
"Aku baru saja sampai di sini, dan untungnya aku tidak perlu menunggu kamu terlalu lama untuk datang, apa interview nya sudah selesai?" jawab Sam yang langsung bertanya kembali padaku tentang interview yang baru saja aku lewati.
"Sudah, dan coba tebak apa hasil interview yang aku lakukan barusan!" ujarku dengan wajah penuh kebahagiaan aku berucap.
"Kamu pasti berhasil," jawab Sam yang kini ikut tersenyum ke arahku.
"Tentu saja, dan mulai besok aku akan bekerja di kantor besar ini," ujarku dengan senyum yang menghiasi wajahku.
"Selamat ya Sayang, akhirnya kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan," Sam memberi ucapan selamat sambil memberikan sekotak cokelat berukuran sedang yang ada di saku celana miliknya.
"Wahh cokelat, kaku tahu aja apa yang aku suka," pekikku sambil mengambil coklat yang di uluran ke arahku.
"Apapun yang kamu mau dan kamu sukai, pasti aku penuhi," Sam selalu saja bisa membuat hariku penuh warna.
"Sudahlah, jangan menggombal di sini!" selaku yang tak ingin terus mendengar Dan menggombal.
"Kenapa tidak boleh? apa ada seseorang yang membuatmu takut?" bukannya mengerti jika saat ini kita berada di parkiran yang itu artinya kita sedang berada di tempat umum, tidak seharusnya Sam menggombal di tempat ini.
"Tidak ada, hanya saja aku merasa kurang enak jika mendapat gombalan tidak jelas darimu di sini, tempat yang tidak seharusnya," aku menjelaskan alasan apa yang membuatku tidak terlalu suka jika berada di tempat yang tidak sewajarnya.
Sam hanya tersenyum menanggapi ucapanku sambil berdiri mendekat ke arahku, kemudian memakaikan helm yang sejak tadi dia pegang.
"Kalau begitu lebih baik kita pergi dari sini. Agar aku bisa melanjutkan gombalanku," ujar Sam sambil mengedipkan sebelah matanya menggodaku, melihat sikap DAlam membuatku gemas, reflek saja tanganku menepuk pundaknya pelan.
"Sayang," panggil Sam saat kita berada di tengah jalan yang terlihat sepi, mungkin sebagian besar orang seang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, karena itulah jalan yang aku lewati saat ini terlihat begitu sepi.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" sahutku sedikit mendekatkan telinga ke arah kepala Sam agar aku masih bisa mendengar dia berbicara.
"Kita mampir ke rumahku dulu. Setelah itu baru pulang," jawab Sam.
"Mau ngapain kita ke sana Sam?" aku yang mendengar jawaban Sam langsung bertanya kembali padanya.
"Aku ingin kamu mengenal Mamaku, setidaknya beliau harus tahu jika aku sudah punya tambatan hati dan gadis yang ingin aku jadiin pasangan hidupku," Sam menjelaskan apa yang ada dalam benaknya, sungguh aku tak menyangka jika Sam akan bertindak secepat ini.
"Apa semua ini tidak terlalu cepat, Sam?" tanyaku yang merasa apa yang di lakukan Sam terlalu cepat, kita baru kemarin resmi menjadi sepasang kekasih tapu sekarang Dam sudah mengajakku ke rumahnya dan memperkenalkanku pada orang tuanya.
"Tidak Sayang, kita memang baru resmi pacaran, tapi aku sudah lama mengajakmu, begitu pun dengan keluargaku yang sudah bisa di pastikan mengenal dirimu," Sam menjelaskan semua yang memang perlu aku ketahui.
"Meski begitu tetap saja aku merasa sungkan Sam," jujurku.
Aku memang beberapa kali datang ke rumah Sam, selain karena paksaan darinya terkadang aku mengerjakan tugas bersama dengan Sam.
Motor terus melaju hingga sampailah di sebuah rumah yang cukup besar, Sam memang termasuk orang kaya di rumahku, meskipun dia tak sekaya Tuan Arka. tapi Sam bukanlah orang biasa, namanya cukup terkenal di kalangan Ibu-ibu komplek, dan dia termasuk menantu idaman bagi mereka.
"Ayo turun!" ajak Dam yang melihatku diam dan tak kunjung turun dari atas motor yang aku tumpangi.
"Apa kamu yakin mau mengajakku ke sini?" aku kembali meyakinkan Sam dan diriku sendiri apa tidak akan jadi masih jika aku datang ke rumah Sam saat ini.
"Tentu saja, kenapa aku tidak yakin? kamu memang gadis pilihanku dan aku yakin jika kamulah yang terbaik untukku," Sam kembali meyakinkan dirinya dan diriku untuk masuk ke dalam rumah dan mengenalkannya lagipada orang tuanya, meskipun sebenarnya aku sudah sering ke rumah Sam dulu tapi kedatanganmu saat ini sangat berbeda, semua itu karena status kita yang kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
"Assalamualaikum," ucap Sam sesaat setelah kami berdua sampai di depan pintu rumah Sam yang berukuran cukup besar nan tinggi, hal itu sangat jauh berbeda dengan pintu yang ada di rumahku.
__ADS_1
"Waalaikum salam," sahut seorang wanita dari balik pintu yang aku fikir dia adalah Mama Sam.
"Den Sam, masuklah!" sambut seorang wanita yang berusia cukup tua dan aku tahu jika yang menyahut tadi bukanlah Ibu dari Sam melainkan asisten rumah tangganya.
"Mama ke mana Bik?" tanya Sam.
"Beliau ada di kamar, Den," jawab sang asisten rumahtangga yang ku tahu bernama Siti.
"Bii, tolong panggilkan Mama! bilang Sam datang sama calon istrinya, dan tolong buatkan cemilan juga minuman yang segar untuk kita," pinta Sam dengan nada lembut dan sopan.
"Baik, Den," jawab Bik Siti seraya melangkah pergi meninggalkan Sam dan aku yang kini memilih untuk duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
"Rumah kamu tidak pernah berubah, semua masih terlihat sama seperti dulu," ucapnya mencoba memecahkan keheningan.
"Tentu saja, aku melarang kedua orang tuaku merubah semua yang ada si sini, kau tahu kenapa aku melarang mereka?" Sam menjawab sembari melempar pertanyaan kembali padaku.
"Kenapa kamu melarang mereka? bukankah biasanya orang kaya itu biasa mengganti model atau properti di rumah mereka?" tanyaku yang kini justru penasaran dengan alasan Sam yang tak ingin merubah segala yang ada di rumahnya.
"Aku tak ingin merubah segalanya karena ada banyak kenangan kitadi sini, aku bisa mengingat semuanya saat berada di sini, tempat di mana dulu kita sering mengerjakan tugas yang sebenarnya mudah tapi terlihat sulit waktu itu," Sam menjelaskan alasan dirinya yang tak ingin merubah segalanya.
"Sam, Senja," sapa Mama Sam yang masih saja terlihat cantik dan awet muda, orang yang berduit dan irang susah memang berbeda.
"Tante," aku balik menyapa seraya berdiri menghampiri Mama Sam yang baru saja datang.
"Loh, katanya Sam datang bersama calon istrinya, mana calon istrimu?" tanya Mama Sam sambil duduk tak jauh dari hadapan kak.
__ADS_1
Sam yang mendengar pertanyaan sang Mama hanya tersenyum kemudian melirik ke arahku, sedang aku hanya bisa menunduk malu mendengar pertanyaan Mama Sam, beliau memang mengenali sebagai sahabat Sam sebelumnya, dan aku yakin jika dia tahu kalau saat ini calon istri yang di maksud oleh puteranya itu aku, pasti dia akan terkejut mendengarnya.