Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Kata-kata menyebalkan


__ADS_3

"Kamu tidak perlu tahu aku tahu dari mana, yang harus kamu ingat, jangan terlalu memaksakan diri! ikuti saja apa kata hatimu dan Jangan dengarkan yang lain!" ucapan Tuan Arka benar-benar mengusik hati dan fikiranku, meski begitu tetap saja, rasa penasaran dari mana Tuan Arka tahu masalahku lebih besar dari pada pengertianku pada makna dari kata-kata yang terlontar dari bibir Tuan Arka.


"Tuan Arka tahu dari mana masalahku?" sekali lagi aku mencoba bertanya, meski dengan seluruh keberanian aku menanyakan pertanyaan yang ku khawatirkan bisa membuat Tuan Arka marah.


Bukannya menjawab, Tuan Arka malah berjalan santai meninggalkan aku yang masih setia berdiri menatap punggungnya yang perlahan menjauh.


Tuan Arka terlihat mengambil dia bogor air mineral kemudian kembali berjalan ke arahku dan menyodorkan air mineral yang dia bawa.


"Minumlah dulu! berfikir dan menghindar butuh banyak energi," ucapan Tuan Arka semakin membuatku penasaran, sangat tidak mungkin bagi Tuan Arka untuk mengirim orang dan memata-mataiku selama ini, karena aku bukan siapa-siapa Tuan Arka, tapi mau bagaimana lagi, Tuan Arka tetaplah Tuan Arka, dia akan tetap pada pendiriannya dan tidak akan pernah menjawab pertanyaan yang aku lontarkan meski aku memohon ataupun mengemis padanya,


"Setiap fase kehidupan memiliki fase sulit tersendiri, kamu bisa memikirkan lagi keputusan apa yang ingin kamu ambil sebelum akhirnya kamu mengambil keputusan yang menurutmu benar, ingat Senja! pernikahan itu bukan soal cinta dari dua hati, tapi penyatuan dia keluarga yang awalnya bukan siapa-siapa menjadi saudara atau bahkan orang Tua dan kamu harus memikirkan itu sebelum menikah dengan pacar yang saat ini kau idam-idamkan," Tuan Arka memang sedang memberi nasihat, tapi kata dan caranya sangat jauh berbeda dari kebanyakan orang biasanya, bukan terdengar menasehati, suara Tuan Arka malah terdengar seperti seorang Ayah yang sedang memarahi puterinya.


"Habiskan airnya! setelah ini kamu bisa istirahat di dalam tenda, kita akan pulang sore nanti," titah Tuan Arka.


"Baik, Tuan," jawabku, meski aku masih merasa bingung dengan perintah Tuan Arka, tapi tetap saja aku tak bisa menolak ataupun bertanya pada Tuan Arka kenapa dia menyuruhku istirahat di tenda, bukannya mengajak ku langsung pulang, Tuan Arka malah meyuruhku istirahat dan menghabiskan satu botol air mineral yang sangat tidak mungkin bisa aku lakukan.


"Tunggu!" Tuan Arka mencegahku yang mang baru saja melangkah dia langkah dan belum terlalu jauh dari tempat Tuan Arka berdiri.


"Apa kamu lapar?" pertanyaan yang seharusnya tak memerlukan jawaban, tadi saat aku baru saja melangkah perutku sudah berbunyi dan bunyinya cukup kencang sehingga membuat Tuan Arka harusnya mengerti kalau aku sedang lapar.


"Emmm, anu Tuan," aku yang menyadari jika apa yang terjadi barusan merupakan hal yang memalukan untuk di ketahui oleh orang lain, apa lagi jika yang tahu itu Tuan yang kini berstatus sebagai atasan pemilik perusahaan di mana aku bekerja rasanya aku ingin lari dan menenggelamkan diri di lautan agar suara perutku tak terdengar lagi.

__ADS_1


"Tunggu aku di dalam! sepuluh menit lagi aku akan datang." pesan Tuan Arka sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanku yang kembali di buat bingung.


Melihat Tuan Arka yang kini sudah melangkah menjauh dan menghilang di balik pepohonan membuatku mau tidak mau kembali masuk ke dalam tenda, rasanya cukup menakutkan jika harus terus berada di depan tenda tanpa ada yang menemani, lebih baik aku menunggu Tuan Arka di dalam tenda sambil merebahkan diri di samping Tania yang sudah lebih dulu lelap dalam tidurnya.


DdddddrrrttDdddddrrrtt ... Dddrrrtt ... dddrrrtttt ....


Getar ponsel kembali mengusik aku yang sedang menikmati hidup dengan rebahan di samping Tania.


'Sam,' lirihku saat melihat nama Sam Sayang yang tertera di layar ponselku.


Bukannya mengangkat telfon aku malah masih merasa ragu dengan terus mantapnya hingga sambungan telfon itu tertutup dengan sendirinya.


"Maaf, aku masih bingung harus bagaimana Sam?" gumamku dengan air mata yang tak bisa aku bendung mengalir dengan derasnya membasahi pipi yang sebelumnya kering.


"Khem," deheman suara seorang laki-laki mengejutkan diriku yang tengah larut dalam pemikiranku sendiri.


"Eh, maaf Tuan," aku langsung duduk dan membenarkan posisi saat melihat kepala Tuan Arka masuk ke dalam tenda sedangkan badannya masih berada di luar.


"Keluarlah!" titah Tuan Arka.


Lagi-lagi aku tak bisa menolak, Aku hanya bisa mengangguk kemudian keluar dari tenda dan melihat keadaan di luar dengan mulut menganga.

__ADS_1


"Apa ini, Tuan?" tanyaku saat melihat ada begitu banyak makanan yang tertata rapi di atas meja.


"Apa kamu tidak tahu ini apa? atau kamu sudah lupa ingatan dan tidak tahu apa nama ini semua, hanya karena pacarmu itu," jawab Tuan Arka.


Kali ini bukan perasaan bingung atau yang lain yang kini muncul, aku malah merasa sedikit jengkel dengan ucapan Tuan Arka, nada bicaranya memang biasa saja, tapi kata-kata yang ada di dalamnya sungguj luar biasa.


"Kamu mau terus berdiri di situ atau mau makan?" tanya Tuan Arka saat melihatku hanya berdiri tanpa ada niat untuk mendekat ke arahnya.


Aku langsung berjalan mendekat ke arah Tuan Arka yang lebih dulu duduk di hadapanku.


"Makan yang kenyang! Aku tidak ingin kau mati kelaparan di sini, dan Aku tidak ingin masuk penjara di tuntut Ibumu karena tak memberimu makan hingga kau harus mati di sini,"


Jleb ....


'Apa Tuan Arka tak bisa berbicara lebih halus dan menyenangkan hati dari pada sekarang?' batinku mulai mengeluarkan tanya setelah mendengar ucapan Tuan Arka.


Tuan Arka memang bisa membuat darah setiap orang yang ada di sampingnya naik karena emosi, meski niatnya baik memberiku makan saat kelaparan, tapi bibirnya yang pedas membuat siapapun yang mendengarnya ingin meremas bibir itu kemudian membuangnya ke tong sampah.


"Apa semua ini Tuan Arka yang menyiapkannya?" aku masih mencoba menggali sisi baik yang ku yakini masih terselip dan tertinggal juga terjepit di ujung hatinya yang ku yakini sudah membeku.


"Aku bukan pelayan yang harus menyiapkan semuanya sendiri, jangan banyak bicara ataupun bertanya! nikmati saja apa yang ada di hadapanku saat ini!" jawab Tuan Arka.

__ADS_1


'Kenapa perasaanku serba salah sih? semua yang aku lakukan dan aku katakan tak pernah benar di mata Tuan Arka,' hatiku kini berbisik ke telinga mencoba mencairkan suasana, bukannya cair, Tuan Arka malah kembali menyeprotku dengan kata-kata menyebalkan itu.


__ADS_2