Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Piknik Part 2


__ADS_3

Menikmati suasana asri di dalam kebun yang lebih mirip dengan sebuah hutan buatan, memang terasa begitu menyenangkan, semua beban seolah terangkat dan sirna tak tersisa, dan aku bahagia sudah punya kesempatan untuk menikmati semua keindahan ini.


"Ayo Mbak, kejar aku!" lagi-lagi suara Tania mengejutkanku yang sejenak kembali larut dalam pemikirannya sendiri.


Melihat Tania berenang cepat menjauh membuatku tergerak untuk menyusulnya dan mengikuti setiap gerakan Tania, air yang jernih di tambah bebatuan dan ikan yang terlihat ketika aku dan Tania menenggelamkan diri semakin membuatku kagum, meski aku tahu jika sungai yang tengah aku tempati ini benarZ-benar indah di lihat dari sisi manapun.


"Segar ya Mbak," ucap Tania setelah keluar dari air.


"Iya, Mbak gak nyangka kalau di kebun raya yang terlihat biasa saja ini, ternyata memiliki suasana dan keindahan yang tak pernah Mbak bayangkan sebelumnya," sahutku sambil menikmati segarnya air sungai dengan merendam diri di dalamnya.


Saat aku dan Tania tengah sibuk menikmati kesegaran air sungai, terlihat dari kejauhan Tuan Arka menyiapkan langganan kecil yang tadi dia bawa, Tuan Arka terlihat membakar beberapa makanan, dan aku tidak tahu makanan apa yang tengah dia masak, karena aku tak melihatnya dengan jelas.


Cukup lama aku dan Tania berendam hingga aku merasa mulai kedinginan, begitu pula dengan Tania yang mulai menggigil.


"Sudah cukup berenangnya, lebih baik sekarang kita naik dan segera ganti baju sebelum semakin kedinginan," ucapku.


"Tapi aku masih ingin berenang, Mbak," tolak Tania yang memang terlihat masih asyik berenang meski bibirnya telah bergetar karena dingin.


"Sayang, lain kali kita bisa ke sini dan mandi lagi, tapi sekarang kita harus keluar dari sungai, sebelum Tania dan Mbak sakit karena terlalu lama mandi di sungai yang dingin ini," aku mencoba membujuk Tania agar dia mau menyudahi acara berenangnya.


Sejenak Tania terdiam, dia terlihat tidak rela untuk keluar dari sungai dan menyudahi acara mandinya kali ini, meski tak rela dan kurang suka, Tania tetap mengikuti apa yang aku perintahkan.


"Sepertinya Papa Tania memasak sesuatu, aku rasa Tania akan menyukainya," ujarku yang masih berusaha membujuk Tania agar dia benar-benar keluar dari sungai.


"Papa," lirih Tania yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Tuan Arka yang terlihat masih serius memasak.

__ADS_1


"Iya, Papa Tania sedang memasak sesuatu untukmu, apa Tania masih ingin di sini? atau kita susul Papa?" aku kembali mencoba merayu Tania, terlalu lama bersama Tania cukup membuatku pintar merayu dan merangkai kata-kata.


Kami berjalan beriringan mendekat ke arah Tuan Arka yang ternyata sedang membajak ikan dan beberapa sosis beserta teman-temannya.


"Wahh, Papa hebat, tahu saja kalau Tania lapar," seru Tania yang langsung mencomot satu buah sosis yang terlihat menggiurkan di atas piring.


"Tania, ganti bajuku dulu!" titah Tuan Arka.


"Siap, Papa," Tania begitu bersemangat hingga tanpa sadar sebuah senyuman kebahagiaan melihat Ayah dan anak itu terlihat begitu kompak dan akrab muncul di wajahku tanpa bisa aku hentikan ataupun aku perintah.


"Senja!" panggil Tuan Arka.


"Iya, Tuan," sahutku.


"Temani Tania ganti baju, dan kamu juga, ganti bajuku!" kali ini Tuan Arka memberikan perintah untukku.


"Bajuku sudah aku siapkan, dan ku simpan di dalam paper bag, pakai fan jangan banyak membantah!" seru Tuan Arka yang cukup membuatku terkejut, bagaimana bisa Tuan Arka menyiapkan segalanya?


"Baik, Tuan," jawabku yang langsung mengajak Tania masuk ke dalam tenda untuk mengganti bajunya juga bajuku.


Awalnya aku biasa saja, hingga aku sampai di dalam tenda dan mendapati baju ganti yang Tuan Arka siapkan cukup membuatku terkejut dan heran, bagaimana Tuan Arka tahu ukuran baju dalam ku? kenapa dia menyiapkan baju ganti selengkap ini, sungguh aku tidak menyangka Tuan Arka bisa melakukan semua ini sendiri.


"Mbak!" suara Tania terus saja menyadarkanku yang kali ini memang banyak melamun.


"Iya, Sayang," sahutku yang langsung memusatkan perhatian ke arah Tania yanh baru saja selesai mengganti bajunya dan duduk anteng di sampingku.

__ADS_1


"Mbak Senja ngelamun lagi? kenapa Mbak Senja ngelamun terus? apa ada masalah?" sebuah pertanyaan yang sulit aku mengerti keluar dari bibir mungil Tania, bukan pertanyaannya yang membuatku sulit mengerti, tapi orang yang mengutarakan pertanyaan yang cukup membuatku sulit mengerti, gadis kecil seperti Tania bisa mengerti jika seseorang yang suka melamun itu merupakan orang yang banyak masalah.


"Tidak ada Sayang, Mbak Senja tidak apa-apa," jawabku sambil mengusap lembut kepala Tania.


"Biasanya kalau orang yang sering melamun itu banyak masalah Mbak," seru Tania yang sekali lagi membuatku bingung.


"Tania tahu dari mana kalau orang yangs sering melamun banyak masalah?" aku yang merasa begitu penasaran tak lagi mampu menahannya, aku langsung menanyakan hal yang mengganjal di hatiku pada orangmya.


"Oma," jawab Tania singkat.


"Apa Oma yang mengajarkan semua itu pada Tania?" aku kembali menyelidiki Tania yang mampu berbicara dengan nada dan pembahasan orang dewasa.


"Aku melihat sinetron yang Oma tonton, karena itulah aku mengerti, Oma juga pernah menjelaskannya padaku," jujur Tania yang cukup membuatku geleng kepala, anak sekecil Tania sudah di ajak nonton sinetron, ini yang salah orang tuanya atau memang Tania yang tak bisa di bantah.


Aku tak lagi bisa berbicara setelah mendengar penjelasan Tania, Karena Tania seperti saat ini juga karena Omanya sendiri.


"Tania, lebih baik sekarang Tania tunggu Mbak Senja di luar tenda," ujarku yang tak mungkin mengganti pakaian di hadapan Tania.


"Tidak! aku mau nunggu Mbak di sini, titik." Tania kembali tak bisa di atur dan tak terbantahkan.


Aku sebagai pembantunya hanya bisa menurut tanpa bisa menolak ataupun memaksa Tania, dan akhirnya dengan berat hati aku mengganti bajuku di hadapan Tania, untung saja dia perempuan dan masih kecil pula, kalau dia laki-laki sudah aku ajak keluar dan ku serahkan pada Ayahnya.


"Mbak," Tania kembali memanggilmu saat aku baru saja selesai mengganti baju dan memasukkan bajuku yang basah ke dalam kantong plastik yang juga sudah di siapkan di dalam paper bag itu.


"Apa Tania?" sahutku.

__ADS_1


"Kenapa dada Mbak besar ya? punya Tania gak ada, padahal kita sama-sama wanita," pertanyaan yang cukup membuat mataku melebar mendengarnya, sungguh aku menyesal membiarkan Tania berada di sampingku dan melihatku mengganti baju, aku tak menyangka gadis kecil yang memang memiliki mulut bawel ini bisa bertanya hal yang sebenarnya sulit untuk aku jawab.


__ADS_2