
"Iya, Mbak," jawabku dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Keren juga pacar kamu," ujar Mbak Sifa yang terlihat terpesona dengan gaya dan style yang di gunakan oleh Sam.
Dia memang tampan dan keren, entah mengapa laki-laki sekeren dan setampan dia mau menjadi kekasihku, meski dia tahu jika aku hanya orang miskin yang tidak terlalu cantik.
"Kalau gitu aku pamit pulang dulu ya Mbak." Pamitku seraya berjalan menjauh dan mendekat ke arah Sam yang kini sedang melambaikan tangan memberi isyarat agar aku mendekat ke arahnya.
"Beruntung sekali Senja, punya pacar sekeren itu," lirih Mbak Sifa.
Aku berjalan dengan langkah cepat tanpa menoleh ke arah kiri dan kanan, karena itu hampir saja aku tertabrak sebuah mobil mewah yang entah siapa pemiliknya.
Tiiiiiinnn ...
Suara klakson mobil mengejutkanku yang reflek langsung berhenti sambil menutup telinga.
Sedang Sam yang melihatku hampir tertabrak langsung berlari memeluk aku yang kini sedang ketakuta.
"Maaf," suara Sam terdengar di teling, tapi mataku yang tertutup rapat tak bisa melihat apapun, kecuali aroma tubuh Sam yang kini menyeruak ke dalam hidung.
Perlahan Sam menuntunku agar menjauh dari mobil yang hampir menabrakku.
"Tenanglah! aku di sini," suara Sam terdengar sangat lembut dan penuh kasih sayang di tambah aroma tubuhnya yang maskulin menambah ketenangan dalam hati, sungguh saat ini aku merasa nyaman berada di sisinya.
"Aku takut Sam," lirihku yang aku yakini masih bisa di dengar oleh Sam.
"Tenanglah! Aku akan melindungimu, sekarang kamu aman bersamaku," sahut Sam yang cukup membuat jiwaku merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Mendengar suara lembut Sam menyadarkanku yang masih di selimuti rasa takut, sungguh aku merasa jika aku beruntung bisa selamat dan tidak tertabrak, jika saja Sam terlambat satu detik maka saat ini aku tidak akan berdiri tegak di hadapannya.
"Terima kasih Sam," lirihku seraya melepas perlahan kedua tanganku yang memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Sam hanya tersenyum seraya mengusap lembut kepalaku, sungguh sikap manisnya ini yang membuatku susah untuk menolak kehadirannya, Sam memang selalu bisa membuat diriku di mabuk kepayang.
"Apa kamu sudah merasa lebih tenang sekarang?" tanya Sam sambil menatapku penuh cinta.
Sam, kamu memang pria idaman setiap gadis dan aku beruntung telah memiliki dirimu sebagai kekasihku.
"Iya, Aku merasa jauh lebih baik sekarang, dan kita bisa pulang," jawabku.
"Apa kamu tidak apa-apa Senja?" Mbak Sifa yang entah sejak kapan ada di sampingku menyapa.
"Tidak apa-apa Mbak," jawabku.
"Syukurlah, lain kali kamu harus lebih berhati-hati!" pesan Mbak Sifa dengan senyum ramah yang terlihat semakin memancarkan kecantikan dari dalam dirinya.
"Ayo pulang!" ajakku sambil menarik lengan Sam yang terlihat diam mematung di tempatnya, entah apa yang di lakukan Sam hingga dia diam seperti itu.
"Eh, ayo!" sahut Sam yang terlihat gugup,entah apa yang sebenarnya terjadi pada diri Sam, dia terdiam setelah melihat kedatangan Mbak Sifa.
"Apa kamu mengenal Mbak Sifa?" melihat sikap Sam yang sedikit mencurigakan membuatku terpaksa bertanya, Sam dan Sifa, keduanya terlihat saling terkejut saat bertemu, karena itulah aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Awas," bukannya menjawab Sam langsung memakaikan helm ke kepalaku, dia tak menjawab pertanyaan yang ku ungkapkan malah mengalihkan perhatianku, melihat hal itu membuatku enggan untuk kembali bertanya, mungkin saja keduanya memang tak saling kenal, tadi hanya fikiranku yang terlalu berlebihan.
Sam tak lagi berbicara, dia seolah diam tanpa bahasa hingga kami hampir sampai di rumah.
"Sam, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyaku.
Cukup sudah, aku tak bisa diam dan melihat Sam diam tanpa ku tahu penyebabnya.
"Aku hanya syok mengingat apa yang baru saja terjadi, untung saja kamu selamat, jika tidak aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi hal yang buruk padamu," kali Sam menjawab sambil menghentikan laju motornya, saat ini kita sudah berada di depan rumah, melihat motor yang di setir Sam berhenti aku langsung turun.
"Sudahlah, jangan di fikirkan lagi! bukankah aku baik-baik saja saat ini, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan diriku," ucapku yang tak ingin Sam terus memikirkan hal yang tidak terjadi.
__ADS_1
"Lain kali kamu harus berhati-hati! jangan asal nyebrang! lihat dulu apa ada motor atau mobil di sampingmu," Sam mulai memberikan nasehat untukku.
"Iya, lain kali aku akan jauh lebih berhati-hati lagi," sahutku.
"Masuklah dulu! biar aku buatkan minum." tawarku.
Sam tak menjawab tawaran ku, dia langsung turun dari atas sepeda motor kemudian berjalan sambil merangkul pundakku.
"Jangan seperti ini!" protes ku sambil menyingkirkan tangan Sam dari pundakku.
"Kenapa?" tanya Sam dengan dahi yang mengkerut tanda jika dia bingung dengan apa yang aku lakukan.
"Gak enak di lihat tetangga," jawabku singkat, sedang Sam hanya diam setelah tersenyum mendengar alasan yang aku ungkapan.
Kami berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, sedang Sam duduk di teras. Dia tidak ikut masuk ke dalam rumah karena merasa jika keadaan di luar lebih sejuk.
"Assalamualaikum, Bu," sapaku sesaat setelah masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam," sahut Ibu yang baru keluar dari dalam rumah.
"Ibu pulang jam berapa?" tanyaku saat melihat Ibu sudah rapi dan terlihat sudah selesai mandi.
"Ibu baru selesai mandi, Tania tanya kamu terus, Ibu sampai pusing jawabnya," tutur Ibu.
"Tania itu kurang kasih sayang dan perhatian Bu, aku kasihan melihatnya, percuma jadi anak orang kaya kalau ujung-ujungnya kesepian seperti itu," tuturku yang mengerti dengan keadaan Tania saat ini.
"Kamu benar, Nak, terkadang Ibu merasa sedih melihatnya," ujar Ibu yang setuju dengan ucapanku.
"Astaga, Aku lupa kalau ada Sam di luar, aku buat minum dulu ya Bu." Pamitku saat aku ingat jika Sam sedang menunggu minuman yang aku janjikan.
"Kenapa tidak bilang sejak tadi kalau ada Sam di luar," sahut Ibu yang ku lihat langsung mengambil camilan yang ada di meja, setiap Ibu pulang dia sering sekali membawa sisa makanan ataupun camilan dari rumah majikannya, kadang Ibu juga membawa camilan dari Tania yang di titipkan Ibu untukku, sungguh gadis kecil itu bisa membuatku sangat terharu dengan sikapnya yang polos tapi penuh perhatian dan kecerdasan.
__ADS_1
Aku melanjutkan membuat teh dengan gula yang sedikit, selama aku mengenal Sam dia bukan laki-laki perokok, dia tidak suka minum kopi tapi dia suka minum teh, dan aku menyukai laki-laki yang tidak suka merokok.