
Aku tak lagi memperdulikan Sam yang entah berfikiran apa, mungkin saja dia merasa aneh dengan apa yang aku lakukan, tapi itu lebih baik dari pada aku benar-benar meminta uang padanya.
"Pagi Bu," sapaku pada HRD yang kemarin menginterview diriku.
"Apa kamu sudah tahu ruangan dan apa tugasmu?" tanya Bu Lia.
"Belum, Bu," jawabku dengan wajah yang terlihat masih semangat, abg aku memang selalu semangat setiap kali mau bekerja, dalam otakku saat ini hanya bekerja dan mendapatkan banyak uang untuk membahagiakan Ibuku.
"Ikut aku!" titah Bu Lia seraya memberi isyarat agar aku mengikuti langkahnya.
BU Lia berjalan menuju satu ruangan yang berada di paling ujung.
'Ceklek'
BU Lia membuka pintu yang bertuliskan pastry tanpa mengutuknya, sungguh Bu Lia saat ini seperti pemilik ruangan itu.
"Ada apa, Bu?" tanya seorang gadis yang terlihat seumuran denganku.
"Ada anggota baru yang akan membantu kamu dan tim mu, ajari dia dengan baik! dan beri tahu di mana dia akan bekerja," Bu Lia kembali memberi perintah.
"Baik, Bu," jawabnya.
Sama seperti diriku yang merasa sungkan di campur sedikit takut saat melihat Bu Lia, dia tampak memiliki perasaan yang sama denganku.
"Ini ruangan kamu bekerja, masuklah! dan gabung sama temanmu yang lain, mereka akan menjelaskan apa yang harus kamu kerjakan," Bu Lia menoleh ke arahku sambil menjelaskan apa yang harus aku lakukan.
"Baik, Bu, terima kasih," jawabku dengan senyum yang mengembang di wajahku.
__ADS_1
BU Lia berjalan menjauh ke arah yang berlawanan dariku, sedang aku berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Salam kenal semua, perkenalkan namaku senja, Aku harap kita bisa bekerja sama," ujarku memperkenalkan diri di hadapan senior rekan kerjaku.
"Perkenalkan, namaku Sifa, aku leader di sini," Sifa memperkenalkan diri.
"Aku Sandy," sahut satu karyawan laki-laki yang ku lihat cukup tampan.
"Aku Sela," sambung karyawan yang lain.
"Kalau aku Reihan," satu karyawan yang sejak tadi duduk menikmati secangkir teh menyahuti perkenalan yang aku ucapkan.
Aku tersenyum sambil sedikit menunduk memberi isyarat jika aku menanggapi ucapannya.
"Season perkenalannya sudah usai, sekarang kita kembali bekerja, dan Kamu Senja ini denganku!" ujar Sifa.
Sifa mengajakku menuju dapur di mana biasanya semua orang memasak ataupun membuat kopi bahkan memasak.
"Setiap pagi tugasmu membuat kopi dan teh untuk setiap staf di divisi keuangan dan Ruang Direktur, setelah itu kamu bisa melanjutkan membersihkan loby di dekat taman." Sifa menjelaskan semua tugas yang harus aku kerjakan.
"Siap Mbak Sifa, tapi apa saya boleh minta tolong tunjukkan di mana tempat-tempat yang Mbak sebutkan tadi?" aku yang tidak mengerti di mana tempat yang harus aku bersihkan dan aku datangi kembali bertanya meminta Mbak Sifa agar dia mau membantuku.
"Ikuti saja langkahnya! setelah itu aku akan jelaskan di mana saja tempatnya," jawab Mbak Sifa yang terlihat begitu ramah dengan kehadiranku.
"Sekali lagi terima kasih atas semua bimbinganmu Mbak," ujarku dengan senyum yang ku buat semanis mungkin menghadap ke arah Mbak Sifa.
"Semua yang aku lakukan menjadi tugas yang memang harus aku kerjakan, karena itulah kamu harus bekerja dengan tekun dan benar, jika kamu melakukan kesalahan maka aku juga akan dapat peringatan dari atasan kita," Mbak Sifa menjelaskan semuanya padaku yang sangat mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Mbak Sifa.
__ADS_1
"Aku akan melakukan seni pekerjaan dengan sangat hati-hati dan teliti, Mbak Sifa tenang saja, Aku akan berusaha sekuat mungkin agar tidak menyusahkanmu," sahutku dengan ekspresi dan ucapan yang aku buat semeyakinkan mungkin.
"Aku suka semangatmu, jadi jangan pernah luntur ataupun berubah! karena semangat itu yang akan membuatku awet bekerja di sini," Mbak Sifa memberi wejangan untukku yang memang masih belum tahu seluk beluk perusahaan tempatku mencari rezeki halal ini.
Mbak Sifa mengajakku dan memberitahukanku apa saja yang memang harus aku kerjakan, dan menjaga apa yang harus aku jaga. Mbak Sifa menjelaskan di mana ruang devisi keuangan san beberapa orang yang bekerja di sana, Mbak Sifa juga mengenalkan padaku siapa saja yang perlu aku buatkan kopi.
"Loh Mbak, bukankah tadi Mbak Sifa juga memintaku mengantarkan minum ke ruang Direktur?" aku mengingatkan Mbak Sifa yang mungkin lupa tidak memberitahukan padaku di mana ruang Direktur itu.
"Iya, dan itu ruangan Direktur, jangan pernah banyak bicara ataupun banyak tingkah! lebih baik diam dari pada nanti kamu kena semprot sama pemilik ruangan itu," Mbak Sifa memberi peringatan padaku yang sukses langsung terkejut mendengar penjelasannya.
"Loh kok gitu? emang kenapa? apa pemilik ruangan itu orang jahat?" aku yang penasaran tak bisa menahan diri untuk tetap diam dan tidak bertanya.
"Semakin banyak kamu tahu maka hidupmu akan semakin sulit nantinya," Mbak Sifa tak menjawab pertanyaanku, dia malah mengingatkanku untuk tetap diam tanpa banyak bicara.
"Aku akan diam dan melakukan semuanya sesuai dengan anjuran Mbak Sifa," jawabku yang memang tak ingin memiliki masalah dengan siapapun di tempat bekerja yang baru ini, karena memiliki masalah dengan teman satu tempat kerja akan semakin mempersulit hidupku nantinya.
"Bagus," sahut Mbak Sifa.
"Sekarang aku akan menunjukkan padamu tata cara membuat minuman untuk setiap orang," Mbak Sifa kembali mengajakku masuk ke dalam ruangan yang mirip seperti dapur.
"Lihatlah! ini daftar minuman yang harus kamu buat dan jangan sampai salah! kamu harus mengingat setiap minuman yang biasa di minta oleh para staf, jika tidak maka kamu akan kerepotan sendiri nantinya," Mbak Sifa kembali memberitahu apa yang harus aku perhatikan ketika bekerja.
"Apa aku harus menghafal semua minuman ini Mbak?" tanyaku menunjuk ke arah kertas panjang yang tertempel indah di depan tempat membuat kopi.
"Tentu saja, entah bagaimana caranya kamu harus bisa membuat minuman untuk setiap orang dan memberikan minuman itu sesuai dengan nama orang yang biasa meminumnya," Mbak Sifa kembali menjelaskan apa yang perlu aku tahu dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban jika aku sudah mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Mbak Sifa.
"Baiklah, tugasku sidah selesai, sekarang kamu bisa mulai melakukan pekerjaanmu, Mbak tinggal dulu." Pamit Mbak Sifa keluar dari ruangan. Sedang aku masih betah memperhatikan catatan cukup panjang di atas tempat membuat minuman.
__ADS_1
"Kenapa mereka memiliki selera yang berbeda seperti ini? kenapa kalian tidak menyukai kopi saja semua? jika itu yang terjadi maka pekerjaanku akan lebih ringan dari sekarang." Lirihku mengomel sendiri tanpa ada yang menemani, melihat betapa rumitnya menjadi office girl saat ini, karena ada banyak yang perlu aku perhatikan.