Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Sedingin Salju


__ADS_3

Aku langsung terdiam seribu bahasa setelah mendengar ucapan Sam. Jangankan memandang, menolehpun aku tidak berani, rasanya sangat canggung dan takut, aku tidak ingin Sam tiba-tiba menghentikan mobil yang sedang aku tumpangi ini kemudian langsung menciumku tanpa aba-aba.


"Sam," lirih ku saat melihat di rumah Sam yang biasanya sepi kini terlihat ramai.


"Iya, Sayang," sahut Sam dengan senyum manis yang sejak tadi tak pernah luntur.


"Ada acara apa di rumahmu? kok tumben ramai," aku tak mau hanya diam dan memendam rasa penasaran yang kini sedang menguasai fikiran dan diriku ini terus mengganggu, aku langsung kebanyakan apa yang ingin aku tanyakan pada Sam.


"Hari ini adalah hari peringatan kematian Papa, dan hampir semua keluargaku datang untuk membantu acara houl yang akan di selenggarakan nanti malam," Sam menjelaskan apa yang aku tanyakan.


"Kenapa kamu tidak bilang sejak awal Sam?" tanyaku yang berasal jika seharusnya Sam mengatakan semuanya dari awal.


"Maaf, aku lupa," Sam menjawab pertanyaan ku dengan sangat entengnya.


"Aku tidak bisa masuk dengan tangan kosong Sam, ayo pergi!" aku yang merasa jika saat ini aku harus membawa sesuatu untuk Sam dan keluarganya.


"Pergi ke mana?" tanya Sam dengan ekspresi wajah bingung yang tergambar jelas di wajahnya.


"Kita harus membeli sesuatu untuk oleh-oleh keluargamu, jika aku ke sana tanpa membawakan apapun, apa yang akan keluargamu fikirkan tentangku nanti?" aku menjelaskan alasan diriku ingin pergi dan membeli sesuatu untuk keluarganya.


"Oh, kamu tidak usah bingung! tunggu di sini!" ucap Sam yang kini mengerti dengan apa yang aku inginkan dan aku maksudkan.


Sam membuka jok motornya dan mengeluarkan satu kantong plastik hitam berukuran sedang yang terlihat begitu berat, dan aku yakin di dalamnya pasti sesuatu yang sangat berat.


"Apa itu, Sam?" tanyaku sambil melihat ke arah bungkusan di dalam kantong hitam yang kini sudah berpindah ke tangan Sam.


"Bawa ini dan berikan pada Behekku nanti!" titah Sam yang langsung ku balas dengan anggukan serta tangan yang langsung menyahut bungkusannya.


"Terima kasih pengertiannya, Sayang," ucapku sambil menggandeng tangan Sam yang memberi isyarat untuk di gandeng.


Aku dan Sam berjalan masuk beriringan dengan senyum yang kian melebar.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucapku sesaat setelah sampai di pintu ruang tamu.


"Tidak usah ucapkan salam! mereka tidak akan dengar, lebih baik kita langsung masuk saja." Sahut Sam yang langsung membawaku masuk ke dalam rumah, meski aku merasa kurang enak hati, tapi aku tetap diam mengikuti langkah Sam.


"Oma!!" suara Sam terdengar begitu jelas memanggil Neneknya.


"Samuel!!!" sahut Nenek Sam tak kalah keras dari suara Sam, keduanya saling berpelukan melepas rindu yang terpancar jelas di wajah keduanya.


"Dasar anak nakal," Nenek Sam tiba- tiba memukul pelanggan kepala Sam yang justru tersenyum mendapatkan pukulan dari sang Nenek.


"Ishhh, aku baru saja pulang, bukannya di sambut dengan senyuman dan pelukan hangat, Oma malah memukulku," keluh Sam yang kini malah memasang wajah sedih untuk meminta simPATI dari sang Nenek


"Harusnya kamu pulang dulu! tapi malah telat dan bikin Oma khawatir sejak tadi," cerocos Oma yang cukup membuatku sedikit merasa tak enak hati karenanya.


"Ishhh, Aku sedang menjemput calon cucu mantu Oma, karena itu aku sedikit telat," jelas Sam yang justru semakin membuatku tak enak hati.


"Astaga! Oma sampai tak memperhatikan apapun saat bertemu denganmu, sekarang di mana cucu mantu Oma?" pertanyaan Oma membuatku langsung maju kemudian mencium punggung tangan Oma Sam yang tersenyum ramah ke arahku.


"Maaf untuk apa, Nak?" sahut Oma yang kini tengah memperhatikan diriku.


"Maaf, gara-gara menjemputku, Sam jadi terlambat pulang," Aku menjelaskan alasan diriku meminta maaf pada Oma Sam.


"Tidak apa-apa, kamu tenang saja," jawab Oma yang terlihat menerima kehadiranku dengan tangan terbuka dan keramahan yang cukup membuatku senang karenanya.


"Oma, ini ada sedikit oleh-oleh untuk Oma dan yang lain." Aku memberikan kantong plastik hitam yang tadidi berikan oleh Sam.


"Apa ini, Nak?" Oma meraih kantong plastik yang aku sodorkan. Tapi aku hanya bisa tersenyum tanpa bisa. menjawab isi dari kantong plastik yang aku berikan, semua itu karena aku memang tak tahu apa isinya.


"Ya ampun, ini makanan kesukaan Oma, kamu tahu aja apa yang Oma suka," seru Oma dengan senyum bahagia yang terpancar jelas di wajahnya.


"Iya, Oma," ujarku kikuk, aku sungguh menyesal kenapa tadi tidak melihat apa isinya dulu sebelum memberikan pada Oma yang terlihat begitu senang dengan apa yang aku berikan.

__ADS_1


"Oma, Mama di mana?" tanya Sam yangs enak tadi memang terlihat celingukan mencari sesuatu yang ternyata Mamanya.


"Dia ada di dapur sedang memeriksa para pekerja agar tidak ada yang kurang," jawab Oma.


"Kalau begitu aku pergi dulu Oma. Aku mau nemuin Mama." Pamit Sam, dia berjalan masuk ke dalam rumah sambil menggenggam tanganku. Dan aku hanya tersenyum ke arah Oma sebagai tanda perpisahan karena aku harus mengikuti langkah Sam yang memang menjadi pemilik rumah ini.


"Sam, kenapa ada banyak sekali orang yang memakai seragam?" aku kembali bertanya saat melihat ada banyak orang yang sedang memakai seragam sedang berlalu lalang melakukan sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya.


"Mama memang selalu melakukan segala hal dengan sangat sempurna, dia tidak suka jika ada yang merusak acara yang sedang dia buat, Mama itu orangnya perfeksionis," Sam kembali menjelaskan bagaimana Mamanya yang sebenarnya, Aku sedikit merinding mendengar penjelasan Sam, jika Mamanya seseorang yang memiliki sifat perfeksionis bagaimana dengan aku yang tidak sempurna ini, bahkan aku memiliki banyak kekurangan yang mungkin tidak akan pernah bisa menjadi sempurna dan bahkan mungkin tidak bisa di terima oleh orang perfeksionis seperti Mama Sam.


"Mama!" panggil Sam yang kini langsung mendekat ke arahnya dengan wajah penuh keceriaan yang kini terpancar di wajah Sam.


"Kamu sudah pulang?" jawab Mama Sam yang langsung memeluk Sam dengan penuh cinta.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? apa semuanya baik-baik saja? apa ada masalah?" tanya Mama Sam.


"Semua baik-baik saja, Mama, dan aku pulang dengan selamat juga sehat," jawab Sam.


"Syukurlah," sahut Mama Sam.


"Ma, aku mengajak Senja agar dia bisa mengenal dan akrab dengan keluarga kita," ujar Sam.


Reaksi Mama Sam sangat jauh berbeda dengan reaksi Oma Sam saat bertemu denganku, Mama Sam hanya melirikku sekilas kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah Sam.


"Ajak dia berkumpul dengan yang lain!" titah Mama Sam.


Apa yang di tunjukkan oleh Mama Sam cukup membuatku minder dan takut.


"Tante," sapaku yang langsung berinisiatif meraih tangan Mama Sam kemudian mencium punggung tangannya, Mama Sam memang membiarkanku mencium punggung tangannya,tapi dia tak berkata apa-apa.


"Hm," sahut Mama Sam dengan nada dingin sedingin salju.

__ADS_1


__ADS_2