
Sepanjang perjalanan aku tak bisa berhenti memikirkan apa yang baru saja terjadi, bagaimana mungkin Tuan Arka yang tampan dan tajir itu memintaku menikah dengannya? sedang aku bisa pastikan jika masih ada sejuta gadis yang rela antri agar bisa menikah dengannya, meskipun statusnya duda anak satu, tetap saja dia seorang bos yang memiliki banyak cuan.
"Jangan suka melamun di sini! ada banyak hantu yang siap masuk ke dalam tubuhmu jika kau terus melamun," suara Reyhan menyadarkan Fatimah dari lamunan yang bahkan tidak dia sadari.
"Rey, kamu sedang apa di sini?" pertanyaan konyol yang seharusnya tidak terdengar di telinga Reyhan.
"Are you okey Senja?" kenapa kamu jadi linglung seperti itu setelah keluar dari ruangan Pak Bos?" selidik Reyhan yang kini memperhatikan ekspresi wajahku yang entah seperti apa.
"IM okey Rey," jawabku yang kini langsung tersenyum mencoba memberi tahu kepadanya jika aku baik-baik saja, karena sebenarnya tubuhku memang baik-baik saja, hanya mentalku sedikit terganggu, percayalah! di ajak menikah oleh duren tajir plus tampan juga bos di tempat kerja tanpa di duga adalah hal yang paling mengejutkan bagiku.
"Are you sure?" sekali lagi Reyhan mencoba meyakinkan dirinya jika jawaban yang aku berikan adalah jawaban yang sebenarnya.
"Sure, kenapa sih tanyanya gitu amat?" aku yang merasa jika Reyhan sedang mengintrogasiku memilih untuk balik bertanya agar Reyhan tak terus-terusan bertanya padaku.
"Bibirmu mengatakan jika kamu baik-baik saja, tapi berbeda dengan ekspresi wajahmu yang terlihat begitu tertekan saat ini," ujar Reyhan yang membuatku merasa bingung dan sedikit kalut, bagaimana mungkin ekspresi wajahku berubah.
Tanpa menanggapi Reyhan ataupun menggubris keberadaan Reyhan aku berjalan cepat menuju toilet mencoba mengecek apa yang baru saja di katakan oleh Reyhan adalah kebenaran. Sedang Reyhan terdengar tertawa di tempatnya.
"Apa iya ekspresi wajahku seburuk itu?" gumamku sambil berkaca di toilet.
"Tapi tidak ada yang berubah, ah mungkin Reyhan hanya menggodaku," sambungku yang kini lebih memilih untuk kembali merapikan rambut dan baju seragam yang menempel di badanku kemudian berjalan keluar dari kamar mandi untuk kembali bekerja dan melanjutkan tugas yang sempat terbengkalai tadi.
__ADS_1
Waktu terus bergulir hingga jam pulang kerja pun tiba, aku selalu merasa senang dan bahagia ketika jam pulang kerja telah tiba, aku bisa bebas dari pekerjaannya sebenarnya sedikit membelenggu dan mengekang diriku, tapi apalah dayaku yang membutuhkan uang untuk kehidupanku.
"Syukurlah aku bisa gajian bulan ini, membelikan apapun untuk ibu dan membantunya memenuhi kebutuhan hidup kita," ujarku sambil menatap angka nol yang tertera di kartu ATM ku, Tuan Arka benar-benar baik, meski dia menjadi orang yang selalu memaksa kehendaknya sendiri, tetapi setidaknya dia selalu menepati janji.
Aku yang merasa begitu bahagia setelah mengecek dan mengambil beberapa lembar uang dalam mesin atm-ku, dengan langkah ringan aku mencari transportasi yang mungkin bisa aku gunakan untuk pulang.
Tin ... Tin ... Tin ....
Suara klakson mobil mengejutkan aku yang tengah melamun ditepi jalan, sungguh mobil yang tidak ingin aku lihat kini terparkir indah tepat di hadapanku.
'bukankah ini mobil Tuan Arka?' paling aku mulai menerka siapa mobil mewah yang kini berada di hadapan.
"Masuklah!" Belajar saja setelah kaca mobil terbuka nampaklah Tuhan Arka dengan santainya duduk di jok bagian tengah mobil, dia selalu saja memerintah dan menyuruh orang lain sesuka hatinya dan hal itu sudah mulai menjadi kebiasaan yang kini telah menjadi hal biasa dalam hidupku.
"Masuk atau aku akan memecat mudah ibu," ancaman yang sangat sering aku dengar tapi entah mengapa aku selalu takut dan tak memiliki kekuatan untuk melawannya ketika aku mendengar ancaman itu.
Kakiku yang sejak tadi enggan untuk melangkah kini mulai kupaksakan untuk melangkah masuk ke dalam mobil tuan Arka yang masih terparkir di hadapanku, kenapa Tuan Arka harus menghantui hidupku? Kenapa dia tidak mencari Kristen yang jauh lebih cantik dan lebih kaya juga lebih berkelas dari pada aku, kenapa juga harus diriku? Pertanyaan demi pertanyaan selalu saja muncul dalam benakku tanpa bisa aku ungkapkan, rasa takut akan kehilangan pekerjaan dan bayangan ibuku yang akan menderita, membuatku spontan memilih diam dan mengikuti setiap perintah yang diberikan oleh Tuan Arka.
"Jalan!" titah Tuan Arka.
"Kita mau ke mana, Tuan?" Tanya aku saat melihat mobil yang aku tumpangi berjalan tidak sesuai dengan arah jalan menuju ke rumahku.
__ADS_1
"Temui Ibumu dan katakan semua yang aku katakan tadi!" Tuan Arka kembali memberi perintah.
"Bukankah Tuan masih memberiku waktu tiga hari untuk memikirkan dan mengabulkannya dengan ibu?" Tanyaku saat mendengar Tuhan akan memberikan sebuah perintah yang bertolak belakang dengan kesepakatan yang aku dan dia sepakati tadi.
"Aku berubah pikiran, katakan pada Ibumu sekarang! dan berikan jawabanmu lusa!" Perintah yang benar-benar membuatku jengkel juga bingung tapi tak mampu aku lawan ataupun aku tolak, aku hanya bisa diam sambil mengikuti apapun yang dia inginkan.
"Selamat datang, Tuan," suara Ibuku terdengar dan kini dia berdiri tepat di belakang pintu setelah membukakan pintu untuk Tuan Arka. Sedang Tuan Arka berjalan acuh meninggalkannya.
"Siapkan baju gantiku, Senja!" titah Tuan Arka sebelum dia pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
"Lah, kenapa jadi aku yang harus menyiapkan bajunya? Aku bukan asisten rumah tangga di sini dan aku bukan asisten pribadinya juga," gerutuku saat mendengar perintah aneh yang diberikan oleh Tuan Arka.
"Senja, kenapa kamu bisa ada di sini, Nak?" Tanya ibuku yang langsung berjalan mendekati arahku saat melihat aku berdiri mematung di tengah pintu.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Ibu," jawabku yang merasa harus menyelesaikan semua masalah yang sebenarnya timbul dari Tuan Arka.
"Ada apa? Ada masalah? Dan kenapa Tuan Arka menyuruh kamu untuk menyiapkan bajunya?" Ibu langsung memberondongiku dengan beberapa pertanyaan yang memang wajar ditanyakan oleh seorang ibu,
"Bu, ikutlah denganku! ada yang ingin aku katakan padamu," aku yang ingin segera menyelesaikan masalah pernikahan ini memilih untuk langsung memberitahukan kepada Ibu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Arka.
"Ada apa, Nak?" Ibu terus ucapannya saran dengan sikapku saat ini.
__ADS_1
"Bu, Tuan Arka memintaku untuk menikah dengannya, jika aku tidak menyetujuinya, maka pekerjaanku dan pekerjaanmu akan terancam," jelaskan sambil menundukkan kepala.
"Apa? Menikah? Kenapa tiba-tiba Tuan Arka ingin menikahimu? Bukankah perceraiannya dengan Nyonya Angel belum selesai?" Ibu kembali menghujaniku dengan beberapa pertanyaan yang aku sendiri pun tidak bisa menjawabnya.