
Akhirnya, aku makan dalam diam, menghabiskan hampir semua makanan yang Tuan Arka berikan, aku tak lagi memikirkan gengsi ataupun jaim, yang aku tahu saat ini perutku harus kenyang dan aku tidak boleh kelaparan.
"Terima kasih, Mbak Senja, cup." Satu kecupan sayang mendarat indah di pipiku, Tania terlihat begitu bahagia dengan piknik yang baru saja kami lewati.
"Sama-sama, Tania," jawabku yang kini juga ikut tersenyum lebar ke arah Tania, mungkin ini rasanya memiliki seorang anak dan kita bisa mendapatkan kasih sayang yang bisaa membuat diri kita merasa berarti.
"Sayang, Mama tidak bisa ikut piknik bersama, seandainya saja dia ikut, pasti pikniknya aan jauh lebih sempurna," celetuk Tania dengan tatapan mata penuh harap dia berucap.
Bukannya menyahuti ucapan Tania, Tuan Arka malah terlihat kurang senang dan jengah mendengar ucapan Tania yang Lagi-lagi membuatku bingung.
"Papa, kapan kita bisa piknik dengan Mama?" satu pertanyaan polos terlontar dari bibir Tania.
Tuan Arka tetap diam terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Tania.
"Papa, jawab! jangan hanya diam!" Tania yang merasa di abaikan kembali bertanya.
"Diamlah Tania! Papa masih fokus menyetir," jawab Tuan Arka tanpa menoleh ke arah Tania.
'Bukankah Tania Puteri kesayangannya? Kenapa Tuan Arka justru terlihat begitu cuek?' batinku mulai di penuhi tanya yang selalu menuntut untuk di beri jawaban.
__ADS_1
Suasana mobil terasa begitu sunyi dan hening, tak ada lagi suara ataupun percakapan yang terdengar, semua diam hingga mobil yang ki kendarai sampai di depan rumahku.
"Terima kasih, Tuan," ucapku sebelum turun dari mobil.
"Hm," jawaban singkat yang sudah sering aku dengar.
"Hati-hati Tania, jangan nakal!" ujarku sambil mengusap lembut kepala Tania yang kini mengangguk sambil tersenyum.
Aku kembali berjalan masuk ke dalam rumah setelah mobil Tuan Arka pergi.
"Sam," lirihku.
Langkah kakiku terhenti saat aku melihat Sam tang kini duduk tepat di teras rumahku, dengan wajah penuh kecurigaan dan kilat amarah dia menatapku.
"Dari mana kamu? kenapa telfon ku tidak pernah kamu angkat?" pertanyaan yang menurutku wajar terucap dari bibir seorang kekasih yang sedang mm arah karena sikapku akhir-akhir ini memang kurang baik padanya.
"Aku baru saja menemani Tania piknik, sebagai ganti aku tidak masuk kerja, Tania memintaku menemani nya menghabiskan waktu liburnya," jelasku.
"Kenapa telfon ku tidak kau angkat? apa majikanmu itu lebih penting dariku sekarang?" Sam yang merasa jika pertanyaan nya belum aku jawab semua kini kembali bertanya.
__ADS_1
"Maaf Sam, aku tidak bisa mengangkat telfon ku saat aku masih bekerja," aku kembali mencoba mencari alasan yang menurutku paling tepat.
"Hanya menemani piknik bukan berarti kamu tak ada waktu untuk mengangkat telfon, atau mungkin kamu memang sengaja menghindar dariku?" tanya Sam yang kini sudah berdiri dan mendekat ke arahku, di wajahnya terlihat jelas jika saat ini Sam sangat marah dengan apa yang sudah aku lakukan.
"Katakan Senja!" hardik Sam yang terlihat benar-benar marah padaku.
Mendengar bentakan Sam membuat jantungku berdetak jauh lebih kencang seperti kuda yang hendak berlomba.
"Sam, hubungan kita ini salah, aku bukanlah orang yang tepat untukmu, maaf jika aku menyakitimu, tapi busakah kita mengakhiri semua ini, aku tidak ingin semakin terluka karenanya," akhirnya aku mengutarakan apa yang ingin aku katakan sejak kemarin, saat keluarganya mengungkapkan segala rasa tidak suka mereka padaku yang memang tak sekelas dengan mereka.
"Apa maksudmu Senja? jangan pernah main-main denganku!" sahut Sam yang kini terlihat semakin marah.
"Sam, aku punya alasan kenapa mengatakan ini semua padamu, bukan hanya kamu yang terluka, aku juga merasakan sakit yang saat ini kau rasakan, tapi aku dan kamu memang tidak akan pernah bisa bersatu, aku mohon oadamu untuk mengerti dan lebih baik kita berpisah Dan, sebelum semuanya terlambat dan sebelum perasaanku juga perasaanmu semakin dalam,?" tuturku.
"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskanmu Senja, jangan mencari-cari alasan! apa kamu sudah memiliki yang lain? atau kamu mulai menyukai Ayah dari Tania?" tanya Sam.
"Ssm!, jangan pernah mengatakan hal yang tak pernah terjadi! dia majikanku dan dia juga punya istri, aku tidak mungkin merebut istri orang," ujarku yang kini mulai emosi, bukannya mengerti Sam malah menurutku seenaknya sendiri, padahal semua yang aku lakukan karena sikap keluarganya, tapi malah aku yang di tuduh melakukan hal yang tidak mungkin aku lakukan.
"Jika bukan seperti itu, katakan apa penyebabnya Senja?" Sam terus saja mendesak agar menceritakan segalanya.
__ADS_1
"Sudahlah, lebih baik kamu pulang, aku lelah dan ingin beristirahat," aku yang merasa jika perdebatanku tidak akan pernah ada habisnya memilih untuk mengakhiri pertengkaran ku sebelum Ibu datang dan mendengar semuanya, meski dia sudah tahu alasanku menjauhi Sam, tetap saja aku tidak bisa membiarkan Ibu melihat pertengkaran ku dengan Sam.
"Kamu belum menjelaskan alasanmu Senja, jelaskan dulu alasanmu mengakhiri hubungan kita!" Sam yang merasa belum puas kembali memaksaku untuk mengatakan hal yang tidak mungkin aku katakan, karena Sam tidak akan percaya jika aku mengatakannya tanpa bukti.