
"Hebat? ini hanya ote-ote Tania, buatnyapun mudah," sahutku yang merasa jika Tania terlalu berlebihan menilai diriku yang bisa memasak ote-ote, karena menurutku setiap wanita pasti bisa membuatnya.
"Semua yang Mbak Senja lakukan saat ini memang hebat, Mamaku tidak pernah bisa melakukan apa yang Mbak Senja lakukan, dan aku merasa sangat senang bisa bersama Mbak Senja di waktu libur seperti saat ini." Jawab Tania yang saat ini menatapku penuh rasa bahagia.
"Tapi Mbak Senja tidak sehebat Mama Tania, dia bintang terkenal, model top yang banyak penggemarnya," aku mencoba merubah fikiran Tania agar dia tidak menganggapku hebat karena menurutku Ibu dia jauh lebih hebat dariku.
"Aku tidak akan pernah mau menjadi model seperti Mama," cicit Tania, aku yang mendengar ucapan Tania merasa sangat terkejut, bagaimana mungkin Tania bisa membenci profesi Ibunya yang menurutku sangat membanggakan itu.
"Loh, kenapa Tania bilang seperti itu?" aku tak bisa diam setelah mendengar pernyataan Tania, jiwa kepo yang terpendam dalam diriku memberontak ingin keluar.
Mendengar pertanyaan ku Tania langsung menundukkan kepala, mimik wajahnya penuh kesedihan yang ku tahu rasa sedih itu pasti sudah dia pendam cukup lama.
"Mama tidak pernah punya waktu untukku, jangankan menemaniku tidur atau bermain, bertemu pun sangat jarang, aku punya Mama tapi hidupku seperti piyatu, kasih sayang Mama sangat sulit untuk aku dapatkan," Tania mulai mengungkapkan keluh kesah yang tersimpan dalam hatinya.
Mendengar keluh kesah Tania membuatku terdiam seribu bahasa mengingat keputusanku untuk bekerja lebih dulu dan mengundur rencana pernikahan ku dengan Sam.
"Kamu yang sabar Tania, Mama Tania bekerja juga untukmu, semua dia lakukan demi kebahagiaan Tania," aku masih berusaha membuat Tania mengerti jika Sang Mama bekerja untuk memenuhi segala yang Tania butuhkan.
"Uang Papa tidak akan habis jika hanya untuk diriku, Mama memang tidak pernah menyayangiku, bahkan kehadiranku adalah kesalahan yang harus di lupakan," ucapan Tania kali ini cukup membuatku bingung sekaligus merasa terenyuh, anak sekecil Tania bisa mengerti dan mengatakan banyak hal padaku, sungguh sangat mengejutkan.
"Maksud Tania apa?" tanyaku yang kembali merasa penasaran dengan perkataan Tania.
"Tania!" suara Tuan Arka terdengar mengalihkan pandangan kami berdua.
"Iya, Papa," sahut Tania.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya Tuan Arka.
"Astaga Papa, aku lupa, Mbak Senja sudah membuat ote-ote kesukaan Papa, Mbak mana tadi ote-ote nya,?" Tania yang terlihat mengingat tujuan dia datang ke dapur langsung mencari keberadaan ote-ote yang baru saja matang, dan aku yang mendengar suara Tania langsung berjalan menuju penggorengan di mana tadi aku menaruh makanan yang sudah aku buat.
__ADS_1
"Ote-ote nya cuma ada empat, biar Mbak Senja buatkan lagi," ujarku.
"Tidak usah Mbak, jni sudah cukup," jawab Tania yang langsung membawa ote-ote yang baru matang menuju ruang tamu.
Aku tidak menyangka jika Tuan Arka yang notabennya orang tajir melintir malah suka ote-ote yang ku tahu makanan rakyat biasa sepertiku, Tania terlihat begitu girang saat menyuguhkan ote-ote buatanku dan aku begitu senang melihatnya.
"Enak kan, Pa?" tanya Tania saat melihat sang Papa melahap ote-ote yang tadi dia bawa.
"Lumayan," jawab Tuan Arka yang cukup membuatku sedikit jengkel, kenapa harus bilang lumayan? Kenapa gak langsung bilang enak aja? dasar Tuan ngeselin, gak tau apa kalau buat cemilan itu juga butuh energi.
"Ini enak, Pa," bela Tania yang tak bisa menerima jawaban sang Papa yang menurutnya tak sesuai dengan kenyataan.
Tania dan sang Pap terlihat begitu menikmati camilan murah meriah yang tadi aku buatkan, melihat keakraban keduanya membuatku terenyuh, sungguh Tuan Arka yang ku lihat saat ini sangat berbeda dengan Tuan Arka yang biasa aku lihat di kantor.
"Terima kasih, Mbak Senja, hari ini aku sangat senang," ujar Tania sambil memelukku dengan erat.
"Iya, sama-sama, Mbak juga senang bisa bersama dengan Tania," jawabku membalas pelukan Tania.
"Hati-hati di jalan Tania," sahutku seraya membalas lambaian tangan Tania yang menoleh ke belakang. Tepat di mana aku berada.
Suasana yang tadinya ramai berubah menjadi hening, aku terdiam memikirkan apa yang telah terjadi, hingga fikiranku tertuju pada Sam yang tadi berpamitan pulang lebih dulu.
'Apa yang sebenarnya terjadi pada Sam ya?' batinku yang langsung tertuju pada Sam.
Aku langsung berdiri kemudian berjalan menuju dapur kudian kembali membuat ote-ote untuk Sam.
"Kali ini aku yang akan datang ke rumahnya," ujarku penuh semangat berniat membawakan ote-ote untuk Sam.
Cukup lama aku berkutat dengan penggorengan di dapur. Hingga semua adonan ote-ote yang tadi aku buat matang.
__ADS_1
"Siap," seruku dengan penuh rasa bahagia setelah melihat semua adonan ote-ote matang.
Aku langsung berjalan menuju kamar untuk bersiap pergi ke rumah Sam, jaran antara rumahku dan Sam tidak terlalu jauh, bisa di bilang Sam adalah pacar lima langkah karena jarak antara rumahku dan rumah Sam melewati lima rumah yang memang memiliki lahan cukup puas hingga terlihat sedikit jauh.
Aku terbiasa menggunakan sepeda mini jika pergi ke rumah Sam. Sejak dulu hingga saat ini, dengan penuh semangat aku berjalan menuju rumah Sam dengan ote-ote hangat yang ku simpan di keranjang depan.
"Assalamu'alaikum," ucapku berharap Sam ada di dalam rumah.
"Waalaikum salam, tunggu sebentar!" sahut seorang wanita tua yang aku tahu itu asisten rumah tangganya.
"Mbok," sapaku saat asisten rumah tangga Sam sudah ada di depanku.
"Oh, Neng Tania, ayo silahkan masuk!" Mbok Sang asisten tak bertanya aku datang untuk menemukan siapa, dia malah langsung menyuruhku masuk ke dalam rumah.
"Aku sedang mencari Sam, apa dia ada di dalam Mbok?" tanyaku.
"Den Sam baru saja pulang, dia ada di dalam, silahkan masuk! biar Mbok panggilkan."
Aku yang mendengar Mbok asisten rumah tangga Sam yang mengatakan jika Sam ada di dalam langsung masuk dan duduk manis di kursi menunggu Sampai datang.
"Senja," suara Sam terdengar begitu lembut di telingaku, membuat hatiku semakin senang karenanya.
"Sam," sahutku mengalihkan pandangan ke arah Sam yang kini berjalan mendekat ke arahku.
"Sudah lama menungguku?" tanya Sam.
"Tidak, aku baru saja sampai," jawabku.
"Oh ya, aku membuatkanmu ini," dengan senyum yang mereka aku memberikan ote-ote yang tadi sudah aku buat.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Sam dengan senyum yang terlihat tulus di wajahnya.
"Bukalah!" jawabku dengan senyum yang tak kalah tulis dan manis dari senyum Sam yang terlihat saat ini.