Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Kata Maaf dari Ibu


__ADS_3

"Bukankah sudah kewajibanmu untuk membantu orang tua dari calon istriku, jadi kamu tidak perlu berterima kasih! cukup tetap di sisiku dan jangan pergi! mudah bukan," ujar Sam dengan senyum yang merekah di bibirnya.


"Kamu tenang saja Sam, Aku akan mencucinya. Setiap bulan aku akan memberikan setengah dari gaji yang aku dapatkan padamu." Aku menyanggupi apa yang menurutku memang perlu, lebih baik aku punya hutang uang dari pada hutang budi.


"Kamu bicara apa, Sayang? bukankah kamu calon istriku, apa yang menjadi milikku juga menjadi milikku, jadi jangan di fikirkan! apa lagi sampai di cicil segala," sahut Sam, dia terlihat lupa dengan apa yang pernah aku katakan beberapa hari yang lalu.


"Ibu, apa Ibu masih mau menerimaku sebagai calon menantu seperti waktu itu?" tanya Sam yang kini justru menatap sendu wajah Ibu. Sedang Ibu masih diam mematung menatap balik Sam, dia terlihat bingung dengan jawaban yang akan dia beri pada Sam,


"Sam, bukankah kita sudah pernah membicarakan ini?" selaku.


Aku tak ingin Ibu merasa bingung dan ikut memikirkan masalah yang seharusnya tidak beliau fikirkan.


"Aku masih menganggap mu seperti puteraku, Sam," jawaban yang tak pernah aku bayangan kan terucap dari bibir Ibu.


"Tapi, Bu~" aku mencoba melayangkan protes, tapi Sayang, Ibu memotong ucapanku.


"Bukankah Sam baru saja menolong kita, Nak, alangkah lebih baik jika kita membalas kebaikan yang baru saja di lakukan oleh Sam." Ujar Ibu


Aku kembali terdiam, apa yang di ucapan kan Ibu memang benar, tapi untuk menjalin hubungan dengan Sam lagi bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan, setiap kata yang terucap dari bibir orang- orang terdekat Sam masih membekas dan terngiang dalam ingatanku, bagaimana aku bisa melupakan hal terpenting dalam hidupku itu, tapi Ibu tetaplah perintah mutlak yang tak bisa aku bantah dan aku hanya bisa pasrah mengikuti setiap kata yang Ibu ucapkan.


"Masuklah, Nak!" titah Ibu seraya membukakan pintu rumah yang tadi terkunci.


"Terima kasih, Ibu," jawab Sam yang kini berjalan dengan pedenya mengikuti langkah Ibu dan aku.


"Iya, masuklah, Nak!" Ibu semakin membuka lebar pintu rumah agar Sam dan aku bisa masuk ke dalam rumah.


"Ibu," panggilku seraya menarik lengan Ibu berjalan masuk ke ruang tengah agar Sam tidak mendengar percakapan ku dan Ibu.


"Ada apa, Nak?" tanya Ibu.


"Kenapa Ibu malah membawa Sam masuk ke dalam rumah?" tanyaku, aku merasa jika Ibu kini berubah, apa hanya karena Sam telah membayar lunas hutang yang bahkan aku tak pernah tahu untuk apa dan kapan mereka berhutang.


"Sam terlihat begitu peduli pada kita, dia juga terlihat begitu mencintaimu, Nak, apa kamu tidak mau mempertimbangkan lagi untuk mempertahankan hubungan kalian?" jelas Ibu.


Aku sangat tidak mengerti dengan apa yang Ibu katakan, bagaimana mungkin dia bisa berubah fikiran secepat itu? aku tidak habis fikir jika Ibuku bisa berubah secepat ini.


"Nak, Laki-laki baik seperti Sam yang mau menerima kamu apa adanya dan tidak keberatan mengeluarkan sejumlah uang untuk membantu mertuanya, kebanyakan anak muda sekarang tidak berfikir sejauh Sam, mereka hanya memikirkan kebutuhan mereka sendiri, dan laki-laki seperti Sam sangat sulit untuk di temui," Ibu kembali menjelaskan alasan yang mendasari perubahan sikapnya.


"Meski begitu tetap saja aku tidak ingin meneruskan hubungan dengannya Ibu, keluarga Sam sangat membenciku, mereka tidak menyukai diriku, bagaimana mungkin aku bisa meneruskan hubungan tanpa restu," aku yang tidak setuju dengan pendapat Ibu kembali mengutarakan apa yang aku fikirkan dan aku rasakan.


"Nak, cobalah berdamai dengan mereka dan berusaha saja dulu! mungkin saja keluarga Sam akan luluh jika kamu mau menunjukkan ketulusan hati yang kamu miliki, ingatlah Sayang, sebuah ketulusan bisa menghancurkan kebencian yang bersarang di hati seseorang," sekali lagi mencoba memberiku pengertian agar mau memberi kesempatan pada hubunganku dan Sam.

__ADS_1


"Baiklah, jika Ibu berfikiran seperti itu aku akan mencoba memperbaiki hubungan dengan Sam," ucapku dengan sangat terpaksa aku menyetujui permintaan Ibu dan menerima pendapat yang sebenarnya masih ku pertimbangan kan.


"Bagus, sekarang lebih baik kamu siapkan minum untuk Sam!" titah Ibu, meski dalam hatiku masih ada banyak hal yang mengganjal, tapi aku akan tetap berusaha melakukan spa yang Ibu perintahkan, bagiku saat ini kebahagiaan Ibu jauh lebih utama dari pada hal lain.


"Baik, Ibu," jawabku yang kini langsung berjalan menuju dapur untuk membuat minum sesuai dengan perintah Ibu.


"Minumlah!" ucapku sambil menaruh segelas air teh yang baru saja aku buatkan.


"Apa sekarang kamu masih marah padaku, Sayang!" tanya Sam setelah aku duduk manis di hadapannya.


"Aku tidak pernah marah padamu, Sam," sahutku sambil menatap datar ke arah Sam yang kini terlihat sedang tersenyum setelah mendengar jika aku sama sekali tidak marah padanya.


"Syukurlah jika kamu tidak pernah marah padaku, karena aku masih sangat mencintaimu dan tidak akan pernah bisa melupakan mu, Sayang," Sam mengatakan semuanya dengan nada lembut dan penuh cinta, karena itulah aku masih berusaha untuk memperbaiki hubunganku dengannya.


"Aku tidak marah padamu, hanya saja aku tidak sederajat denganmu," Aku berusaha mencoba menjelaskan alasan yang mendasariku untuk berusaha pergi dari Sam dan mencoba mencari kehidupan yang baru dan perlahan melupakan Sam.


"Kenapa baru sekarang kamu membahas masalah derajat? bukankah derajat manusia hanya Tuhan yang berhak untuk menilainya, bukan manusia," tegas Sam.


"Aku tahu itu, tapi realita berkata lain Sam, hampir semua orang melihat orang lain dari status sosial yang mereka miliki, dan aku sama sekali tidak sepadan denganmu," aku masih saja berusaha menyadarkan Sam agar dia mengerti alasan aku ingin mengakhiri hubungan yang memang sangat sulit untuk di terus kan.


"Sudah berkali-kali aku menjelaskan dan menegaskan padamu jika aku sama sekali tidak pernah memandangmu dari status sosial yang kamu miliki, aku tulus mencintaimu dan aku tidak pernah main-main dengan perasaan yang aku miliki selama ini," Sam kembali mengatakan apa yang dia rasakan dengan nada tegas yang semakin membuatku sakit.


"Sayang!" tegur Sam saat aku sibuk dengan pemikiranku sendiri.


"Eh, iya," sahutku.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi! sejak kita pulang dari acara khoul di rumahku sikapmu berubah, dan kamu selalu membahas status sosial yang sebelumnya tidak Pernah di bahas atau bahkan menjadi akar permasalahan di antara kita seperti saat ini," Sam mulai merasa aneh dan mencari tahu apa penyebab perubahan sikapku.


"Tidak ada apapun yang terjadi, aku hanya sadar jika status sosial ku jauh darimu, aku tidak ingin kamu terkena masalah hanya karena memilih diriku," satu kebohongan yang aku ucapkan pasti akan menciptakan kebohongan lain yang pasti akan aku lakukan, tapi aku tetap harus melakukan nya, karena sangat tidak mungkin bagiku untuk jujur dan membiarkan Sam bertengkar dengan orang tuanya.


"Senja, aku mohon padamu, stop berfikir tentang status sosial yang menuruku tidak penting, yang terpenting bagiku saat ini, kamu dan kelanjutan hubungan kita, aku benar-benar mencintaimu dan berharap kamu yang menjadi jodohku, menjadi teman hidupku, menghabiskan sisa hidupku bersama dengan mu," setiap kata yang terucap dari bibir Sam, terdengar begitu Manis dan meyakinkan aku yang merasa ragu dan ingin menyerah.


"Kita jalani saja dulu, tapi jangan berharap terlalu banyak padaku, karena aku takut harapan itu tak sesuai dengan kenyataan yang akan kita dapatkan nantinya," seperti nya aku tidak punya alasan untuk mengakhiri semuanya sekarang, meski orang tua Sam tidak menyukai diriku, tetap saja Sam tidak pernah tahu tentang orang tuanya itu.


Perlahan tapi pasti aku akan menemukan jalan yang terbaik untuk hubunganku dan Sam. Ku huruf udara sebanyak mungkin lalu ku buang perlahan, kemudian ku kumpulkan setiap keberanian yang ku miliki untuk kembali menerima Sam dalam hidupku.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk melupakan soal status sosial di antara kota dan memulai semua dari awal," menyerah sudah, menghindar dari Sam pun rasanya begitu sulit, mungkin akan jauh lebih baik jika aku mencoba menerima sembari mencari jalan keluar agar semua kembali menjadi seperti dulu. Agar semua yang ada di sekitar ku menjadi baik-baik saja.


"Syukurlah jika kamu mau memulai semuanya dari awal, Aku sangat bahagia mendengarnya Sayang, setelah ini aku berharap kamu bisa menceritakan semua hal padaku, terutama jika kamu memiliki masalah, jangan memandangnya sendiri, ingatlah jika aku selalu ada untukmu," ucapan Sam memang selalu bisa membuatku tenang dan nyaman, tapi aku masih ragu jika aku menceritakan sifat asli Ibu dan Imannya yang terlihat baik di hadapannya, apa Sam akan percaya dan berkata selembut ini lagi padaku.


"Sayang!" suara Sma kembali terdengar menyadarkan diriku jika saat ini masih ada dia di hadapanku.

__ADS_1


"Iya," sahutku.


"Kamu kembali melamun, katakan saja sebenarnya ada apa?" kali ini Sam terlihat jauh lebih khawatir dan memaksa dari sebelumnya.


"Tidak Tidak, aku hanya berfikir untuk memasakkanmu apa besok, bukankah kita akan memulainya dari awal? dan itu artinya kamu akan kembali menjemputku seperti biasa lagi, karena itulah aku ingin membuatkan sarapan agar kamu bisa mengantarku dengan penuh semangat," ujarku, lagi-lagi aku berbohong berharap Sam tidak curiga dan memaksaku untuk menceritakan semuanya.


"Khusus untuk besok, kamu dan Ibu istirahat saja! biarkan aku yang membawakan menu makanan sarapan pagi untuk kalian," jawab Sam yang kembali membuatku tersenyum.


'Maaf, Sam, Aku sungguh tidak bermaksud menakut, tapu percayalah rasa sakit di hina oleh Ibu dan nenek dari orang yang kita cintai itu jauh lebih membekas dan sangat sulit untuk di lupakan,' batinku sambil tersenyum manis ke arah Sam, berharap Sam tidak lagi curiga.


"Senja, Sam!" suara panggilan dari Ibu terdengar.


"Iya, Ibu," sahutku dan Sam hampir bersamaan.


"Kemarilah! kita makan bersama," sambung Ibu menjelaskan alasan dirinya memanggilmu dan Sam.


"Ayo makan! Ibu sudah menyiapkan makanan untuk kita," aku sengaja mengajak Sam dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Apapun yang kamu minta dan kemanapun kamu ingin mengajakku, Aku akan ikut bersamamu," jawab Sam yang langsung berdiri berjalan mengikuti langkahku masuk ke dalam rumah menuju meja makan menemui Ibu yang aku yakini sudah lebih dulu duduk di kursi yang ada di sana.


"Ibu masak apa hari ini?" tanya Sam yang terlihat antusias dengan makanan yang Ibu siapkan, padahal jika di bandingkan dengan makanan yang ada di rumah Sam, sangat jauh berbeda.


"Ibu cuma masak tempe dan tahu goreng juga sambal kecap, Maaf ya Nak Sam, Ibu tadi tidak sempat belanja, karena itulah Ibu memasak apa yang ada di lemari pendingin," Ibu menjelaskan keadaan di dapur saat ini, Aku dan Ibu memang jarang sekali masak karena terkadang aku makan di jalan dan Ibu sudah kenyang makan di rumah Tuan Arka


"Bukan makanannya yang menimbulkan rasa nikmat, tapi bisa makan bersama keluarga jauh lebih nikmat, apa lagi kalau makannya bareng seseorang yang di cintai, rasanya jauh lebih nikmat Ibu," ujar Sam.


"Makanlah!" titahku sambil menaruh sepiring penuh makanan ke hadapan Sam.


Aku merasa malas untuk terus mendengar ocehan Sam yang seolah dia benar-benar ingin menjadi keluargaku dan mencintaiku seratus persen, meski sikap dia memang selalu menunjukkan betapa dia mencintaiku, tapi si sisi lain aku masih saja merasa ada yang banyak tanpa aku tahu apa yang mengganjal itu.


"Terima kasih, Sayang," sahut Sam sambil tersenyum manis ke arahku, sedang aku langsung mengalihkan pandangan menatap setumpuk makanan pengisi tenaga yang ad di hadapanku saat ini.


Makan sore bersama Sam terasa biasa saja, sangat jauh berbeda dengan dulu, jika dulu aku merasa sangat bahagia jika makan bersama, kini rasanya biasa saja.


Sam telah pulang setelah menghabiskan satu piring makanan yang aku ambilkan, kini aku duduk di depan televisi sambil merebahkan diri yang terasa pegal setelah seharian bekerja di tambah bonus berdebat dengan penagih hutang di lengkapi dengan kehadiran Sam yang datang bagai pahlawan.


"Sayang," kali ini suara lembut Ibu terdengar memanggilmu yang masih saja santai di depan televisi.


"Iya, Ibu, ada apa?" sahutku sambil menoleh ke arah ibu yang datang.


"Maaf," satu kata yang cukup membuatku mengangkat badan dan duduk berhadapan dengan Ibu yang kini tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku, kami duduk besila dengan tangan Ibu yang mendarat indah di kepalaku.

__ADS_1


__ADS_2