku.


"Iya, Nona Tania kenapa bisa ada di sini?" aku yang merasa aneh dengan kehadiran Tania yang tiba-tiba.


"Ini ulang tahun pernikahan Papa dan Mama, apa mereka juga mengundang Mbak Senja?" Tania menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan juga.


'Apa? ulang tahun kedua orang tua Tania, astaga, kenapa Sam bisa kenal dengan mereka?' batinku mulai bertanya.


"Mbak Senja di ajak teman Mbak ke sini," jawabku jujur.


"Aku tidak peduli Mbak senja ke sini dengan siapa? intinya aku senang Mbak Senja datang dan ada di sini, aku punya teman untuk menghabiskan waktu yang membosankan ini," sahut Tania yang kini terlihat begitu bahagia yangyang terlihat di wajahnya.


"Ayo ikut aku!" Tania menarik tanganku beranjak dari kursi.


"Kita mau ke mana Nona Tania?" tanyaku yang merasa bingung dengan apa yang di lakukan oleh Tania, aku tidak bisa pergi begitu saja karena Sam pasti akan mencariku jika aku pergi.


"Kita mau cari makan, ayo cari makanan enak!" jawab Tania enteng tanpa beban.


"Tapi Mbak harus pamitan dengan teman Mbak," aku mencoba menghentikan langkah Tania yang pasti akan memaksaku untuk ikut bersamanya.


"Ayolah Mbak! hanya sebentar," Tania tetap memaksa.


"Baiklah, Mbak akan menemaniku mengambil makanan sebentar, setelah itu kita harus kembali ke sini." Aku yang tak pernah bisa menolak permintaan Tania hanya bisa menerimanya meski saat ini hatiku tengah merasa bingung, Bagaimana jika Sam mencariku nanti?

__ADS_1


"Mbak ini untukmu." Tania memberikan beberapa makanan yang tadi dia ambil untukku, san apa yang di lakukan Tania cukup membuatku bingung dan merasa tak enak hati, pasalnya saat ini aku menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di sekitarku.


"Nona, aku akan mengambil sendiri jika nanti ingin makan, tidak perlu di ambilkan, kalau Nona ingin biar aku saja yang mengambilkan makanan untukmu." Aku mencoba menolak makanan yang di ambilkan Tania dan menawarkan diri untuk mengambilkan makanan untuknya, bagaimanapun Tania adalah putri tunggal dan kesayangan Tuan Arka, yang aku tahu jika dia memiliki jabatan tertinggi di kantor dan majikan Ibuku di rumahnya.


"Sudalah, jangan penculikan siapapun! lebih baik sekarang kita kembali ke kursi yang tadi sebelum teman Mbak Senja datang dan mencarimu," ujar Tania yang terlihat cuek dengan apa yang aku keluh.


Sekali lagi aku tidak bisa menolak ajakan Tania yang selalu bisa membuatku mati gaya dan terpaksa mengikuti semua yang dia katakan, dan aku bingung melakukannya kenapa? entah karena rasa kasihan atau karena aku memang tak pernah tega dengan anak kecil seperti Tania.


"Hey gadis kecil! kamu dari mana?" Sam langsung bertanya pada Tania yang baru saja datang bersamaku.


"Aku baru aja ambil makanan. Apa kamu temannya Mbak Senja?" tanya Tania.


"Teman?" Sam mengulangi status yang di sebutkan oleh Tania.


"Iya, tentu saja, kalau bukan teman aku harus memanggilmu apa?" ujar Tania, untung saja dia tidak mengatakan jika aku yang mengatakan padanya jika yang bersamaku saat ini adalah temanku bukan kekasihku, jika Tania sampai mengatakannya, Sam bisa marah.


"Iya, duduklah!" sahut Sam yang enggan menanggapi gadis kecil di hadapannya itu.


"Kok kamu panggil Sayang? apa teman memang begitu? harus manggil Sayang?" sela Tania yang memang memiliki IQ tinggi dan bermulut ceriwis.


"Kamu dapat dari mana gadis kecil ceriwis seperti ini?" Sam mengalihkan topik pembicaraan, kali ini dia bertanya tentang Tania yang ada di hadapannya itu.


"Dia puteri dari Tuan Arka dan Nyonya Angel, majikan Ibu dan kebetulan ini adalah pesta pernikahan mereka," jawabku jujur.


"Apa? kenapa bisa kebetulan seperti ini?" sahut Sam yang terkejut dengan penjelasanku.


"Kenapa? apa kamu malu datang bersamaku saat ini?" tanyaku yabg merasa jika Sam pasti akan malu datang bersama puteri seorang pembantu sepertiku.


"Tidak, kata siapa aku malu? aku tidak pernah malu saat berada di sampingmu, Sayang," tutur Sam.

__ADS_1


"Sebenarnya hubungan kalian apa? tan atau pacar?" Tania kembali menyela pembicaraan yang terjadi antara aku dan Sam.


"Hus, kecil-kecil kok bahas pacar, gak boleh! pamali," aku yang tak ingin melihat Tania bertanya terus tentang pacar ataupun pernikahan membuat diriku terpaksa untuk menghentikannya sebelum terlambat.


Tania terlihat diam, sepertinya dia sedang berfikir tentang hubunganku dan Sam, tiba-tiba wajah ceria yang tadi aku lihat kini perlahan berubah menjadi wajah marah dan kecewa, Tania berdiri melenggang pergi meninggalkan aku dan Sam yang masih duduk anteng di kursi.


"Loh, kamu mau ke mana Nona?" tanyaku mencoba mencegah kepergian Tania yang tiba-tiba.


"Mungkin dia kaget, jangan terlalu khawatir! bukankah ini pesta orang tua Tania? seharusnya dia tidak tersesat ataupun pergi jauh dari sini," ujar Sam mencoba menenangkan diriku yang terlihat gelisah.


Aku hanya bisa diam tanpa bisa melawan ucapannya.


"Ayo beri selamat pada pemilik acara!" Sam kembali mengajakku untuk pergi.


"Kamu saja yang memberi selamat, bukankah dia relasi kerjaku," aku mencoba menolak halus ajakan Sam.


"Sayang, kamu datang sebagai kekasihku, tak peduli daei mana awakmu dan bagaimana status sosial yang kamu miliki, aku akan tetap memperkenalkanmu sebagai kekasihku," ujar Sam mencoba membuat kepercayaan diriku yang tadinya menghilang entah ke mana.


Mendengar ucapan Sam yang cukup meyakinkan membuatku sedikit berani, untuk tampil di depan banyak orang menurutku tidak sekelas denganku.


Aku melangkah dengan pasti tepat di samping Sam yang terlihat begitu bangga dan bahagia menggandeng diriku, sungguh dia pria yang paling baik yang pernah aku temui.


"Malam Pak Arka, Selamat atas ulang tahun pernikahannya," ujar Sam seraya mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Arka.


"Terima kasih Pak Sam," jawab Arka.


"Tidak menyangka jika kalian akan seawet ini, aku berharap pernikahan tuan Arka bisa langgeng sampai maut memisahkan kalian," Sam kembali memberi ucapan selamat dan sedikit doa untuk orang yang sedang berulang tahun.


"Terima kasih," jawab Aria yang kini menatap penuh heran ke arahku.

__ADS_1


"Dia siapa?" tanya Arka.


"Dia calon istriku," jawab Sam singkat padat jelas.


__ADS_2